Infomalangraya.net, JAKARTA — Vaksinasi tetap menjadi metode paling efektif dalam mencegah penyakit menular seperti campak. Namun, tren penolakan vaksin atau kampanye antivaksin mulai memengaruhi cakupan imunisasi di kalangan masyarakat.
Berdasarkan data terbaru, terjadi penurunan signifikan dalam cakupan vaksinasi campak-rubella. Cakupan dosis pertama turun dari 92 persen pada tahun 2025 menjadi 82 persen, sementara dosis kedua mengalami penurunan dari 82,3 persen menjadi 77,6 persen. Angka ini jauh di bawah standar yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebesar 95 persen, yang diperlukan untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity).
Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi dan Imunologi, menyatakan bahwa penurunan cakupan ini meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap wabah. Ia menjelaskan bahwa cakupan dosis pertama telah berkurang dari sekitar 92 persen menjadi 82 persen, sedangkan dosis kedua juga mengalami penurunan menjadi 77,6 persen, sehingga masih jauh dari target yang diperlukan untuk mencapai kekebalan kelompok.
Menurut Dr. Sukamto, salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan cakupan vaksinasi adalah ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin akibat misinformasi yang tersebar luas, terutama di media sosial. Fenomena ini membuat banyak orang ragu atau menunda proses imunisasi, padahal vaksinasi tetap lebih aman dibandingkan risiko infeksi alami.
“Keraguan terhadap vaksin karena misinformasi menjadi salah satu faktor yang membuat orang ragu bahkan menunda untuk divaksin,” tambahnya.
Selain adanya kampanye antivaksin, tingginya mobilitas masyarakat juga mempercepat penyebaran penyakit. Perpindahan antar wilayah yang mudah memungkinkan virus menyebar lebih cepat, terutama di daerah dengan cakupan vaksinasi rendah. Contohnya, beberapa daerah di Aceh sempat mengalami peningkatan kasus campak akibat kondisi ini.
Dr. Sukamto menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam menghadapi antivaksin. Edukasi yang jelas dan komunikasi efektif antara dokter dan pasien dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi hingga lebih dari 70 persen.
“Jika dokter mampu menjelaskan manfaat vaksin dengan baik, tingkat keberhasilan vaksinasi bisa meningkat signifikan. Bahkan, pasien yang awalnya menolak bisa akhirnya mau divaksin,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa edukasi harus dimulai dari tenaga kesehatan sendiri agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap akurat. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan, sehingga cakupan vaksinasi dapat kembali meningkat.
Masyarakat diimbau untuk memeriksa status vaksinasi dan berkonsultasi dengan tenaga medis. Langkah ini penting untuk memastikan perlindungan diri dan orang sekitar, serta mencegah terjadinya wabah yang dapat dihindari.





