Peran dan Pentingnya Grand Parent Stock (GPS) dalam Industri Peternakan Ayam

Grand Parent Stock (GPS), atau bibit nenek ayam, merupakan komponen penting dalam rantai pembibitan ayam komersial. Dalam struktur ini, GPS menjadi dasar dari pengembangan populasi ayam yang akan digunakan untuk produksi ayam pedaging maupun petelur. Seiring dengan peningkatan permintaan terhadap produk pertanian, Indonesia kini telah sepakat untuk mengimpor sebanyak 580 ribu ekor GPS dari Amerika Serikat (AS). Kesepakatan ini termuat dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang baru saja ditandatangani.

GPS adalah hasil seleksi dan persilangan dari perusahaan pembibit global seperti Aviagen asal AS, Lohmann dari Jerman, serta Cobb dari AS. Dari GPS inilah kemudian dihasilkan Parent Stock (PS), yang selanjutnya memproduksi ayam komersial baik untuk kebutuhan daging maupun telur. Dalam struktur pembibitan, GPS terdiri dari minimal empat lini yaitu Line A (male line untuk pejantan PS jantan), Line B (female line untuk pejantan PS jantan), Line C (male line untuk PS betina), dan Line D (female line untuk PS betina).

Komposisi impor biasanya tergantung pada kebutuhan line D sebagai basis. Misalnya, jika mengimpor 1.000 line D, maka line A, B, dan C akan mengikuti dalam persentase tertentu. Kebiasaan ini menjadikan line D sebagai prioritas utama dalam proses impor.

Kendala Pengembangan GPS Lokal

Sampai saat ini, Indonesia belum mampu mengembangkan GPS secara mandiri. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa GPS merupakan hasil kekayaan intelektual (KI) dari perusahaan prinsipal di luar negeri, sehingga Indonesia harus terus mengimpor setiap tahun sesuai kuota. Selain itu, sistem kontrol genetik sangat ketat. Pada line female hanya boleh berisi betina, sedangkan line male hanya berisi jantan. Jika ditemukan jenis kelamin berbeda dalam satu line, maka harus dieliminasi.

Perusahaan-perusahaan global telah melakukan uji performa selama puluhan hingga lebih dari 100 tahun, sementara Indonesia baru sekitar 15 tahun mengembangkan galur ayam unggul lokal. Meskipun demikian, peneliti Indonesia tengah berproses mengarah ke pengembangan GPS berbasis unggas lokal. Namun, upaya tersebut membutuhkan waktu panjang dan investasi riset yang berkelanjutan.

Potensi Oversupply dan Harga Impor yang Mencurigakan

Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Pardjuni menyampaikan bahwa kuota 580 ribu ekor GPS berpotensi membuat Indonesia oversupply ayam pada 2028, jika importasi sebanyak 580 ribu ekor dilakukan tahun ini. Setiap satu ekor GPS bisa menghasilkan 150 hingga 155 Day Old Chick (DOC) Final Stock (FS). Dengan realisasi importasi GPS tahun lalu sebanyak 578 ribu ekor, Indonesia berpotensi memproduksi lebih dari 80 juta DOC per minggu pada 2027, padahal kebutuhan hanya sekitar 65 juta per minggu.

Selain itu, Pardjuni juga melihat pembelian GPS seharga Rp 500 ribu per ekor dari AS berpotensi membuat importasi nenek ayam ini akan berlebihan. Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan harga standar GPS yang biasanya berkisar antara USD 60-70 per ekor atau sekitar Rp 1 juta sampai Rp 1,17 juta.

Estimasi Nilai Impor dan Kebijakan Kuota

Dalam dokumen ART, estimasi nilai importasi 580 ribu ekor induk ayam tersebut adalah sekitar USD 17 juta sampai USD 20 juta atau sekitar Rp 286 miliar sampai Rp 336,48 miliar. Dengan angka tersebut, Indonesia membeli induk ayam dari AS dengan harga Rp 493 ribu per ekor atau hampir Rp 500 ribu per ekor. Ini menunjukkan bahwa impor GPS memiliki dampak signifikan terhadap industri peternakan ayam di Indonesia.

Pemerintah melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian menetapkan kuota impor GPS berdasarkan analisis tim teknis yang mengevaluasi keseimbangan supply dan demand. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam pengembangan GPS lokal yang membutuhkan waktu dan investasi besar.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version