Perubahan Masa Depan Industri Riset Pasar di Indonesia
Industri riset pasar di Indonesia kini sedang mengalami transformasi yang pesat, beralih dari metode manual era 90-an ke pemanfaatan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI). Dalam perjalanan ini, banyak praktisi yang telah melihat perubahan besar dalam cara kerja dan ekspektasi klien.
Founder RB Consulting, Iwan Murty, menegaskan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu produktivitas, bukan pengganti otak manusia. Meskipun teknologi berkembang pesat, intuisi, rasa penasaran, dan kemampuan menganalisis konteks secara humanis tetap menjadi kunci utama yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
Pengalaman Iwan Murty di Bidang Riset Pasar
Iwan Murty memulai kariernya pada tahun 1992 di Frank Small and Associates. Sejak kuliah, ia tertarik pada bidang marketing research, terutama dalam hal human behavior dan consumer behavior. Ketertarikan ini membawanya pada perjalanan panjang membangun berbagai agensi riset terkemuka di Indonesia.
Selama lebih dari 30 tahun, Iwan telah menyaksikan evolusi cara kerja riset yang drastis. Dari metode tradisional yang memakan waktu lama, kini ia berdiri di tengah era digital yang menuntut segala sesuatunya serba instan.
Dari Proyektor OHP ke Digitalisasi dan AI
Iwan menyebut awal 90-an sebagai era mulai terbukanya pasar riset di Indonesia. Kala itu, proses riset sangat manual dan melelahkan. Menurutnya, satu proyek bisa memakan waktu hingga empat bulan. Presentasi hasilnya pun masih menggunakan teknologi lama.
“Presentasi tahun 90-an itu masih pakai OHP, pakai lembaran transparansi. Dan saat itu, klien masih bersedia menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan hasil,” kenang Iwan.
Kini, penggunaan tablet dan platform digital telah memangkas waktu pengolahan data secara signifikan. Jika dulu data entry butuh dua minggu, sekarang dalam dua hari harus sudah tuntas. Kehadiran AI pun membawa babak baru yang memungkinkan desk research dan analisis sederhana secara instan, yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga manusia.
AI: Kawan atau Lawan bagi Peneliti?
Iwan menyebut kehadiran AI memang memunculkan kekhawatiran, terutama bagi peneliti junior. Dengan kemampuan AI melakukan analisis cepat, banyak yang bertanya-tanya apakah peran manusia akan tergantikan.
Namun, ia memberikan perspektif yang menenangkan sekaligus menantang melalui sebuah analogi sederhana. AI baginya adalah alat bantu untuk meningkatkan efisiensi, bukan pengganti otak manusia.
“AI itu seperti kalkulator. Apakah kalau Anda pakai kalkulator, matematika Anda jadi tidak bagus? Tentu tidak. AI adalah productivity tool, tinggal bagaimana kita menggunakannya untuk memicu ide-ide baru,” tutur Iwan.
Meski teknologi bisa mempercepat proses melalui tren synthetic data, Iwan menekankan bahwa kemampuan menganalisa konteks tetap harus di tangan manusia. Pengawasan ketat tetap dibutuhkan agar data yang dihasilkan tetap akurat secara humanis dan relevan dengan realitas di lapangan.
Kunci Utama: Rasa Penasaran dan ‘Mengupas Bawang’
Untuk menghadapi arus teknologi, Iwan menekankan pentingnya memiliki research mindset yang kuat melalui curiosity atau rasa penasaran. Seorang peneliti tidak boleh cepat puas dengan jawaban di permukaan. Ia memperkenalkan teknik laddering yang diibaratkan seperti mengupas bawang.
“Riset itu ada lapisan-lapisannya. Jika responden bilang sebuah konten bagus karena host-nya lucu, kita harus gali lagi: kenapa lucu itu penting? Hingga kita menemukan insight terdalam di baliknya,” jelas Iwan.
Ia menegaskan bahwa meski teknologi berubah, kebutuhan dasar klien sejak 1992 tetap sama. Klien tetap mencari insightful information yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan secara tepat waktu.
Masa Depan Riset di Indonesia
Industri riset Indonesia akan terus berevolusi seiring perkembangan teknologi. Namun, di balik setiap algoritma AI, tetap dibutuhkan intuisi manusia untuk menerjemahkan data dan memahami perilaku manusia.
Bagi Iwan Murty dan RB Consulting, menjaga keseimbangan antara kecanggihan teknologi dan kedalaman insight adalah cara terbaik untuk membantu bisnis berkembang. Di tengah derasnya arus teknologi, kemampuan membaca konteks dan menggali insight mendalam akan menjadi pembeda utama antara sekadar data dan keputusan yang tepat.




