Ringkungan Hari Ini: “Bukan untuk Dilayani”

Pada hari Rabu Biasa VIII, Perayaan fakultatif Santo Agustinus dari Canterbury, Uskup dan Pengaku Iman, serta Santo Yulius, Martir, dengan warna liturgi hijau, kita diajak untuk merenungkan tema “Bukan untuk Dilayani”. Renungan ini memberikan pesan penting tentang makna sebenarnya dari pelayanan dalam kehidupan Kristen.

Bacaan Liturgi

Bacaan pertama berasal dari 1 Petrus 1:18-25. Dalam ayat tersebut, kita diingatkan bahwa kita telah ditebus oleh darah Kristus, yang merupakan tebusan yang tak ternilai harganya. Kita juga diberi tahu bahwa iman dan pengharapan kita harus tertuju kepada Allah, yang membangkitkan Yesus dari kematian dan memuliakan-Nya.

Mazmur Tanggapan Mzm 147:12-13, 14-15, 19-20 mengajak kita untuk memuji Tuhan, sambil menegaskan bahwa Dia memberikan kesejahteraan kepada daerah dan mengenyangkan umat-Nya dengan gandum terbaik. Selain itu, sabda Tuhan tetap untuk selama-lamanya, dan itulah sabda yang disampaikan Injil kepada kita.

Bait Pengantar Injil Mrk 10:45 menyampaikan pesan penting bahwa Putra Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.

Bacaan Injil: Markus 10:32-45

Dalam bacaan Injil, kita melihat bagaimana Yesus berjalan di depan murid-murid-Nya menuju Yerusalem. Di tengah perjalanan, Yesus mulai mengatakan kepada para murid apa yang akan terjadi atas diri-Nya. Ia mengatakan bahwa Ia akan diserahkan kepada para imam kepala dan ahli Taurat, lalu dihukum mati, dan setelah tiga hari akan bangkit.

Kemudian Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan meminta posisi terhormat di sisi-Nya. Namun, Yesus mengajarkan bahwa kebesaran sejati bukanlah soal kedudukan, melainkan kerendahan hati dan pelayanan. Ia berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.”

Renungan Harian Katolik: “Melayani dengan Kerendahan Hati Bersama Kristus”

Yesus mengajarkan bahwa pelayanan sejati lahir dari kasih, bukan dari keinginan untuk dihormati. Sering kali dalam kehidupan sehari-hari, kita seperti Yakobus dan Yohanes, ingin dihargai dan dipuji. Namun, Yesus menunjukkan bahwa pelayanan yang tulus adalah cara terbaik untuk mencerminkan cinta-Nya.

Sebuah pengalaman nyata menunjukkan betapa pentingnya kerendahan hati dalam pelayanan. Ada seorang ibu di lingkungan Gereja yang setiap minggu datang lebih awal untuk membersihkan kapel kecil sebelum ibadat dimulai. Ia menyapu lantai, merapikan kursi, dan menyiapkan bunga di altar. Meskipun tidak ada yang melihat, ia tetap melakukan hal tersebut karena ia percaya bahwa Tuhan melihatnya.

Jawaban sederhana itu menunjukkan makna pelayanan yang sejati. Melayani bukan demi pujian manusia, melainkan sebagai ungkapan cinta kepada Kristus. Kerendahan hati membuat seseorang mampu melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.

Pesan Refleksi

Kita pun dipanggil untuk melayani mulai dari hal sederhana:

  • membantu orang tua di rumah tanpa disuruh,
  • mendengarkan teman yang sedang sedih,
  • aktif dalam pelayanan Gereja dengan tulus,
  • atau membantu sesama tanpa berharap imbalan.

Di mata Tuhan, pelayanan kecil yang dilakukan dengan cinta jauh lebih berharga daripada tindakan besar yang dilakukan demi pujian.

Doa

Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk melayani dengan rendah hati seperti Engkau. Jauhkan aku dari keinginan untuk dipuji dan dihormati. Bentuklah hatiku agar mampu mengasihi dan melayani sesama dengan tulus. Amin.

Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Rabu. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus…Amin.




Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

© 2026 Info Malang Raya. All rights reserved.

Exit mobile version