JAKARTA, Infomalangraya.net
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penarikan dana pemerintah sebesar Rp 75 triliun dari sistem perbankan tidak akan mengganggu stabilitas perekonomian nasional. Dana tersebut digunakan untuk membiayai belanja rutin kementerian dan lembaga (K/L).
“Itu buat belanja rutin kementerian/lembaga. Saya tarik, seperti ditarik dari sistem, tapi langsung dibelanjakan lagi. Jadi, langsung masuk ke sistem perekonomian, tidak mengganggu uang beredar di sistem perekonomian,” ujar Purbaya saat diwawancarai usai Seremoni Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Menurut dia, langkah tersebut justru berpotensi memberikan dampak pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian, karena belanja pemerintah pusat dan daerah akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi.
“Malah harusnya lebih bagus, karena ada dampak multiplier dari belanja pemerintah, pusat maupun daerah. Jadi itu nggak apa-apa, tapi yang Rp201 triliun masih saya taruh di perbankan,” kata Purbaya.
Sebelumnya, pada 31 Desember 2025, pemerintah menarik dana Rp75 triliun dari total Rp276 triliun dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang ditempatkan di sistem perbankan. Dana tersebut disalurkan ke lima bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan satu bank pembangunan daerah (BPD).
Rinciannya, Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing menerima Rp80 triliun, BTN Rp25 triliun, BSI Rp10 triliun, serta Bank DKI Rp1 triliun.
Purbaya menjelaskan, penarikan dana itu dilakukan untuk mendukung belanja negara guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ia mengakui penempatan dana pemerintah di perbankan belum memberikan dampak optimal.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per Oktober 2025, pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 7,36 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
“Injeksi uang yang kita taruh di sistem perbankan itu nggak seoptimal yang saya duga sebelumnya. Harusnya ekonomi lari lebih cepat karena ada sedikit ketidaksinkronan kebijakan antara kami dengan bank sentral yang sekarang sudah dibereskan,” ujarnya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan koordinasi antara pemerintah dan BI kini telah membaik. Ia menyebut, dalam dua minggu terakhir, bank sentral mulai mendukung kebijakan pemerintah sehingga likuiditas di sistem perekonomian akan semakin longgar.
Strategi Penarikan Dana dan Dampak Ekonomi
Penarikan dana ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan alokasi dana yang efektif dan efisien. Dengan menarik dana sebesar Rp 75 triliun, pemerintah dapat langsung menggunakannya untuk belanja rutin K/L tanpa mengganggu aliran uang di sistem perbankan.
Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam strategi ini adalah:
Pembiayaan belanja rutin: Dana yang ditarik digunakan untuk membiayai operasional kementerian dan lembaga, sehingga memastikan keberlanjutan layanan publik.
Dampak multiplier: Belanja pemerintah memiliki potensi untuk meningkatkan aktivitas ekonomi melalui mekanisme multiplier, yaitu peningkatan permintaan agregat yang memicu pertumbuhan ekonomi.
Koordinasi dengan BI*: Purbaya menyatakan bahwa komunikasi antara pemerintah dan Bank Indonesia telah membaik, sehingga kebijakan moneter dan fiskal bisa saling mendukung.
Rincian Penyaluran Dana
Dana sebesar Rp 75 triliun yang ditarik dari SAL ditempatkan di beberapa bank besar, termasuk lima bank Himbara dan satu BPD. Rincian penyalurannya adalah sebagai berikut:
Bank Mandiri: Rp 80 triliun
Bank BRI: Rp 80 triliun
Bank BNI: Rp 80 triliun
Bank BTN: Rp 25 triliun
Bank BSI: Rp 10 triliun
Bank DKI: Rp 1 triliun
Tantangan dan Perspektif Masa Depan
Meskipun penarikan dana ini dianggap tidak mengganggu stabilitas ekonomi, Purbaya mengakui bahwa dampak dari penempatan dana di sistem perbankan belum sepenuhnya optimal. Pertumbuhan kredit perbankan yang hanya sebesar 7,36% pada Oktober 2025 menunjukkan bahwa penyaluran dana belum berjalan maksimal.
Namun, dengan peningkatan koordinasi antara pemerintah dan BI, diharapkan likuiditas di sistem perekonomian akan semakin longgar, sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi. Purbaya optimis bahwa langkah-langkah ini akan membawa hasil yang lebih baik dalam waktu dekat.





