Dwi Sasetyaningtyas, seorang alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), kini menjadi sorotan publik setelah viral karena memperlihatkan status Warga Negara Asing (WNA) anaknya. Tidak hanya itu, ia juga mendapat teguran dari LPDP akibat pernyataannya yang dianggap tidak pantas dan menghina negara Indonesia.
Awal mula kejadian ini berawal dari unggahan Dwi di media sosial, di mana ia menyampaikan bahwa dirinya ingin anak-anaknya menjadi WNA. Ia menulis, “Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA.” Perkataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari netizen, yang menilai bahwa Dwi tidak pantas menghina negara yang telah membantu pendidikannya.
Selain itu, netizen juga mulai menggali informasi tentang suami Dwi, yang ternyata juga merupakan penerima beasiswa LPDP. Namun, suami Dwi diduga melanggar aturan pengabdian bagi penerima beasiswa. Hal ini memperpanjang isu yang muncul, hingga akhirnya LPDP memberikan pernyataan resmi mengenai kejadian ini.
LPDP menyayangkan adanya polemik yang terjadi di media sosial akibat tindakan salah satu alumni, yaitu Dwi Sasetyaningtyas. Mereka menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang ditanamkan oleh LPDP kepada seluruh penerima beasiswa. Meskipun demikian, LPDP tetap berkomitmen untuk melakukan komunikasi dengan Dwi agar dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial, serta memperhatikan sensitivitas publik dan kewajiban kebangsaan sebagai penerima beasiswa.
Siapa sebenarnya Dwi Sasetyaningtyas? Berikut profil lengkapnya:
Profil Dwi Sasetyaningtyas
Dwi Sasetyaningtyas, atau yang akrab disapa Tyas, adalah seorang alumni beasiswa LPDP. Ia lulus dari Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah lulus, ia melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology, Belanda, dengan mengambil jurusan Sustainable Energy Technology.
Beasiswa LPDP yang diterimanya diperoleh pada tahun 2015 dan ia lulus pada tahun 2017. Sejak 2017 hingga 2023, Dwi telah kembali ke Indonesia. Selama masa kewajibannya sebagai penerima beasiswa, ia aktif dalam berbagai program sosial, seperti inisiasi penanaman 10 ribu pohon bakau di pesisir pantai Indonesia. Ia juga mendorong partisipasi ibu rumah tangga dalam ekonomi sampingan, serta berkontribusi dalam penanggulangan bencana di Sumatra dan pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain itu, Dwi juga merupakan founder dari beberapa inisiatif sosial, seperti @sustaination, @ceritakompos, dan @bisnisbaikclub. Ia juga dikenal sebagai sosok yang gencar mengkritisi kebijakan pemerintah.
Dwi kembali ke Inggris bersama suaminya, yang bekerja sebagai konsultan periset atau Senior Research Consultant di University of Plymouth.
Klarifikasi Dwi Sasetyaningtyas
Setelah ucapannya viral dan mendapat banyak kritikan dari netizen, Dwi memberikan klarifikasi. Ia mengakui bahwa pernyataannya itu lahir dari rasa kecewa dan marah sebagai Warga Negara Indonesia terhadap kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak pro-rakyat.
“Ungkapan ‘cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan’ adalah bentuk rasa kecewa, marah, dan kesal saya sebagai WNI terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Jujur, saya capek jadi WNI. Tapi sebagai penerima beasiswa uang rakyat, sudah seharusnya saya menyuarakan kepentingan rakyat,” tulisnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat yang merasa tersakiti oleh pernyataannya. Menurutnya, kekecewaan yang ia rasakan tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang bisa melukai perasaan orang lain, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan.
