Profil Kim Ju Ae, Putri Kim Jong Un yang Jadi Calon Pengganti

Kim Ju Ae, putri dari pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dikabarkan menjadi calon pengganti untuk memimpin negara tersebut di masa depan. Meski informasi mengenai dirinya masih terbatas, kehadirannya semakin sering muncul dalam berbagai acara kenegaraan dan propaganda.

Menurut laporan The Guardian, tidak banyak yang diketahui tentang Kim Ju Ae. Meskipun ia sering muncul dalam propaganda negara, media pemerintah Korea Utara belum pernah menyebutkan namanya secara langsung. Ia hanya disebut sebagai “anak yang dihormati” atau “anak yang paling dicintai” oleh ayahnya.

Keyakinan bahwa ia bernama Kim Ju Ae didasarkan pada keterangan mantan bintang NBA, Dennis Rodman, yang pernah memegang bayi putri Kim saat kunjungan ke Pyongyang pada 2013. Pejabat intelijen Korea Selatan percaya bahwa ia lahir pada tahun itu. Pada 2023, badan intelijen tersebut juga memberitahu para anggota parlemen bahwa Kim dan istrinya kemungkinan memiliki seorang putra yang lebih tua dan seorang anak ketiga yang lebih muda, dengan jenis kelamin yang belum diketahui.

Sejak pendirian Korea Utara pada 1948, negara ini telah dipimpin oleh anggota keluarga Kim yang berjenis kelamin laki-laki. Dinasti Kim dimulai dari pendiri negara, Kim Il Sung, dan dilanjutkan oleh putranya, Kim Jong Il. Kim Jong Un dinobatkan sebagai pewaris takhta pada 2010, dua tahun setelah ayahnya mengalami stroke yang melumpuhkan. Setelah kematian ayahnya pada Desember 2011, Kim Jong Un naik takhta secara mendadak dengan persiapan yang relatif minim.

Beberapa analis menyarankan bahwa keputusan Kim Jong Un untuk memberikan debut awal kepada putrinya mungkin mencerminkan pengalamannya sendiri yang terpaksa naik takhta secara mendadak.

Penunjukan Kim Ju Ae sebagai Calon Pemimpin

Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) melaporkan bahwa Kim Jong Un telah menunjuk putrinya, Kim Ju Ae, sebagai calon penerus kepemimpinan negara tersebut di masa mendatang. Kabar ini disampaikan oleh NIS kepada para anggota parlemen pada Kamis (12/2/2026). Saat ini, Kim Ju Ae diperkirakan berusia 13 tahun dan sedang dipersiapkan untuk menggantikan sang ayah.

Menurut NIS, langkah yang diambil Kim Jong Un tersebut dinilai sebagai upaya untuk melanjutkan kekuasaan dinasti keluarganya hingga generasi keempat. Korea Utara akan mengadakan pertemuan politik terbesar pada akhir bulan ini. Dalam forum tersebut, Kim Jong Un akan menyampaikan arah kebijakan strategis untuk lima tahun mendatang sekaligus mempertegas kendalinya atas pemerintahan negara.

Anggota parlemen Korea Selatan, Lee Seong Kweun, menyatakan bahwa NIS akan memantau apakah putri Kim Jong Un, yang diperkirakan berusia 13 tahun, akan tampil bersamanya saat ia berpidato di hadapan ribuan delegasi pada Kongres Partai Pekerja mendatang. Menurut Lee, NIS sebelumnya menggambarkan Kim Ju Ae sedang menjalani pelatihan sebagai penerus. Yang menonjol hari ini adalah mereka menggunakan istilah tahap penunjukan penerus, sebuah perubahan yang cukup signifikan.

Kim Ju Ae dalam Agenda Kenegaraan

Spekulasi mengenai peran Kim Ju Ae sebenarnya bukan hal baru bagi para pengamat yang mengikuti dinamika di Pyongyang. Selama ini, Kim Ju Ae memang kerap disebut-sebut sebagai kandidat penerus Kim Jong Un. Kunjungan mencoloknya ke China pada 2025 semakin memperkuat dugaan tentang posisinya yang semakin menonjol.

Ju Ae, yang diperkirakan masih berusia awal remaja dan disebut memiliki kemiripan dengan ibunya, turut mendampingi sang ayah dalam agenda pertemuan besar para pemimpin dunia. Momen tersebut juga menjadi lawatan luar negeri pertamanya yang tercatat secara resmi. Media pemerintah Korea Utara bahkan menayangkan kehadirannya saat kunjungan ke Beijing, memperlihatkan perannya yang semakin terlihat di ruang publik.

Menurut analis bernama Lee, keterlibatan Kim Ju Ae dalam kunjungan keluarga ke Kumsusan Palace of the Sun serta dalam sejumlah acara militer penting menjadi sinyal yang cukup jelas. Bahkan, muncul indikasi bahwa Kim Jong Un mulai mengajak putrinya terlibat dalam pembahasan sejumlah kebijakan.

Pada awalnya, badan intelijen Korea Selatan meragukan kemungkinan Kim Ju Ae dipersiapkan sebagai pemimpin Korea Utara. Keraguan itu muncul karena kuatnya budaya konservatif dan tradisi kepemimpinan yang selama ini didominasi laki-laki di negara tersebut. Namun, pada September tahun lalu, Kim Jong Un kembali terlihat tampil bersama putrinya dalam agenda publik. NIS menilai langkah tersebut bisa jadi merupakan bagian dari upaya membangun narasi politik guna membuka jalan bagi proses suksesi kepemimpinan di masa mendatang.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version