Sejarah Kelam Eks Kamp Cideng yang Tidak Terduga

Atun (50) selama puluhan tahun tinggal di rumah tua yang terletak di Jalan Tanah Abang II, Jakarta Pusat. Namun, ia tidak pernah mengetahui bahwa bangunan tersebut merupakan bagian dari eks Kamp Cideng yang digunakan oleh Jepang untuk menahan warga sipil Belanda. Kejadian ini baru diketahui Atun setelah rombongan turis asal Belanda datang dan berziarah ke tempat tersebut.

Awalnya, Atun mengaku tidak tahu sejarah rumah yang ditempatinya. Ia hanya diperbolehkan tinggal di bagian depan rumah oleh pemiliknya dengan tujuan agar bangunan tersebut tetap terawat. Namun, ketika rombongan turis Belanda datang menggunakan bus besar, Atun mulai mengetahui kisah kelam yang tersembunyi di balik dinding rumah itu.

“Dulu saya enggak tahu sejarahnya. Tiba-tiba ada rombongan turis Belanda datang, pakai bus besar. Mereka bilang mau lihat tempat nenek atau orang tua mereka dulu ditahan,” ujar Atun dalam tayangan Sisi Lain Metropolitan di Youtube Infomalangraya.net.

Pengalaman Mistis yang Mengganggu

Setelah mengetahui sejarah rumah tersebut, Atun mulai merasakan suasana mencekam di tempat tinggalnya. Ia sering merasa hawa dingin dan suara aneh terutama pada malam hari. “Rumahnya lama kosong, enggak terawat. Kalau malam suasananya beda, sunyi sekali,” kata Atun.

Ia juga pernah melihat sesosok tubuh besar tanpa kepala. “Percaya enggak percaya tapi ya itu yang saya lihat,” tambahnya. Meski pengalaman ini terdengar mistis, Atun mengaku merasa sangat tak nyaman dan khawatir tinggal di rumah tersebut.

Kondisi Rumah yang Menyedihkan



Kondisi rumah eks Kamp Cideng saat ini tampak tertutup pagar seng setinggi dua meter. Di bagian pagar tersebut terpampang pengumuman bahwa bangunan itu disewakan. Ada juga tulisan larangan untuk berjualan di depan rumah tersebut. Sisanya, tulisan vandalisme memenuhi hampir seluruh pagar seng.

Dari luar, terlihat bagian genteng rumah tersebut banyak yang bolong. Pepohonan juga tampak tumbuh tinggi, menandakan bangunan sudah lama tak terawat. Di sisi kanan rumah tua itu sudah berdiri kantor dengan bangunan baru. Sedangkan di sisi kirinya kini dijadikan gudang logistik.

Sejarah Kamp Cideng yang Harus Dikenang

Sejarawan Nunus Supardi menjelaskan bahwa dalam sejarah perang, pihak pemenang biasanya akan merampas segalanya dari pihak yang kalah. Saat Jepang menguasai Batavia dari Belanda, mereka tidak hanya mengambil alih harta benda, tetapi juga menawan penduduknya.

“Penduduk, harta benda, sampai putri-putrinya itu dirampas untuk pemenang perang,” ujar Nunus dalam tayangan Sisi Lain Metropolitan Infomalangraya.net.



Alasan utama Jepang membangun kamp-kamp tahanan adalah faktor keamanan. Saat itu, ada sekitar 300.000 orang Belanda yang bermukim di Indonesia. “Karena khawatir akan terjadi pemberontakan massal, Jepang memutuskan untuk mengisolasi dan menawan mereka di lokasi-lokasi tertentu, salah satunya di Cideng,” jelas Nunus yang juga menulis buku “Documenta Historica Kamp Interniran”.

Tempat yang Menampung Banyak Orang

Nunus menyebutkan bahwa sekitar 200 rumah yang ada di Cideng kala itu dipaksa menampung jumlah manusia yang tidak masuk akal. “Catatan yang saya dapat berbeda-beda, ada yang bilang 8.000 ada yang 10.000 orang. Bayangkan 200 rumah ditempati orang sebanyak itu, seperti apa rasanya,” jelas Nunus.

Kamp Cideng sendiri merupakan kamp interniran yang beroperasi di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942–1945. Saat itu, wilayah tersebut menjadi tempat penahanan warga sipil Belanda oleh Jepang. Para perempuan dan anak-anak ditawan dan dipaksa bekerja selama masa pendudukan.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version