Perbedaan Jadwal Grebeg Besar Idul Adha 1447 H di Keraton Solo
Tradisi Grebeg Besar Keraton Surakarta kembali menjadi sorotan publik pada momentum Idul Adha 1447 Hijriah. Tahun ini, dua kubu di internal Keraton Kasunanan Surakarta berencana menggelar Grebeg Besar atau Grebeg Suro pada tanggal yang berbeda. Kubu Pakubuwono XIV Purboyo akan menggelar acara tersebut pada 27 Mei 2026, sementara kubu Pelaksana Keraton Solo KGPHPA Tedjowulan bersama Lembaga Dewan Adat (LDA) merencanakan kegiatan pada 28 Mei 2026.
Perbedaan jadwal ini menunjukkan dinamika yang masih terjadi di dalam keraton terkait pelaksanaan tradisi adat dan kewenangan kepemimpinan keraton. Kubu PB XIV menegaskan bahwa Grebeg merupakan dawuh raja, sedangkan pihak Tedjowulan menyebut tradisi grebeg lazim digelar sehari setelah Idul Adha dan mengajak semua pihak menjaga kerukunan.
Kubu PB XIV Pertanyakan Grebeg Versi Tedjowulan
Pengageng Sasana Wilapa PB XIV, GKRP Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, mempertanyakan langkah Gusti Tedjo yang menggelar upacara adat tersendiri di luar agenda yang diperintahkan raja. Menurutnya, seluruh prosesi adat keraton, termasuk Grebeg Besar dan upacara Suro, seharusnya dilaksanakan berdasarkan dawuh dalem atau perintah raja.
“Acara grebeg, gunungan, suro adalah acara keraton yang itu adalah perintah raja dawuh dalem. Dawuh dalem itu dari raja. Makanya saya bingung Gusti Tedjo bikin itu terus rajanya siapa. Kan Gusti Tedjo bukan raja,” ungkapnya saat ditemui di Talang Paten, Selasa (19/5/2026).
Gusti Timoer juga menanggapi pernyataan pihak Tedjowulan yang sebelumnya meminta agar Grebeg Besar tidak dilaksanakan sendiri-sendiri demi menjaga kerukunan keluarga besar keraton.
“Loh ya bagus. Silakan. Gabunglah bersama kita. Kita kan ada rajanya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa posisi Tedjowulan sebagai pelaksana revitalisasi budaya tidak berkaitan dengan suksesi tahta Keraton Surakarta.
“Kalau masalah beliau mendapatkan SK untuk revitalisasi pelestarian budaya, tidak menyinggung masalah suksesi. Bahkan menterinya bicara juga SK itu tidak menyentuh suksesi,” jelasnya.
Kubu Tedjowulan Tetap Gelar Grebeg 28 Mei
Sementara itu, melalui keterangan tertulis yang disampaikan juru bicara Pakoenegoro, pihak Tedjowulan memastikan tetap akan menggelar Grebeg Besar pada 28 Mei 2026. Menurut mereka, tradisi grebeg memang lazim dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Idul Adha.
“Prinsipnya, misalkan Idul Adha ditetapkan pada 27 Mei 2026, maka Gerebeg Besar akan diadakan hari berikutnya atau hari kedua Idul Adha,” jelasnya.
Keputusan tersebut disebut berdasarkan rapat yang dihadiri kerabat keraton yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat bersama sejumlah pemangku wilayah pada 12 Mei 2026 lalu.
Meski demikian, pihak Tedjowulan tetap mengimbau agar pelaksanaan Grebeg Besar dilakukan dengan damai tanpa mengedepankan ego kelompok.
“Gusti Tedjowulan memberikan arahan agar Grebeg Besar Idul Adha berjalan lancar, aman nyaman, dan damai, jangan lagi menonjolkan ego personal maupun kelompok. Keluarga Besar Keraton Surakarta harus bersatu. Tidak boleh ada gesekan dari mana pun. Jangan mengadakan Grebeg Besar Idul Adha sendiri-sendiri,” kata Pakoenegoro.
Grebeg Besar, Tradisi Sakral yang Jadi Daya Tarik Solo
Di luar polemik internal keraton, Grebeg Besar tetap menjadi salah satu tradisi budaya paling dinanti masyarakat Solo setiap Idul Adha. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu menjadi simbol hubungan erat antara keraton dan rakyat melalui prosesi kirab gunungan hasil bumi yang sarat makna filosofis.
Sejak pagi hari, kawasan sekitar Keraton Surakarta dan Alun-alun Utara biasanya dipadati masyarakat maupun wisatawan yang ingin menyaksikan langsung jalannya tradisi tersebut. Suara gamelan mengalun mengiringi langkah para abdi dalem dan prajurit keraton yang mengenakan busana adat lengkap sambil membawa gunungan menuju Masjid Agung Surakarta.
Makna Gunungan dalam Grebeg Besar
Grebeg Besar merupakan tradisi keraton untuk memperingati Hari Raya Idul Adha yang memadukan unsur budaya Jawa, religi, dan kehidupan sosial masyarakat. Prosesi utama tradisi ini adalah arak-arakan dua gunungan, yakni gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan estri (perempuan). Gunungan tersebut berisi hasil bumi, makanan, dan berbagai hasil pertanian yang melambangkan kemakmuran, rasa syukur, serta harapan keberkahan bagi masyarakat.
Kirab dimulai dari kompleks keraton menuju Masjid Agung Surakarta untuk didoakan terlebih dahulu oleh ulama keraton. Setelah doa selesai, masyarakat diperbolehkan memperebutkan isi gunungan karena dipercaya membawa berkah. Dalam hitungan menit, gunungan yang sebelumnya tampak megah biasanya langsung habis diperebutkan warga yang datang dari berbagai daerah.
Jadi Wisata Budaya Tahunan
Bagi wisatawan, Grebeg Besar menjadi salah satu agenda budaya tahunan yang menawarkan pengalaman khas Kota Solo. Selain menyaksikan kirab budaya, pengunjung juga dapat menikmati suasana kawasan keraton, mencicipi kuliner tradisional, hingga mengenal lebih dekat filosofi budaya Jawa yang masih lestari di tengah modernisasi kota.
Tradisi ini juga menjadi simbol kuatnya nilai kebersamaan, rasa syukur, serta hubungan historis antara Keraton Surakarta dan masyarakatnya. Pada tahun 2026 ini, Grebeg Besar Solo dijadwalkan berlangsung pada 27 dan 28 Mei 2026 mengikuti agenda dari masing-masing kubu Keraton Solo.
