Laporan Penyekapan Putri Penulis ke Polda Metro Jaya
Ilma Sani Fitriana (33), putri dari seorang penulis bernama Ahmad Bahar, telah melaporkan dugaan penyekapan yang dialaminya ke Polda Metro Jaya. Terlapor dalam kasus ini adalah Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, Hercules Rosario Marshal, serta anggota GRIB Jaya lainnya. Laporan tersebut dibuat pada Jumat (22/5/2026), dan diterima oleh Polda Metro Jaya dengan nomor LP/B/3679/V/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 22 Mei 2026.
Kuasa hukum Ilma, Gufroni, menyatakan bahwa selain melaporkan Hercules, kliennya juga melaporkan anggota GRIB Jaya yang diduga menjemput paksa dirinya. Dalam laporan tersebut, ia menuduh adanya dugaan peretasan WhatsApp milik Ilma Sani Fitriana. Gufroni mengungkapkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh pihak GRIB Jaya sudah masuk dalam ranah tindak pidana, termasuk penyanderaan, penculikan, ancaman verbal, penggunaan senjata api, dan berbagai bentuk tindakan lainnya.
Menurut Gufroni, dugaan penyekapan dimulai dari pengepungan rumah, kemudian dilanjutkan dengan penculikan dan penyanderaan. Peristiwa itu terjadi di Kantor GRIB Jaya pusat. Bahkan, Ilma disebut mendapatkan kekerasan verbal, diancam, dan ditodong dengan senjata api. Ia mengungkapkan bahwa di lokasi tersebut, ada ancaman bahwa Ilma akan dipenjara, serta diperlihatkan pistol untuk menakuti-nakuti.
Gufroni menambahkan bahwa pihaknya memiliki bukti tangkapan layar terkait dugaan peretasan terhadap WhatsApp milik Ilma. Menurutnya, peretasan tersebut menjadi akar masalah yang membuat Hercules marah besar. Ia menyatakan bahwa pesan WhatsApp tersebut seolah-olah berasal dari klien mereka, padahal tidak.
Sang Ayah Tidak Terima dengan Perlakuan Hercules
Meskipun telah berdamai dengan GRIB Jaya terkait polemik konten di media sosial, Ahmad Bahar mengaku tidak terima dengan perlakuan Hercules terhadap putrinya. Ia mengatakan baru mengetahui peristiwa yang dialami putrinya pada Senin (18/5/2026) malam. Ahmad Bahar menyebut tindakan anggota GRIB Jaya yang membawa anaknya dari rumahnya di Depok untuk mengklarifikasi soal video yang diduga membuat Hercules murka sebagai penyanderaan.
Ahmad Bahar mengungkapkan bahwa putrinya, Ilma, berada di Markas GRIB Jaya Kedoya selama enam jam dari waktu Maghrib hingga pukul 23.00 WIB. Namun, hanya 30 menit terakhir yang digunakan untuk berhadapan langsung dengan Hercules. Menurut pengakuan Ilma, semua orang yang ada di lokasi berdiri termasuk anaknya. Saat ditanya-tanya oleh Hercules, Ilma dikeremuni oleh anggota GRIB Jaya dan menjadi satu-satunya perempuan di sana. Bahkan, Ilma sempat menangis karena anggota Hercules menyebutkan hari ulang tahunnya.
Ahmad Bahar menyatakan bahwa hal tersebut merupakan dugaan kekerasan verbal yang sangat memengaruhi harga diri putrinya. Ia mengungkapkan bahwa putrinya belum pernah mengalami situasi seperti itu seumur hidupnya dan tentu mengalami trauma yang dalam.

Bantahan Hercules
Dalam konferensi pers di Markas GRIB Jaya, Hercules membantah tuduhan telah menyekap, memaksa kerudungnya dibuka, hingga menodongkan pistol kepada putri penulis Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana (33). Hercules mengatakan bahwa Ilma dibawa ke markas untuk dimintai klarifikasi terkait dugaan pesan ancaman yang dikirim kepada istrinya.
Menurut Hercules, pesan tersebut diduga dikirim dari nomor milik Ilma Sani Fitriana yang digunakan oleh Ahmad Bahar. Dalam pesan itu, terdapat hinaan dan tantangan untuk berdebat. Pengirim pesan disebut meminta Hercules dan anggota GRIB Jaya mendatangi sebuah alamat di Depok. Karena saat itu Hercules masih dalam perjalanan dari Indramayu menuju Jakarta, anggota GRIB Jaya lebih dulu mendatangi alamat tersebut.
Setelah tiba di lokasi, mereka menemukan rumah tersebut merupakan kediaman Ahmad Bahar. Namun, Ahmad Bahar tidak berada di tempat. Hanya ada istri dan anaknya saja. Hercules kemudian meminta Ilma Sani Fitriana dibawa ke Markas GRIB Jaya untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait nomor WhatsApp yang diduga digunakan mengirim pesan tersebut.
Hercules menegaskan bahwa tuduhan tentang kerudung yang dipaksa dibuka atau pistol yang ditodongkan adalah fitnah. Ia menyebut ada saksi mata, yaitu Pak RW, yang dapat memberikan bukti bahwa Ilma diperlakukan dengan baik. Di sana, lima anggota GRIB perempuan menemani Ilma. Hercules juga menyebut bahwa anggota GRIB sempat memberikan makanan dan obat kepada Ilma saat mengaku sedang flu dan sakit kepala.

Kesaksian Ilma Sani Fitriana
Sebelumnya, Ilma mengungkap kesaksiannya usai dibawa ke markas pusat GRIB Jaya di Jakarta Barat pada Minggu (17/5/2026). Ilma mengatakan bahwa dirinya dipaksa ikut oleh sejumlah orang yang datang ke rumahnya di Cimanggis, Depok, untuk mencari keberadaan ayahnya. Ia menyatakan bahwa awalnya hanya ada sekitar empat orang yang datang ke rumahnya, namun jumlah mereka terus bertambah hingga membuat dirinya ketakutan.
Menurut Ilma, orang-orang tersebut meminta dirinya ikut ke kantor GRIB dengan alasan menjamin keamanan situasi di rumah. Ia terpaksa ikut ke markas GRIB Jaya setelah Ketua RW dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) di wilayah tempat tinggalnya datang ke lokasi. Setibanya di Markas GRIB Jaya, Ilma diminta menunggu kedatangan Hercules yang saat itu masih dalam perjalanan.
Setelah Hercules datang, ia tetap mengatakan bahwa Ilma yang melakukan ancaman terhadap dirinya dan istrinya. Ilma menyatakan bahwa ia tidak melakukan hal itu, tetapi Hercules tetap tidak percaya. Ia juga mengaku mendapat intimidasi verbal dan sempat diminta melepas hijabnya. Dalam kesaksiannya, Ilma menyebut Hercules sempat mengeluarkan pistol dan menembakkannya sebanyak dua kali.





