Penetapan Tanggal Idul Adha 1447 H/2026
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI telah menetapkan awal Zulhijah dan Hari Raya Idul Adha berdasarkan metode hisab dan rukyat, yang jatuh pada tanggal 27 Mei 2026. Penetapan ini berlaku secara serentak di seluruh Indonesia dan disepakati bersama oleh Pemerintah melalui hasil Sidang Isbat Kementerian Agama serta telah ditetapkan sebelumnya oleh PP Muhammadiyah.
Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 menjadi momen penting bagi umat Islam untuk memperkuat keimanan melalui ibadah salat Id dan penyembelihan hewan kurban. Seperti halnya Idul Fitri, pada Idul Adha, kaum muslimin melaksanakan salat sunat Idul Adha dengan tata cara yang sama, yaitu terdiri atas dua rakaat. Pada rakaat pertama, dilakukan takbir sebanyak tujuh kali, sedangkan pada rakaat kedua, takbir dilakukan lima kali saat memulai salat. Selain itu, ada juga kesunnahan lainnya, seperti khutbah seusai salat Id.
Berikut ini adalah contoh naskah khutbah Salat Idul Adha 1447 H yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 besok dengan judul “Idul Adha, Membangun Keikhlasan, Kepedulian, dan Ketakwaan”.
Khutbah 1
الحمد لله الحمد لله الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba’du.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar، ولله الحمد.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Pada pagi hari yang penuh berkah ini, kita berkumpul untuk mengagungkan syiar Islam, melaksanakan salat Idul Adha, dan mengenang kembali kisah agung Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beserta keluarganya. Kisah tersebut bukan sekadar sejarah, melainkan pelajaran besar tentang iman, keikhlasan, pengorbanan, dan kepatuhan total kepada Allah.
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Idul Adha mengajarkan bahwa jalan menuju kemuliaan tidak pernah lepas dari pengorbanan. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diuji dengan perintah yang sangat berat: menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail ‘alaihissalam, anak yang sangat dicintainya dan telah lama dinanti.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Perhatikanlah bagaimana dialog antara ayah dan anak itu dipenuhi keimanan dan ketundukan kepada Allah. Nabi Ibrahim tidak mendahulukan logika dan perasaan dibanding perintah Allah. Nabi Ismail pun tidak memberontak, melainkan bersabar dan ikhlas menerima ketetapan Rabb-nya.
Inilah keluarga yang dibangun di atas fondasi tauhid.
Hadirin rahimakumullah,
Hari ini kita mungkin tidak diperintahkan menyembelih anak kita, tetapi kita diuji dengan banyak hal:
– apakah kita lebih mencintai Allah atau harta,
– lebih memilih ibadah atau kesibukan dunia,
– lebih mementingkan akhirat atau kenikmatan sementara.
Ada orang yang mampu membeli kendaraan mewah tetapi berat berkurban. Ada yang sanggup menghabiskan waktu berjam-jam untuk urusan dunia, tetapi lalai salat berjamaah. Ada pula yang rela mengejar keuntungan dengan menghalalkan segala cara.
Karena itu, Idul Adha sejatinya adalah momentum untuk menyembelih:
– kesombongan,
– kerakusan,
– sifat kikir,
– egoisme,
– dan cinta dunia yang berlebihan.
Allah menegaskan dalam firman-Nya:
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Maka yang paling penting bukan besarnya hewan kurban, bukan mahalnya harga kurban, melainkan keikhlasan dan ketakwaan pelakunya.
Kaum muslimin yang berbahagia,
Selain mengajarkan ketakwaan, Idul Adha juga mendidik kita untuk memiliki kepedulian sosial. Ketika hewan kurban dibagikan kepada masyarakat, sesungguhnya Islam sedang mengajarkan pemerataan kebahagiaan.
Di sekitar kita masih banyak saudara-saudara yang hidup dalam kesulitan:
– ada yang kesulitan makan,
– ada yang kehilangan pekerjaan,
– ada yang terlilit utang,
– bahkan ada yang hidup tanpa perhatian dan kasih sayang.
Karena itu, semangat kurban harus melahirkan solidaritas sosial. Jangan sampai kita hidup berkecukupan sementara tetangga kita kelaparan. Jangan sampai kita sibuk memperindah rumah, tetapi lalai membantu keluarga yang membutuhkan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Idul Adha mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya ketika menerima, tetapi ketika mampu memberi.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Di zaman sekarang, tantangan umat Islam semakin besar. Kemajuan teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan berbagai ujian:
– lunturnya adab,
– maraknya fitnah,
– rusaknya moral,
– dan melemahnya hubungan kekeluargaan.
Tidak sedikit anak-anak yang lebih dekat dengan gawai daripada dengan orang tuanya. Tidak sedikit keluarga yang megah rumahnya, tetapi kosong dari tilawah Al-Qur’an dan salat berjamaah.
Karena itu, mari kita jadikan keluarga Nabi Ibrahim sebagai teladan:
– keluarga yang dipenuhi iman,
– keluarga yang taat kepada Allah,
– keluarga yang mendahulukan agama di atas kepentingan dunia.
Orang tua harus menjadi contoh dalam ibadah dan akhlak. Anak-anak harus dibimbing dengan kasih sayang dan pendidikan agama yang benar.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita jadikan Idul Adha tahun ini sebagai momentum hijrah:
– dari lalai menjadi taat,
– dari kikir menjadi dermawan,
– dari sombong menjadi rendah hati,
– dari permusuhan menjadi persaudaraan.
Semoga Allah menerima amal ibadah dan kurban kita semua.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah 2
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan menjaga semangat pengorbanan setelah Idul Adha berlalu. Jangan sampai semangat ibadah hanya hadir saat hari raya, tetapi hilang setelahnya.
Jadikan momentum ini untuk memperbaiki hubungan:
– dengan Allah melalui ibadah,
– dengan sesama melalui kepedulian,
– dan dengan keluarga melalui kasih sayang.
Mari kita doakan saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah, kesulitan ekonomi, sakit, dan berbagai ujian kehidupan. Semoga Allah mengangkat kesulitan mereka dan menggantinya dengan keberkahan.
Kita juga berdoa untuk bangsa dan negeri kita agar diberikan keamanan, persatuan, pemimpin yang adil, serta masyarakat yang hidup rukun dan damai.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.
اللهم أصلح شباب المسلمين، واحفظ أبناءنا وبناتنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن.
اللهم ارزقنا الإخلاص في القول والعمل، وتقبل منا ضحايانا وعباداتنا يا رب العالمين.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
عباد الله،
إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.
فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته



