Indeks PMI Manufaktur Indonesia Tetap di Zona Ekspansi
Indeks Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Desember 2025 masih berada di zona ekspansi. Meski terjadi penurunan dari angka 53,3 pada November menjadi 51,2 pada Desember, PMI tetap berada di atas ambang batas ekspansi yang ditetapkan sebesar 50. Hal ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia mengalami pertumbuhan selama lima bulan berturut-turut.
Menurut laporan S&P Global, pertumbuhan yang terjadi pada Desember lebih melambat dibandingkan November. “Pertumbuhan berlanjut ke bulan kelima, meskipun laju kenaikannya melambat,” demikian disampaikan dalam laporan mereka.
Penyebab PMI Masih Berada di Zona Ekspansi
Salah satu faktor utama yang menjaga PMI manufaktur di zona ekspansi adalah kenaikan permintaan baru. Pertumbuhan manufaktur pada Desember sepenuhnya didukung oleh pasar domestik, karena permintaan ekspor terus melemah selama empat bulan terakhir.
Namun, masalah kelangkaan bahan baku menyebabkan output industri hanya tumbuh tipis. Meski demikian, ada kenaikan jumlah tenaga kerja, meskipun tidak sebesar pada November. “Sejalan dengan meningkatnya permintaan dan kebutuhan produksi, produsen menaikkan ketenagakerjaan pada Desember. Laju penciptaan lapangan kerja tergolong marginal, lebih lambat dibandingkan November.”
Tekanan Pada Kapasitas Produksi
Meskipun jumlah pekerja telah ditambah, kapasitas produksi masih kewalahan menangani lonjakan pesanan baru yang masuk. Kondisi ini menyebabkan penumpukan pekerjaan selama dua bulan beruntun.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menyatakan bahwa sektor manufaktur Indonesia menutup tahun 2025 dengan perbaikan kondisi operasional yang berkelanjutan. “Prospek tahun mendatang juga membaik, produsen menunjukkan tingkat optimisme terkuat dalam tiga bulan terakhir,” ujarnya.
Upaya Perusahaan untuk Meningkatkan Efisiensi
Berdasarkan ekspektasi positif, perusahaan berupaya meningkatkan persediaan barang untuk menjaga efisiensi proses produksi dan penyelesaian pesanan. Namun, sektor manufaktur masih dibayangi oleh inflasi biaya produksi yang signifikan.
Perusahaan juga memilih untuk membebankan kenaikan biaya kepada konsumen. Dengan kenaikan harga jual terbaru tercatat lebih kuat dibandingkan rata-rata sepanjang tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan biaya terus berdampak pada strategi bisnis perusahaan.
Tantangan dan Peluang di Tahun Mendatang
Meski menghadapi tantangan, sektor manufaktur Indonesia tetap menunjukkan tanda-tanda penguatan. Pertumbuhan yang stabil, meskipun melambat, menunjukkan kemampuan sektor ini untuk beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang dinamis.
Dengan optimisme yang meningkat dan upaya perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, peluang pertumbuhan di tahun mendatang tampaknya masih terbuka. Namun, isu inflasi biaya produksi tetap menjadi perhatian utama bagi para pelaku usaha.
Kemajuan sektor manufaktur Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko serta memperkuat daya saing di tengah tantangan eksternal yang semakin kompleks.





