Tanggapan atas Aksi Demonstrasi Roy Suryo
Aksi demonstrasi yang digelar oleh Roy Suryo dan sejumlah pihak di depan Gedung DPR RI menuai berbagai tanggapan, termasuk dari Ketua Umum Kami Jokowi-Gibran, Razman Nasution. Ia menilai jumlah massa yang hadir dalam aksi tersebut tidak signifikan dan dinilai lebih bersifat membangun opini baru.
Kekuatan Massa yang Tidak Signifikan
Menurut Razman, jumlah massa yang hadir dalam aksi tersebut tergolong kecil dan tidak menunjukkan kekuatan dukungan yang besar. Ia menyatakan bahwa aksi ini lebih sebagai upaya untuk mendapatkan perhatian dari DPR, bukan karena adanya dukungan yang kuat dari masyarakat luas.
Latar Belakang Aksi Demonstrasi
Aksi ini dipicu oleh kekecewaan terhadap terbitnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas kasus Rismon Sianipar, serta ditolaknya gugatan citizen lawsuit (CLS) terkait isu ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Razman mengatakan bahwa aksi ini hanya sebagai bentuk unjuk rasa agar DPR memberikan perhatian lebih terhadap isu-isu yang mereka angkat.
Isu yang Melebar dari Topik Awal
Razman juga mengkritik arah tuntutan dalam aksi tersebut yang dinilai mulai melebar ke isu lain di luar polemik ijazah. Ia menegaskan bahwa beberapa isu yang dibawa dalam aksi tersebut tidak memiliki hubungan langsung dengan masalah ijazah, seperti tuntutan “Tangkap dan Adili Jokowi” atau isu-isu lain yang tidak relevan.
Upaya Membangun Narasi Baru
Razman menuding adanya upaya membangun narasi baru untuk memperluas dukungan, termasuk dengan menyeret nama Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI, Jusuf Kalla. Ia menyatakan bahwa mereka mencoba membuka narasi baru agar bisa mendapatkan dukungan dari pihak lain dalam pertempuran politik.
Rekam Jejak Razman Nasution
Razman Arif Nasution memiliki rekam jejak panjang sebagai seorang advokat. Ia pernah menjadi Ketua Bidang Advokasi dan Hukum Partai Demokrat kubu Moeldoko. Selain itu, ia juga pernah menjadi pengacara warga Kalijodo dan kuasa hukum penguasa Kalijodo Daeng Azis saat penggusuran oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Selain berprofesi sebagai pengacara, Razman juga aktif dalam dunia politik. Ia tercatat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal dari Fraksi Partai Golkar dari tahun 1999 hingga tahun 2004. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Mandailing Nala dari Partai Karya Peduli Bangsa atau PKPB periode 2004-2009.
Sebelum bergabung dengan PKPB, dia adalah kader Partai Golkar. Razman juga pernah menjadi wartawan harian Medan Pos dan Majalah Detektif pada tahun 1992-1998.
Aksi Demonstrasi Roy Suryo
Roy Suryo dan kelompoknya menggelar aksi bertajuk “1 Tahun Membongkar Ijazah Palsu Jokowi” di depan Gedung DPR RI. Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan tuntutan keras terhadap pemerintahan Joko Widodo serta mengkritik kepemimpinan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Sejumlah spanduk dengan tulisan “TANGKAP dan ADILI JOKOWI!” serta “MAKZULKAN GIBRAN” tampak dibentangkan di tengah jalan raya. Selain itu, massa juga menyoroti sejumlah isu yang mereka anggap krusial, di antaranya:
- Kerusakan sumber daya alam
- Regulasi yang dinilai berpihak pada kekuasaan
- Pelemahan KPK
- Pendidikan yang dianggap terpinggirkan
- Dugaan polarisasi melalui buzzer
Nama Roy Suryo kembali mencuat dalam aksi tersebut. Ia hadir langsung dan menyampaikan orasi dari atas mobil komando. “Tunjukkan ijazahmu!” teriak Roy Suryo di atas mobil yang dilengkapi dengan deretan pengeras suara (megaphone) berukuran besar. Kehadirannya menunjukkan bahwa sebagian pihak masih terus mendorong isu ini tetap menjadi perhatian publik.





