Kemenangan Militer AS di Teluk Persia, Ancaman Nonkonvensional dari Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah kalah secara militer dan mengklaim operasi Washington terhadap Teheran hampir selesai. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa situasi justru berbeda. Di tengah klaim kemenangan AS, ancaman Iran terhadap jalur komunikasi dan ekonomi global semakin meningkat, terutama melalui potensi sabotase kabel bawah laut di Selat Hormuz dan Laut Merah.
Kabel serat optik bawah laut menjadi tulang punggung internet, transaksi keuangan, dan komunikasi global. Kerusakan pada kabel tersebut dapat melumpuhkan sistem digital dunia dalam waktu singkat. Meski AS mengklaim dominasi militer, negara ini justru menghadapi risiko besar dari perang asimetris Iran yang lebih sulit diantisipasi.
Klaim Kemenangan Militer yang Tidak Menjamin Keamanan
Dalam wawancara dengan jurnalis investigasi Sharyl Attkisson, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat sudah menghantam sekitar 70 persen target militer Iran dan bisa menyerang seluruh target tersisa hanya dalam dua pekan. Namun, ia juga mengakui bahwa Iran belum benar-benar habis. “Itu tidak berarti mereka sudah selesai,” ujarnya.
Selain itu, Trump kembali mengungkit “dosa” NATO yang dinilai tidak membantu operasi melawan Iran. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa meski AS mengklaim unggul secara militer, Washington tetap menghadapi keterbatasan dukungan internasional dan belum sepenuhnya mampu mengendalikan eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia.
Ancaman dari Bawah Laut
Di tengah klaim dominasi militer AS, perhatian dunia kini justru tertuju pada ancaman nonkonvensional yang dinilai lebih sulit diantisipasi, yakni keamanan kabel serat optik bawah laut. Iran memiliki posisi geografis strategis untuk menggunakan perang asimetris. Negara itu menguasai wilayah pesisir utara Selat Hormuz, salah satu jalur laut terpenting dunia yang juga menjadi lintasan utama kabel bawah laut penghubung Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.
Menurut Prakash Nanda, analis internasional sekaligus penulis di Eurasian Times, lebih dari 99 persen lalu lintas data internasional mengalir melalui kabel bawah laut. Infrastruktur tersebut menopang transaksi keuangan triliunan dollar AS per hari, layanan komputasi awan, komunikasi pemerintahan, hingga jaringan militer.
Kerusakan satu kabel saja di kawasan Teluk dapat memperlambat internet dari Mumbai hingga Frankfurt, menghambat transaksi perbankan internasional, serta mengganggu layanan rumah sakit, maskapai penerbangan, dan jaringan listrik. Ancaman itu bukan sekadar teori. Pada September 2025, sejumlah kabel bawah laut di Laut Merah dekat Jeddah, Arab Saudi, mengalami kerusakan besar yang menyebabkan gangguan internet di India, Pakistan, Uni Emirat Arab, dan sejumlah negara Timur Tengah.
Sekutu AS Makin Terjepit
Sejak Iran menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal musuh, ekonomi negara-negara Teluk Persia terpaksa masuk ke mode darurat karena ekspor energi macet dan sektor pariwisata lesu. Beberapa negara Teluk masih bisa mengandalkan dana cadangan negara yang besar atau meminjam uang untuk bertahan. Namun, Bahrain tidak punya keduanya. Meskipun penduduknya paling sedikit di Asia Barat, dana cadangan negara mereka adalah yang paling lemah di Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Bahrain juga salah satu negara dengan utang terbanyak di dunia; mereka pernah butuh dana talangan (bailout) pada 2018 dan bergantung pada intervensi militer Arab Saudi untuk memadamkan pemberontakan tahun 2011.
Kesulitan Sebelum Perang
Bahkan sebelum Selat Hormuz ditutup, Bahrain sudah dalam masalah. Cadangan minyaknya kecil, hanya 125 juta barel, sangat jauh dibanding Qatar yang punya 25 miliar barel. Padahal, minyak menyumbang 60 persen pendapatan pemerintah Bahrain. Masalah politik juga sudah lama ada. Saat pemberontakan Arab Spring 2011, kerajaan menghadapi protes besar dari warga yang marah karena diskriminasi.
Bertaruh pada Washington dan Tel Aviv
Demi menarik investasi, Bahrain memilih bergabung ke kubu Barat. Sejak 2005, mereka mulai membuka hubungan dengan AS dan Israel. Puncaknya pada 2020, mereka resmi mengakui Israel melalui Abraham Accords, diikuti dengan perjanjian keamanan pada tahun-tahun berikutnya. Ketergantungan Bahrain pada jaringan keamanan yang didukung Barat semakin terlihat baru-baru ini, ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengunjungi Manama pada 5 Mei untuk mengusulkan kerja sama drone dan pertahanan melawan serangan Iran.
Guncangan Hormuz
Sebagai tanggapan terhadap agresi Amerika dan Israel, Iran merebut kendali Selat Hormuz, melarang kapal-kapal musuh untuk menyeberang, termasuk dari negara-negara GCC Bahrain, Kuwait, Qatar, UEA, dan Arab Saudi. Arab Saudi dapat mengirimkan beberapa ekspor melalui Laut Merah. Hingga baru-baru ini, UEA dapat menggunakan jalur pipanya untuk mengekspor langsung ke Samudra Hindia. Namun Bahrain, Kuwait, dan Qatar tidak seberuntung itu. Kuwait dan Qatar tidak memiliki jalur pipa signifikan yang terhubung ke Arab Saudi.





