Fenomena Panic Buying BBM di Tengah Isu Kekurangan Cadangan Minyak
Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia mengalami kecemasan terhadap ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) akibat isu bahwa cadangan minyak dalam negeri hanya cukup untuk 20 hari. Isu ini muncul setelah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memburuk. Hal ini memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di berbagai wilayah.
Fenomena panic buying atau pembelian berlebihan BBM juga viral di media sosial TikTok. Video-video yang beredar menunjukkan antrean panjang di SPBU dan sentra-sentra penjualan bahan bakar. Salah satu video yang viral berasal dari pengguna TikTok @owner_ranisflorist, yang menunjukkan warga Aceh Tengah antre untuk membeli BBM meskipun masih pagi buta. Caption video tersebut menyebutkan bahwa efek perang Iran dan Amerika-Israel membuat warga mulai memburu bahan bakar.
Warga di Bangka Antre Berburu BBM
Selain di Aceh, antrean panjang juga terjadi di Kepulauan Bangka. Unggahan dari akun Satlantas Polres Bangka di TikTok menunjukkan petugas kepolisian mengawal penjualan BBM di salah satu SPBU. Dalam unggahannya, mereka menyayangkan fenomena panic buying yang terjadi di tengah masyarakat.
Tindakan membeli BBM secara berlebihan dinilai merugikan masyarakat lain yang membutuhkan bahan bakar untuk aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan, serta tidak melakukan penimbunan. Mereka juga menyoroti dampak negatif dari fenomena ini, seperti antrean panjang, kemacetan di sekitar SPBU, hingga potensi gangguan keamanan dan ketertiban lalu lintas.
Stok BBM Nasional Masih Aman

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa stok BBM nasional masih dalam kondisi aman dan di atas standar minimal ketahanan energi yang ditetapkan pemerintah. Ia mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying BBM di tengah maraknya isu pasokan BBM hanya tersisa sekitar 20 hari akibat penutupan Selat Hormuz.
Bahlil menjelaskan bahwa kapasitas penyimpanan atau storage BBM Indonesia sejak lama berkisar 25 hari. Kondisi ini bukan hal baru dan telah menjadi karakteristik sistem cadangan energi nasional. “Dari dulu kemampuan storage tempat penampung minyak kita memang sekitar 25 hari,” ujarnya saat ditemui di Jakarta.
Pemerintah Cari Alternatif Impor Minyak Mentah

Bahlil juga menjelaskan bahwa impor minyak mentah Indonesia dari kawasan Timur Tengah hanya sekitar 20 hingga 25 persen dari total kebutuhan. Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) telah menyiapkan sumber alternatif apabila terjadi gangguan pasokan dari kawasan tersebut.
Pasokan minyak mentah kini dialihkan dari Timur Tengah ke sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat, Nigeria, dan Brasil. “Kami dengan Pertamina sudah switch (berganti) dari Middle East kami ambil di Amerika, kemudian Nigeria, dan Brasil. Jadi tidak perlu ada panic buying,” ujar Bahlil.
Adapun impor bensin Indonesia tidak berasal dari Timur Tengah, melainkan dari Singapura dan Malaysia, selain juga diproduksi dari kilang domestik. Dengan kondisi tersebut, pemerintah memastikan pasokan energi nasional tetap terjaga meskipun terjadi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Impor bensin kita itu dari Singapura sama Malaysia, dan sebagian dibangun industri kilang dalam negeri. Jadi, Insya Allah sekalipun terjadi peperangan di Timur Tengah, kondisi kita aman dan sekali lagi saya katakan aman. Jadi nggak perlu, jangan dengar ada provokasi-provokasi atau misinformasi yang keliru. Insya Allah aman,” kata Bahlil.
Kesimpulannya, faktanya, pemerintah memastikan stok BBM nasional memang cukup untuk 20 hari kedepan karena penyimpanan atau storage BBM memang berkisar 25 hari. Sehingga kondisi ini aman dan di atas standar minimal ketahanan energi yang ditetapkan pemerintah.





