Sejarah dan Keunikan Masjid Shirathal Mustaqiem di Samarinda
Masjid Shirathal Mustaqiem merupakan salah satu masjid tertua yang berada di Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Berlokasi di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang, masjid ini memiliki sejarah panjang yang menggambarkan transformasi luar biasa dari kawasan maksiat menjadi pusat syiar Islam.
Nama jalan Pangeran Bendahara diambil dari nama pendiri masjid. Kawasan ini dulu dikenal sebagai Kampung Mesjid, dan kini menjadi bagian penting dari sejarah kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. Masjid Shirathal Mustaqiem didirikan sekitar 135 tahun lalu, oleh seorang ulama bernama Habib Abdurachman bin Muhammad Assegaf atau dikenal juga dengan nama Pangeran Bendahara.
Dari Kampung Maksiat ke Pusat Syiar Islam
Dulunya, kawasan ini tidak layak disebut sebagai tempat untuk melantunkan doa. Sabung ayam, perjudian, dan praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai agama pernah menjadi aktivitas harian masyarakat setempat. Perubahan besar dimulai ketika seorang ulama sekaligus saudagar keturunan Arab bernama Said Abdurachman bin Assegaf datang. Ia berasal dari Pontianak dan awalnya hanya berniat berdagang menyusuri jalur perdagangan pesisir Kalimantan.
Kapalnya berlabuh di wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura, tepatnya di Samarinda Seberang. Namun, niat berniaga itu perlahan berubah menjadi panggilan dakwah. Dengan pendekatan humanis dan keteladanan akhlak, ia merangkul masyarakat yang kala itu lekat dengan kebiasaan negatif. Ia tak datang dengan paksaan, melainkan dengan kesabaran dan ilmu.
Diangkat Sultan Kutai, Diberi Amanah Besar
Kabar tentang keberhasilannya membawa ketenangan dan perubahan moral sampai ke telinga Sultan Kutai saat itu, Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Pada 1880, sang ulama diangkat sebagai Kepala Adat dan Agama Samarinda Seberang serta dianugerahi gelar Pangeran Bendahara. Bagi Said Abdurachman, jabatan itu bukan simbol kekuasaan, melainkan amanah untuk memperluas syiar Islam.
Dibangun di Atas Bekas Arena Judi
Setahun kemudian, pada 1881, ia mewujudkan gagasan besar: membangun masjid sebagai pusat pijakan spiritual masyarakat. Masjid itu didirikan tepat di lahan yang dulunya kerap menjadi arena perjudian—sebuah simbol pembersihan moral secara nyata.
“Sebelum masjid berdiri, lokasi ini merupakan tempat maksiat. Judi, sabung ayam, minuman keras dan lain sebagainya. Siang dan malam masyarakat seperti itu. Beliau (tekun) berdakwah dengan lemah lembut, pelan-pelan, artinya hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun berganti, Allah SWT memberikan kesadaran kepada masyarakat ini untuk bertaubat,” kata H Sofyan, pengurus masjid.
Gaya Arsitektur Tropis Khas Kalimantan
Secara keseluruhan bangunan memiliki gaya arsitektur tropis khas Kalimantan, terlihat dari penggunaan kayu ulin sebagai material utama. Kayu ini digunakan mulai dari pondasi, dinding, pintu, balok, rangka atap, kusen, lantai serta pagar bangunan utama masjid.
Pintu dan jendela terbuat dari kayu dengan pengaturan sirkulasi udara secara silang, sehingga suhu dalam bangunan terasa sangat nyaman dan sejuk. Pencahayaan alami juga tampak optimal, sehingga sama sekali tidak memerlukan lampu di siang hari.
Filosofi dalam Setiap Detail Bangunan
Sofyan menjelaskan filosofi pada tiap detail bangunan. “Atap masjid dibuat empat tingkatan. Setiap tingkat melambangkan tahapan hamba mencapai derajat tertinggi mendekat pada Allah SWT. Tingkat pertama syariat, kedua traikat, ketiga hakikat dan keempat makrifat.”
Warna pada masjid juga memiliki makna. Putih lambang kesucian, hijau lambang keberanian menumpas kemaksiatan menjadi kebenaran, dan kuning merupakan warna kemuliaan dan keramat.
Menara Segi Delapan yang Memancarkan Aura Sejarah
Awal masjid berdiri, bangunan tersebut ini tidak mempunyai menara. Menara baru dibangun setelah 10 tahun kemudian, tahun 1901 oleh pria asal Belanda bernama Henry Dasen yang telah memeluk agama Islam. Bentuk menara sendiri tampak segi delapan dengan ketinggian dari permukaan tanah hingga puncak atap sekitar 21 meter dan bertingkat empat, masing-masing tingkat dihubungkan dengan tangga naik.
Mushaf Al Quran Tertua
Masjid Shirathal Mustaqiem juga menyimpan kitab Al-Qur’an tertua. Sofyan memperkirakan mushaf Al-Qur’an yang disimpan di masjid ini telah berusia lebih dari 300 tahun. Kitab ini ditulis dengan tangan dan masih dipertahankan di masjid karena amanah dari pemberi wakaf.
Penghargaan dan Pelestarian Budaya
Atas keunikannya, Masjid Shirathal Mustaqim meraih anugerah sebagai peserta terbaik kedua di Festival Masjid Bersejarah Se-Indonesia pada tahun 2003. Selain itu, masjid ini juga dilindungi Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 sebagai bangunan cagar budaya.
Pelestarian budaya tetap dijaga oleh para pengelola masjid. Pada bulan Ramadhan, masjid akan menggelar buka bersama dengan menyajikan makanan khas, seperti Bubur Pica, hasil dari gotong royong warga sekitar.





