Sejarah Lapak “Ahli Kunci Barokah” yang Berdiri Selama 36 Tahun
Lapak tua yang bertulisan “Ahli Kunci Barokah” milik Senain telah berdiri selama 36 tahun. Tempat ini berada di kawasan yang sangat dekat dengan pusat perbelanjaan modern dan dua perguruan tinggi. Meskipun usianya sudah cukup tua, lapak ini masih tetap ramai dikunjungi oleh pelanggan dari berbagai kalangan.
Senain, seorang tukang duplikat kunci, menghadapi perkembangan teknologi yang cepat. Ia menjelaskan bahwa apa pun jenis pekerjaannya, tidak lepas dari risiko, termasuk profesi ahli kunci yang ia jalani selama puluhan tahun.
Pengalaman Puluh Tahun dalam Menduplikasi Kunci
Sejak tahun 1990, Senain telah menjalani pekerjaan ini. Awalnya, ia mendapatkan tawaran dari pamannya yang merupakan seorang ahli kunci. Setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia mulai belajar menduplikasi kunci dari paman tersebut.
Pria asli Surabaya ini awalnya membuka lapak di depan Mal Royal Plaza. Namun, lapaknya terdampak gusuran karena proyek pembangunan Pasar Wonokromo pasca insiden kebakaran sekitar tahun 1989. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk pindah ke lokasi sekarang.
Duplikasi Kunci yang Cepat dan Akurat
Menurut Senain, proses duplikasi kunci bisa dilakukan hanya dalam waktu dua menit. Saat ditemui, seorang perempuan paruh baya datang ke lapaknya dan bertanya berapa lama ia harus menunggu. Senain menjawab singkat, “Dua menit.”
Tangan tua Senain kemudian cekatan mengambil potongan besi yang dicetak menggunakan mesin. Benar saja, dua menit berselang, kunci itu berhasil dibuat duplikatnya.
Hadapi Perkembangan Teknologi
Waktu terus berjalan, dan perkembangan teknologi semakin pesat. Meskipun begitu, jasa yang ditekuni Senain masih dibutuhkan di era sekarang. Pekerjaannya semakin mudah dengan dibantu mesin pencetak. Namun, Senain mengaku tidak begitu familiar dengan mesin-mesin pencetak kunci yang lebih canggih untuk duplikasi smart key dan immobilizer.
Jenis kunci yang marak diproduksi perusahaan kendaraan ternama dengan keunggulan keamanan. Senain mengatakan, “Saya enggak update karena otak saya enggak mampu, terlalu penuh pikirannya. Jadi ngerjain yang manual-manual saja. Tapi kalau ada order smart key gitu saya arahkan ke teman, nanti bagi komisi.”
Jam Kerja yang Panjang
Setiap hari, Senain berangkat dari kosnya tak jauh dari lapak sekitar pukul 09.00 WIB. Dia baru tutup pukul 22.00 WIB berbarengan dengan jam berakhirnya operasional Mal Royal Plaza. Alasannya adalah, di jam-jam menjelang mal tutup, pelanggan dari pengunjung mal kerap datang meminta jasanya.
Mulai dari kunci hilang hingga patah, semua bisa dia atasi. Namun, dalam sehari pelanggannya tidak sampai 20 orang. Tarif yang dipasang tergantung permintaan, mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 40.000.
Risiko Kriminal dan Kejadian Aneh
Apa pun jenis pekerjaan tak lepas dari risiko, tak terkecuali profesi ahli kunci yang Senain jalani. Ia mengaku beberapa kali menghadapi permintaan pelanggan yang dianggap janggal. Misalnya, suatu hari seorang pria menghubunginya untuk menduplikasi kunci gerbang. Setiba di rumah pelanggan tersebut, kunci pagar sudah dalam kondisi terbuka.
“Katanya kuncinya hilang, terus dia keluar dari pintu lalu menutup gerbang. Dia ingin saya masuk ke area rumah terus saya ditinggal katanya dia mau ngambil sesuatu di luar. Aneh ini, pikir saya, langsung saya alasan enggak bisa karena bahannya berbeda,” ujarnya.
Kesadaran akan Niat Pelanggan
Senain juga pernah diminta pelanggan menduplikasi kunci yang sudah dicetak dari sabun, tetapi akhirnya ditolak. Menurut pengakuannya, Senain mengetahui niat setiap pelanggannya sehingga bisa dihindari.
“Pernah juga ada mahasiswa ke sini duplikat tapi utang, saya juga enggak nagih. Tapi beberapa tahun kemudian dia balik lagi bayar utangnya, padahal saya sudah lupa,” ujarnya.
Membangun Keluarga dengan Keras Kepala
Meski tidak pernah merasakan duduk belajar di bangku SMA, Senain mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana dari pekerjaan ahli kunci selama puluhan tahun. Ia mengalami kegagalan dengan istri pertamanya dan memiliki dua orang anak yang harus dirawat setelah satu tahun perceraian.
“Perjuangan sekali dulu menyekolahkan anak saya yang pertama pas kuliah. Tiap hari kami makannya mi instan dan nasi supaya hemat biar bisa bayar kuliah. Soalnya harus bayar kos juga,” ungkapnya.
Kini, anaknya telah bekerja di sebuah perusahaan. Tetapi, tetap membantu sang ayah memenuhi kebutuhan hidup dengan membuka jasa les privat.
Rezeki yang Tak Terduga
Dengan adanya banyak perut yang harus dikasih makan, Senain percaya bahwa setiap rezeki selalu pulang ke pemiliknya masing-masing. “Kalau pas mau bayar kos atau kuliah, ada aja rezekinya itu, pernah memperbaiki brankas kan mahal itu. Tapi kalau lagi butuh itu memang enggak terduga rezekinya dari mana,” pungkasnya.





