Renungan Harian Katolik: Roh Kudus dalam Kerakusan Dunia yang Liar
Pada renungan harian Katolik yang disampaikan oleh Pater Fransiskus Funan Banusu SVD, tema utama yang dibahas adalah “Roh Kudus Dalam Kerakusan Dunia yang Liar”. Renungan ini merujuk pada berbagai bacaan Injil dan kitab suci seperti Kisah Para Rasul 2:1-11, Mazmur 104:1ab.24ac.29c-30.31.34, 1 Korintus 12:3b-7.12-13, serta Yohanes 20:19-23.
Peran Roh Kudus dalam Kehidupan Manusia
Dalam renungan tersebut, Pater Fransiskus menyatakan bahwa dunia saat ini kuat dalam dua hal yang saling berkaitan, yaitu kemauan berkuasa yang terus-menerus dan keinginan untuk memiliki materi yang tak terpuaskan. Nafsu akan kuasa dan harta benda ini membelenggu manusia dalam perilaku kerakusan yang tidak terkendali.
Akibat dari kerakusan ini, alam diperlakukan dengan tidak adil dan sesama manusia pun dimanfaatkan tanpa nurani hanya untuk mencapai keuntungan ekonomis. Hal ini terjadi karena manusia kehilangan panduan ilahi di dalam hatinya, sehingga hati nurani menjadi dingin dan tidak manusiawi.
Kondisi Masyarakat dan Keberanian untuk Berubah
Masyarakat akar rumput sering kali mengelus dada dalam kepedihan hidup, bahkan semakin sakit ketika melihat alamnya rusak atas nama kesejahteraan publik. Nasib baik tidak kunjung datang, malah risiko ketersingkiran bisa terjadi karena tanah leluhur diobrak-abrik demi tambang dan pembabatan hutan.
Ini merupakan manifestasi nyata dari dahaga kuasa dan nafsu memiliki yang tak terukur. Para rasul dan murid-murid Yesus setelah Ia dibunuh dan bangkit, merasa gelisah dan takut karena mereka khawatir akan dikejar dan diganggu karena iman mereka.
Mereka tinggal dalam ruang terkunci, merasa sendiri dalam hiruk-pikuk dunia yang khaos, merenungi nasib buruk dan masa depan kelam. Mereka bergulat dalam penghakiman diri yang tak berkesudahan.
Damai Yesus sebagai Penyembuh Jiwa
Ketika mereka berada dalam kondisi krisis dan tekun berdoa bersama Maria, Ibu-Nya, Yesus datang di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai bagi kamu.” Damai Yesus memberikan ketenangan dan optimisme, meskipun segalanya tampak suram dan kelam.
Melalui damai Tuhan, ketenangan diri dan sukacita dapat ditemukan kembali. Harga diri dan martabat luhur dipulihkan oleh Tuhan sendiri. Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya bukan untuk membangkitkan amarah balas dendam, tetapi luka-Nya adalah simbol kasih dan korban terindah penebusan dosa.
Mengubah Luka Menjadi Kasih dan Pengampunan
Menolak menerima luka masa lalu adalah penyakit yang membuat kita terkurung dalam rumah diri yang terkunci. Para murid menerima luka-luka itu dan mengubahnya menjadi media kasih dan pengampunan. Oleh karena itu, Tuhan memcurahkan Roh Kudus kepada mereka masing-masing.
Melalui Roh Kudus, para murid menerima kuasa dan wewenang untuk mengampuni dosa dalam tugas perutusan sebagai duta kasih. Pewartaan perdana mereka adalah mewartakan Injil tentang Yesus dan keajaiban Tuhan kepada orang-orang Yahudi saleh dari segala bangsa.
Roh Kudus sebagai Kekuatan Bersatu
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, “Firman-Mu disampaikan oleh angin; api yang berkobar tundup pada-Mu bagai hamba.” (Mzm. 104:31.34). Diutus bagai duta kasih, kita harus bersatu. Oleh kuasa ilahi baptisan Roh Kudus, kita menjadi satu. Yesus diakui sebagai Tuhan karena Roh Kudus.
Kesuksesan tugas perutusan ini juga ditunjang oleh satu Roh dan karunia Roh atau karisma. Melayani dalam berbagai bidang hidup. Melalui tugas perutusan, Roh Kudus menyebar luas menyelimuti bumi. Pengampunan juga diberi, menerima siapa pun yang datang.
Kesimpulan
Roh Kudus membuka pintu terkunci kuasa dan nafsu memiliki untuk diri sendiri. Masyarakat akar rumput yang menjerit atas nasib tak tentu dan aneka penderitaan yang menimpa, suatu ketika pelaku kejahatan akan tersingkap. Allah mencurahkan Roh-Nya bagi siapa pun yang bercaya. Dan Allah pulalah yang membuka hati untuk menerimanya.
Selamat Hari Raya Pentakosta. Tuhan berkatimu semua.
