Mengenal Pola Asuh Snowplow Parenting
Belakangan ini, banyak jenis pola asuh yang muncul di kalangan orangtua. Istilah-istilah seperti tiger parenting, helicopter parenting, lighthouse parenting, hingga snowplow parenting kini semakin dikenal. Hal ini terjadi karena perbedaan generasi dan akses informasi yang lebih mudah bagi para orangtua tentang kesehatan psikologis dan fisik anak. Orangtua kini berlomba-lomba untuk mengasuh anak dengan cara terbaik menurut mereka.
Salah satu pola asuh yang sering dibicarakan adalah snowplow parenting. Pola ini dinamai sesuai dengan cara orangtua yang ikut campur dalam kehidupan anak, mirip dengan alat pembersih salju yang membersihkan jalan agar bisa dilewati tanpa kesulitan.
Apa Itu Snowplow Parenting?
Snowplow parenting merupakan salah satu pola asuh yang banyak ditemukan di beberapa keluarga belakangan ini. Kata “snowplow” berasal dari bahasa Inggris yang berarti alat pembersih salju. Seperti namanya, orangtua pada jenis pola asuh ini sering kali ikut campur dalam menyingkirkan segala rintangan yang bisa menghalangi anak mereka untuk sukses atau mendapatkan keinginannya.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh artikel The New York Times berdasarkan skandal penerimaan mahasiswa baru pada tahun 2019 lalu. Sejak itu, istilah ini mulai populer di kalangan orangtua.
Muncul Karena Kecemasan Orangtua yang Berlebihan

Terdapat satu jenis pola asuh yang mirip dengan snowplow parenting, yaitu helicopter parenting. Orangtua yang menerapkan helicopter parenting biasanya merasa sangat bertanggung jawab atas kesuksesan dan kegagalan anak mereka, sehingga mereka akan terus mengawasi perkembangan si Anak.
Pada snowplow parenting, selain mengawasi anak, orangtua juga terlibat langsung dalam memecahkan masalah anak. Mereka memiliki kecemasan berlebihan terhadap masa depan anak, sehingga cenderung menghilangkan segala rintangan yang bisa menghambat kesuksesan anak.
Hal ini bisa terjadi karena orangtua merasa khawatir anak tidak akan mendapat apa yang mereka inginkan atau mengalami kegagalan dalam hidupnya. Rasa khawatir ini juga bisa muncul dari pengalaman masa lalu orangtua yang pernah gagal, sehingga mereka ingin anak mereka tidak mengalami hal yang sama.
Rasa Khawatir Akibat Media Sosial

Kini, hampir semua orangtua mencari informasi cara mengasuh anak melalui internet, termasuk media sosial. Namun, hal ini bisa menyebabkan kecemasan berlebihan yang membuat orangtua menerapkan snowplow parenting.
Informasi negatif seperti anak yang tidak meraih nilai tinggi, depresi karena tidak bisa masuk sekolah, atau berita lainnya bisa membuat orangtua merasa cemas. Mereka percaya bahwa mereka harus menghindari kejadian tersebut dengan ikut campur dalam kehidupan anak, dengan alibi menjaga masa depan anak.
Efek dari Snowplow Parenting

Pola asuh yang berlebihan pasti tidak baik. Begitu pula dengan snowplow parenting. Jika orangtua terlalu ikut campur dalam masalah anak, anak tidak akan bisa menghadapi rintangan sendiri hingga dewasa. Hal ini disebabkan karena mereka tidak pernah menyelesaikan masalah dengan kemampuan sendiri, sehingga bisa menyebabkan ketergantungan dan sifat tidak bertanggung jawab.
Beberapa dampak buruk dari snowplow parenting antara lain:
- Tidak mampu menyelesaikan tugas secara mandiri: Anak yang terbiasa dimanjakan tidak akan bisa mengerjakan tugas sendiri. Kebiasaan orangtua yang selalu menghilangkan rintangan membuat anak sulit menghadapi masalah sendirian.
- Sulit memecahkan masalah: Anak yang terbiasa orangtua menyelesaikan masalahnya akan kesulitan saat menghadapi tantangan sendiri, seperti kesulitan belajar atau beradaptasi di lingkungan baru.
- Kurang percaya diri: Anak yang diasuh dengan snowplow parenting sering kali tidak percaya diri karena tidak pernah menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka. Mereka takut melakukan sesuatu karena takut hasilnya tidak bagus.
Cara Menghindari Snowplow Parenting

Orangtua dapat menghindari snowplow parenting dengan beberapa langkah berikut:
- Mengontrol kecemasan: Orangtua perlu belajar mengelola rasa khawatir mereka agar tidak terlalu mengganggu pengasuhan anak.
- Fokus pada pencapaian jangka panjang: Orangtua sebaiknya memperhatikan perkembangan anak secara keseluruhan, bukan hanya hasil instan.
- Percaya kepada anak: Orangtua harus percaya bahwa anak mampu menghadapi masalah sendiri.
- Terbuka dengan anak: Membuka komunikasi dengan anak agar mereka bisa berbagi masalah yang mereka hadapi.
- Menanyakan cara anak menghadapi masalah: Orangtua bisa memberi ruang bagi anak untuk berpikir dan mencari solusi sendiri.
Itu dia lima fakta tentang snowplow parenting yang perlu diketahui orangtua. Sebagai orangtua, kita boleh membantu anak menyelesaikan masalah, tetapi jangan sampai membuat anak lari dari tanggung jawab atau terlalu dimanjakan.





