Penanganan Kemenag Jateng Terhadap Video Zikir di Candi Prambanan

Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah (Jateng) memberikan respons terkait video viral di media sosial yang menampilkan jemaah asal Semarang sedang melantunkan zikir dan kalimat tayyibah di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta. Video tersebut menunjukkan sembilan orang duduk bersila dalam dua baris, mengenakan pakaian lengan panjang, dan membaca kalimat zikir dengan suara cukup keras.

Aktivitas ini menarik perhatian para wisatawan, terutama ketika seorang pria di barisan depan memperagakan tangan ke atas sambil membaca doa, yang arahnya ditujukan ke bangunan candi. Peristiwa ini memicu berbagai tanggapan dari berbagai pihak terkait.

Tanggapan dari Kepala Kemenag Jateng

Kepala Kemenag Jateng, Saiful Mujab, menegaskan pentingnya komunikasi antara tokoh agama dan pihak terkait untuk memitigasi adanya kejadian serupa. Ia menyampaikan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan umat beragama harus dibicarakan secara baik dan mencari solusi bersama.

“Lebih baik ditabayyunkan (klarifikasi) jadi, supaya kita saling bersinergi. Saya kira dengan pihak keamanan juga sama,” ujarnya setelah acara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-80 di halaman kantor wilayah Kemenag Jateng, Kota Semarang, Sabtu (3/1/2026).

Ia menekankan pentingnya mencari titik temu agar masalah bisa cepat teratasi dengan baik. Meskipun ada kejadian tersebut, ia menyatakan tidak berpengaruh terhadap kerukunan umat beragama yang selama ini sudah kondusif. Ia berharap kondisi ini terus dijaga, terlebih menjelang bulan puasa pada Februari 2026.

Perspektif dari Kesbangpol Jateng

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jateng, Pradhana Agung Nugraha, menjelaskan bahwa kebebasan beragama sudah dijamin dalam undang-undang sebagai hak konstitusional bagi warga negara. Namun, pelaksanaannya tetap harus memperhatikan aturan dan nilai lokalitas wilayah, terutama sikap menjaga toleransi beragama dengan menghormati ruang sakral.

“Kebebasan beribadah dijamin undang-undang. Namun, wajib memperhatikan ruang dan sensitivitas tempat,” ujarnya.

Pandangan dari EIN Institute dan eLSA

Eksekutif Esa Insan Indonesia (EIN) Institute Kota Semarang, lembaga yang fokus pada kajian keberagaman dan kebebasan beragama, juga turut menyoroti kejadian tersebut. Direktur Eksekutif EIN Institute Kota Semarang, Ellen Nugroho, menekankan bahwa tanpa mengecilkan semangat spiritualitas kelompok masyarakat yang berdzikir, mereka perlu menyadari bahwa hidup dalam masyarakat yang plural membutuhkan kesadaran soal etika bertetangga dalam beragama.

Candi Prambanan bukan hanya sekadar tumpukan batu atau destinasi wisata biasa, melainkan ruang sakral bagi umat Hindu. “Jadi perlu ada kesadaran, ketika memasukinya sebagai umat non-Hindu, kita sedang masuk ke ruang sakral agama lain. Sama seperti kalau umat non-Islam kalau masuk masjid juga mesti hormat pada kesakralannya,” katanya.

Ia menilai bahwa persoalan ini bukan boleh atau tidak boleh, tetapi lebih pada etis atau tidak. Kelompok yang unggul dalam relasi kuasa perlu belajar menahan diri agar tidak melukai perasaan keadilan sosial dari kelompok religius yang jumlahnya lebih sedikit.

Direktur Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Tedi Kholiludin, menambahkan bahwa aktivitas melantunkan zikir dan tahlil di Candi Prambanan bukanlah persoalan benar atau salah dalam sudut pandang agama, tetapi perlu upaya menjaga sensitivitas dan toleransi. “Perlu diketahui pula tindakan tersebut sebagai praktik toleransi atau intoleransi,” jelasnya.

Ia juga mempertanyakan sensitivitas para orang-orang dalam video tersebut. Namun, untuk menjawab pertanyaan itu, tentu harus mengetahui latar belakang dan motif mereka. “Perlu ditelaah baik dari latar belakang dan motif yang disampaikan oleh mereka yang berzikir di depan Candi Prambanan,” terangnya.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version