Kehidupan Seorang Pengusaha Bawang Goreng di Karanganyar
Di sebuah rumah sederhana di Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Saryati menjalani usaha kecil-kecilan yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda berkembang. Produknya, bawang goreng bernama SW Brambang Goreng Jawa, tidak hanya menjadi pelengkap makanan, tetapi juga jadi bagian dari perjalanan panjang seorang ibu rumah tangga yang berjuang mengubah usaha rumahan menjadi bisnis yang stabil.
Awalnya, Saryati tidak pernah membayangkan akan terjun dalam bisnis bawang goreng. Awal mula datang dari seorang teman suaminya yang memiliki lahan pertanian bawang merah. Ia diberi hasil panen bawang untuk dibawa pulang. Awalnya, bawang itu hanya digunakan untuk kebutuhan dapur sendiri. Namun, pada musim panen berikutnya, ia ditawari membeli bawang merah langsung dari petani dengan harga murah. Dari situ, ia mulai membeli sedikit demi sedikit, antara lima hingga sepuluh kilogram. Awalnya, bawang mentah tersebut hanya dijual kepada tetangga sekitar rumah.
Namun, penjualan ternyata lambat. Banyak orang tidak tertarik membeli setengah atau satu kilo bawang mentah. Dari situ, Saryati memutuskan untuk belajar menggoreng bawang sendiri. Usaha kecil ini dimulai dengan modal kurang dari Rp100 ribu karena harga bawang saat itu murah. Awalnya, bawang goreng buatannya hanya dititipkan ke tukang sayur keliling dengan kemasan plastik biasa.
Masalah muncul ketika produknya ingin masuk ke toko kelontong. Minyak bawang goreng masih mengendap di dasar toples, membuatnya tampak basah dan kurang menarik. Ia lalu mencari solusi dan membeli mesin spinner kecil secara online agar minyak bisa benar-benar tiris. Dulu, ia bahkan harus menyegel toples menggunakan setrika agar rapat.
Perlahan, kualitas produknya mulai meningkat. Namun tantangan berikutnya adalah legalitas. Untuk bisa masuk ke toko besar, produknya harus memiliki izin Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT). Proses pengurusan dilakukan manual dan cukup melelahkan, karena harus bolak-balik mengikuti pelatihan keamanan pangan hingga pengecekan tempat produksi.
Setelah mengantongi izin P-IRT, tantangan baru kembali muncul. Beberapa swalayan mensyaratkan sertifikasi halal. Di tengah pandemi, Saryati aktif mengikuti pelatihan daring UMKM. Dari salah satu program Baznas, ia lolos kurasi bersama ribuan pelaku usaha lain dan mendapat fasilitas pelatihan sertifikasi halal. Proses audit dilakukan secara daring melalui video call, mulai dari bahan baku, minyak goreng, garam hingga sistem pencatatan usaha diperiksa secara detail.
Setelah sertifikat halal terbit, produk bawang goreng miliknya mulai masuk ke sejumlah swalayan lokal, termasuk Toko Guru. Dari situ, pemasaran usahanya perlahan berkembang. Meski demikian, Saryati memilih berjalan hati-hati. Ia pernah mendapat tawaran memasukkan produk ke jaringan ritel besar, namun ditolak karena sistem konsinyasi dinilai terlalu berat untuk skala usaha rumahan.
Selain pemasaran offline di Solo Raya, produk bawang goreng miliknya juga mulai dijual melalui Shopee dan media sosial. Ia mengaku belajar membuat konten secara otodidak sebelum akhirnya mengikuti pelatihan UMKM. Namun, proses digitalisasi itu juga tidak selalu mulus. Ia pernah mencoba siaran langsung di TikTok saat memperlihatkan aktivitas mengupas bawang mentah. Bukannya ramai pembeli, akun TikTok miliknya justru terkena pelanggaran hingga akhirnya diblokir permanen.
Meski begitu, ia tetap mencoba mengikuti perkembangan teknologi sebisanya. Sekarang, ia kadang belajar edit pakai AI, meskipun masih seadanya. Di tengah perjalanan usaha, berbagai pengalaman pahit juga pernah ia alami, mulai dari tertipu supplier bawang berkualitas buruk hingga modus pesanan fiktif berkedok program Makan Bergizi Gratis yang meminta puluhan kilogram bawang goreng tanpa uang muka. Pengalaman-pengalaman itu membuatnya semakin berhati-hati.
Kini, ia memiliki prinsip sendiri saat membeli bahan baku dari supplier baru: PCB atau Pantau Cocok Bayar. “Saya harus lihat langsung barangnya dulu baru berani bayar,” katanya.

Di tengah perjalanan usaha, produk bawang goreng milik Saryati pernah lolos kurasi onboarding UMKM dan ikut pameran nasional bersama Yayasan Kemala Bhayangkari di Semarang. Ia juga merupakan UMKM binaan Rumah BUMN Solo. Ia mengikuti pelatihan inkubasi dalam BRIncubator hingga produknya tercatat sebagai produk UMKM unggulan.
“Ada banyak ilmu yang saya dapat dari ikut kegiatan bersama Rumah BUMN. Mulai dari produksi, packing, pemasaran hingga digitalisasi,” ujarnya. Produknya juga beberapa kali dibawa pelanggan ke luar negeri, mulai dari pekerja migran, mahasiswa hingga jamaah haji yang menjadikannya bekal makanan.
Kontribusi Rumah BUMN Solo
Rumah BUMN Solo selama ini menjadi tempat pendampingan bagi para pelaku UMKM di Solo Raya. Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rina, mengatakan pihaknya rutin mengadakan pelatihan dan inkubasi usaha agar UMKM bisa berkembang dan memiliki daya saing.
“Kami memberikan pelatihan, pendampingan, dan inkubasi bisnis agar UMKM bisa mandiri dan mampu menjawab tantangan zaman,” jelas Condro. Program yang diberikan cukup beragam, mulai dari pelatihan pengelolaan usaha, pemasaran digital hingga workshop produk musiman seperti pembuatan takjil saat Ramadan.
Menurut Condro, seluruh pelatihan diberikan secara gratis bagi peserta. Saat ini terdapat sekitar 85.157 UMKM yang terdaftar di rumahbumn.id. Sekitar 300 UMKM di antaranya aktif dalam grup komunikasi daring Solo Raya. Jumlah pelaku usaha yang bergabung terus bertambah setelah pandemi, termasuk dari kalangan mahasiswa dan lulusan baru.
Rumah BUMN Solo juga menggandeng platform digital seperti Shopee dan Tokopedia untuk membantu pemasaran produk UMKM binaan. Selain pelatihan usaha, peserta mendapat pembekalan mengenai public speaking, pembuatan konten digital hingga editing video promosi.
“Dengan pelatihan ini, UMKM bisa tampil beda dan punya ciri khas produk yang kuat,” kata Condro. Produk UMKM binaan juga rutin diikutsertakan dalam pameran dan bazar, termasuk dalam kegiatan BRI UMKM Ekspor yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari luar negeri.
Menurut Condro, tantangan terbesar saat ini adalah membangun kesadaran pelaku UMKM agar terus belajar dan meningkatkan kemampuan usaha mereka. “Kami tidak ingin usaha mereka hanya ramai sesaat, tapi bisa bertahan dalam jangka panjang,” ujarnya.


