Ini baru hari keempat. Masih ada tiga hari ke depan untuk bertahan hidup sendirian. Sanggupkah aku…?
Hari ini terasa lebih ringan. Bukan karena tanpa beban. Faktanya, aku masih sendirian di rumah. Tapi, karena hari ini ada perayaan Natal bersama TNI, Polri, ASN, guru dan pegawai se-Kota Salatiga. Murid-murid belajar di rumah.
Kami berangkat dulu ke kantor untuk menerima briefing. Ada jeda satu jam untuk persiapan pribadi sebelum berangkat ke gereja tempat dilaksanakan perayaan Natal. Meski terkesan formalitas, kami bersyukur bisa beribadah bersama umat Nasrani di kota paling toleran ini. Liturginya seperti biasa, ada persembahan lagu, penyembahan, khotbah, isian, lalu sambutan-sambutan.
Durasinya dua jam lebih, perutku sudah keroncongan. Aku belum memasak. Sudah keburu lapar, ingin beli makanan saja. Aku sudah membayangkan mi ayam hangat sejak masih peryaan Natal! Kurang ajar, sedang ibadah tapi yang dipikirkan makanan melulu.
Tiga hari beruntun makan sayur, rasanya bosan. Sedangkan harus rutin makan sayur supaya lebih sehat. Keahlianku cuma memasak tumis. Akhirnya, aku membeli tahu campur. Makanan khas Salatiga ini menjadi salah satu favoritku. Kombinasi tahu, lontong, bakwan, kol, toge, kerupuk karak, disiram sambal kacang; aduhai! Ada menu tambahan gorengan berupa mendoan dan rolade daun singkong.
Aku tambah 4 gorengan, soalnya ukurannye kecil harganya 500-an seperti tahu bulat yang digoreng jalanan di mobil panas-panas, tahu bulat, tahu bulat! Minumnya air putih. #modehemat
Siangku ditemani Youtube. Aku menonton anime Detective Conan lagi. Gratis, menghibur, lumayan untuk mengisi waktu luang.
Sejatinya, ada satu jenis empon-empon yang belum sepenuhnya finish, yakni kunyit. Tapi kekuatan tahu campur menggodaku untuk memeluk bantal. Aku pun kalah. Tidur dulu barang sejam. Bangun, menyeduh kopi, lalu menyelesaikan pesanan empon-empon.
Aku ada rapat panitia Natal jam 6 sore. Aku menjadi sie perkap, koordinator lagi. Aku tinggal pulang kampung saat pelaksanaan rangkaian Natal. Ada beberapa missed dengan vendor tenda dan panggung. Sebagai pertanggungjawaban aku harus datang rapat.
Kepulangan istri-anak masih mengganjal. Harga tiketnya keburu mahal, uangnya belum dikembalikan dari pihak penyedia jasa. Makin ketunda, makin aku tersiksa dalam masa “lajang” ini.
Aku cek email, statusnya masih sama: sedang ditinjau. Di sela-sela rapat, aku chat istri, siapa tahu ada perkembangan.
Syukurlah. Hasil tidak mengkhianati usaha. Petang ini informasi dari istri, dananya sudah masuk. Istri pun bisa membeli tiket pesawat. Mau hari Minggu, Senin, dan seterusnya di atas 2 juta.
Apa boleh buat, daripada kehabisan tiket lalu tak bisa pulang. Aku dan anak makin rugi. Aku, karena makin kesepian. Anak, karena terlalu lama tidak masuk sekolah.
Tiket pesawat sudah aman. Aku juga sudah mengontak jasa mobil untuk menjemput ke bandara. Tinggal konfirmasi akhir sebelum keberangkatan. Aku tak sabar menunggu hari Minggu! –KRAISWAN





