Peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru
Peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Senin (12/1) berlangsung dengan penuh emosi. Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf tidak kuasa menahan air mata saat menyampaikan rasa haru atas capaian Sekolah Rakyat dalam enam bulan terakhir. Emosi yang tak terbendung itu akhirnya berakhir dengan momen pelukan hangat dari Presiden RI Prabowo Subianto. Presiden tampak menenangkan dengan menepuk-nepuk pundaknya usai turun dari panggung.
Dalam sambutannya, Mensos mengaku bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari sejarah. Di mana, anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem bisa bersekolah dengan gratis. Bukan hanya itu, mereka bahkan mendapat fasilitas yang sangat memadai di asrama dan sekolah. “Ini saya anggap sejarah, Bismillahirrahmanirrahim, kami ingin memastikan gagasan ini dikenang sebagai peristiwa sejarah,” ujarnya.
Usai menyampaikan hal tersebut, ia pun tampak tertunduk. Suaranya bergetar saat melanjutkan sambutannya. Dia menyebut, harapan mungkin tidak diwariskan dari masa lalu. Tapi bisa disiapkan saat ini untuk masa depan. Sehingga, ke depan, anak-anak Indonesia bisa menyongsong masa depan cerah. “Dan kelak ketika anak-anak di tepian sungai, lereng, bukit, dan sudut-sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan.. Di masa itu, pernah ada seorang presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat,” tuturnya sambil menyeka air mata.
“Presiden itu adalah Jenderal TNI Purnawirawan Prabowo Subianto,” sambungnya terbata. Usai mengucapkan kalimat tersebut, menteri yang akrab disapa Gus Ipul itu menunduk sejenak sebelum mengakhiri sambutannya. Ia kemudian disambut Prabowo ketika turun dari panggung dengan memeluk sang anak buah. Presiden menepuk-nepuk pundak Gus Ipul untuk menguatkan.
Keharuan yang Menggugah Hati
Sementara, dalam kesempatan yang sama, Prabowo mengaku tak kuasa menahan haru saat mensos meneteskan air mata di panggung. Bukan lantaran bangga atas program yang digagasnya, melainkan bangga setelah melihat kebahagiaan anak-anak yang bisa bersekolah. “Mudah-mudahan kamera nggak tertuju ke saya tadi, karena saya juga sulit menahan air mata, sama dengan Mensos. Kita terharu, kita keluar air mata, karena apa? Karena bangga, karena bahagia melihat anak-anak kita,” paparnya.
Prabowo turut mengingatkan pada para siswa Sekolah Rakyat untuk tidak minder karena punya latar belakang ekonomi yang kurang mampu. Dia menegaskan, dengan pendidikan maka mereka tetap bisa memiliki masa depan yang cerah. “Jangan kau kecil hati, jangan kau malu orang tuamu hanya buruh, atau hanya petani miskin, atau hanya tukang pemulung. Jangan malu. Mereka mulia, mereka kerja keras, halal, bekerja dengan keringat untuk masa depanmu,” tegasnya.
Penyebaran Sekolah Rakyat di Seluruh Nusantara
Usai menyampaikan sambutannya, Prabowo kemudian meresmikan 166 Sekolah Rakyat yang sudah beroperasi di 34 provinsi Indonesia. Adapun sekolah-sekolah tersebut tersebar di Jawa sebanyak 70 titik, Bali dan Nusa Tenggara 7 titik, Kalimantan 13 titik, Sulawesi 28 titik, Maluku 7 titik, dan Papua 6 titik. Dengan penyebaran ini, Sekolah Rakyat menjadi salah satu inisiatif penting dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari latar belakang ekonomi yang kurang mampu.
Program ini tidak hanya memberikan kesempatan pendidikan gratis, tetapi juga memastikan fasilitas yang layak dan nyaman untuk para siswa. Hal ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam membantu masyarakat yang kurang mampu agar dapat meraih kesempatan yang sama seperti yang dimiliki oleh anak-anak dari keluarga yang lebih sejahtera.
Dengan adanya Sekolah Rakyat, diharapkan mampu memberikan dampak positif jangka panjang, baik secara sosial maupun ekonomi. Anak-anak yang mendapatkan pendidikan layak akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa.





