Pembunuhan Satpam di Surabaya: Misteri di Balik Luka Tusuk dan Hilangnya Ponsel

Kasus pembunuhan yang menimpa seorang satpam berinisial DK (34) di pos jaga Jalan Sukomanunggal Jaya, Surabaya, menyisakan banyak pertanyaan bagi pihak kepolisian. Peristiwa ini terjadi pada dini hari Senin (11/5/2026), saat korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan enam luka tusuk di berbagai bagian tubuh.

Penemuan Jasad di Pos Jaga

DK, seorang warga Krembangan, Surabaya, ditemukan dalam kondisi terlentang di ruang pos jaga. Ia mengenakan seragam lengkap berwarna kuning muda, celana cokelat, dan sepatu hitam. Menurut informasi dari saksi, korban pertama kali ditemukan oleh rekan sesama satpam yang hendak berganti sif. Saksi merasa janggal karena lampu di gerbang depan, pos satpam, hingga musala masih menyala meski fajar sudah menyingsing pukul 05.00 WIB.

“Nah, (temannya) diceklah ke tempat salat itu, musala kecil di situ karena korban ini memang taat sama agama. Dicek enggak ada, kemudian beralih ke pos security. Lah kok di depannya itu ada bercadak darah, kemudian tidak dilihat ke dalamnya tergeletak korban itu. Baru lapor ke Polisi,” kata Kapolsek Sukomanunggal Kompol M. Akhyar.

Hasil Visum dan Indikasi Perlawanan

Berdasarkan hasil visum luar, korban mengalami enam luka tusuk akibat senjata tajam yang tersebar di beberapa titik mematikan. Luka tersebut terdapat di leher sebelah kanan, punggung sebelah kiri, lengan sebelah kiri belakang, sikut sebelah kiri, dada sebelah kanan, dan perut sebelah kiri.

Melihat sebaran luka tersebut, Akhyar menduga bahwa sempat terjadi pergulatan di mana korban berupaya membela diri. “Kalau dari lihat dari luka korban kelihatannya ada perlawanan, karena nangkis, nah iya (nangkis pakai siku atau lengan). Kami belum temukan info tersebut (soal korban pernah cekcok dengan orang lain),” jelasnya.

Saat kejadian, korban diketahui memang berjaga sendirian di pos tersebut sebelum jadwal pergantian sif.

Misteri Hilangnya Ponsel Pribadi

Dalam olah TKP menyeluruh, ditemukan kejanggalan pada motif pelaku. Meski DK tewas, harta benda berharga seperti dompet berisi uang serta sepeda motor korban beserta surat-suratnya tetap utuh di lokasi. Satu-satunya barang yang hilang hanyalah ponsel pribadi korban.

“Barang yang diambil, hanya handphone saja. handphone pribadi korban. Sedangkan sepeda motornya itu bagus, enggak diambil sama kunci kontaknya itu,” ujar Akhyar.

Kondisi ini membuat polisi menyangsikan motif pencurian atau penguasaan harta. “Dugaan pelakunya, Wah, enggak tahu. Kita belum belum tahu. Ini motifnya apa juga gak tahu, karena yang diambil itu hanya handphone. Kalau itu pencurian, harusnya sepeda motornya diambil sekalian. Jangan-jangan ada motif lain,” duga mantan Kasi Humas Polrestabes Surabaya tersebut.

“Kenapa kok HP tok. Jangan-jangan di dalam HP isinya rahasia,” imbuhnya.

Penyelidikan dan Kendala CCTV

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendampingi Tim Inafis Polrestabes Surabaya untuk melakukan autopsi di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Surabaya. Sebanyak lima orang saksi, termasuk pihak manajemen perusahaan, rekan sesama satpam, dan pelapor, telah dimintai keterangan.

Namun, upaya penyelidikan melalui bukti digital mengalami kendala awal. Polisi menemukan fakta bahwa area di sekitar lokasi kejadian merupakan kantor yang sudah lama kosong. “Yang jelas di situ sudah lama kantor itu tidak penghuni. Ada 6-5 tahun lah tidak penghuni. Jadi CCTV-nya tidak ada di sekitaran lokasi itu,” pungkas Akhyar.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version