Pencapaian Bersejarah Janice Tjen di Australian Open

Janice Tjen menjadi sorotan dalam dunia tenis internasional. Setiap pencapaian yang diraih oleh petenis muda Indonesia ini menciptakan sejarah kecil bagi negaranya. Dengan usia 23 tahun, ia berhasil mencatatkan namanya sebagai petenis pertama dari Indonesia yang memenangi babak utama Australian Open dalam 28 tahun terakhir.

Pada 20 Januari lalu, Janice Tjen mengalahkan Leylah Fernandez, mantan finalis US Open 2021, dengan skor 6-2 dan 7-6. Kemenangan ini membuatnya merasa sangat bangga karena bisa menjadi bagian dari sejarah dan meraih kemenangan untuk Indonesia. Ia menyampaikan perasaannya saat konferensi pers setelah pertandingan, mengatakan bahwa hal itu sangat istimewa, terutama karena bermain di depan keluarga dan teman-teman dekatnya.

Akun resmi Australian Open menilai hasil Janice sebagai kemenangan terbesar dalam kariernya. Meskipun dikenal sebagai sosok yang pendiam, Janice telah mencuri perhatian di dunia tenis musim panas lalu ketika mencapai putaran kedua US Open sebagai pemain kualifikasi. Pada waktu itu, ia menjadi pemain Indonesia pertama yang mencapai tahap tersebut di turnamen Grand Slam sejak Angelique Widjaja pada tahun 2004.

Dengan permainan atletis dan pukulan backhand slice yang mematikan, Janice kembali membuktikan kemampuannya dengan mengalahkan Leylah Fernandez. Pencapaian ini menjadikannya pemain pertama yang memenangi putaran pertama di Australia sejak Yayuk Basuki pada tahun 1998. Antusiasme para penggemar di ANZ Arena membuatnya merasa luar biasa, bahkan mengingatkannya pada pengalaman Alexandra Eala dari Filipina di Lapangan 6.

Meski ada perbedaan antara hasil Eala dan Janice, Janice tetap merasa senang dengan dukungan yang diberikan oleh penonton Indonesia. Ia menyampaikan bahwa mendengar teriakan “Indonesia!” adalah sesuatu yang istimewa baginya, seperti berada di rumah sendiri.

Perkembangan Karier dan Peringkat

Sebelumnya, Janice Tjen berperingkat di luar 400 besar tahun lalu. Namun, kini ia mendekati debut di 50 besar setelah mencapai dua final WTA musim gugur lalu dan meraih gelar pertamanya di Chennai, India. Ia mengakui bahwa ia mulai sedikit dikenali di beberapa tempat.

Meski mendapat banyak perhatian, Janice tidak berubah menjadi eksklusif. Justru, hal ini memperkuat keasliannya. Ia mengatakan bahwa rasa senang dan perasaan menyenangkan itu tidak mengubah hidupnya sepenuhnya. Baginya, hidup masih sama dan ia tetap orang yang sederhana.

Mempelajari sosiologi di Universitas Pepperdine membantunya lebih memahami diri sendiri. Janice juga terampil dalam menyalurkan dukungan penonton untuk meraih kemenangan. Ia mampu menavigasi permainan Fernandez yang rumit dan menang tipis di tiebreaker set kedua serta mencetak kemenangan pertamanya musim ini.

Fokus pada Performa dan Masa Depan

Mengenakan kaus Asics hijau limau, Janice tampak ingin membiarkan permainan tenisnya yang berbicara di lapangan, bukan popularitas nasionalnya yang semakin meningkat. Ia berusaha fokus dan hanya berkonsentrasi untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Setelah lolos ke putaran kedua Australian Open 2026, Janice Tjen berharap untuk mencetak debut di putaran ketiga Grand Slam. Tantangannya adalah mantan petenis nomor 1 dunia Karolina Pliskova dari Ceko. Perempuan berusia 33 tahun itu mengalahkan mantan juara US Open Sloane Stephens di putaran pertama sebagai kemenangan pertamanya sejak September lalu untuk bertemu Janice.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version