Pergerakan Rupiah yang Fluktuatif di Tengah Ketidakpastian Global
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terus mengalami fluktuasi, mendekati level Rp 17.000 per dolar AS pada pekan ini. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah. Seorang pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.880 hingga Rp 17.100 per dolar AS pada pekan depan.
Pada perdagangan Senin depan (31/3/2026), rupiah mengalami fluktuasi namun ditutup melemah di rentang Rp 16.980 hingga Rp 17.030 per dolar AS. Dalam satu minggu, rupiah bergerak dalam kisaran Rp 16.880 hingga Rp 17.100 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026), rupiah melemah sebesar 75 poin menjadi Rp 16.979 per dolar AS, dari posisi sebelumnya sebesar Rp 16.904 per dolar AS.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Rupiah
Ibrahim menjelaskan bahwa terdapat beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah, baik dari luar maupun dalam negeri. Sentimen eksternal utamanya berkaitan dengan ketidakpastian global akibat perang antara AS, Israel, dan Iran. Hal ini diindikasikan dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sering tidak konsisten.
Trump menyampaikan bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang dengan Iran sedang berjalan dengan baik, dan ia akan menghentikan serangan terhadap pembangkit energi negara tersebut selama 10 hari. Meskipun demikian, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah, dengan Trump mempertimbangkan apakah akan menggunakan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa proposal AS yang terdiri atas 15 poin, yang disampaikan kepada Teheran oleh Pakistan, adalah ‘sepihak dan tidak adil’.
Perang tersebut telah mengurangi pasokan minyak global sebesar 11 juta barel per hari, dengan Badan Energi Internasional menggambarkan krisis tersebut lebih buruk daripada dua guncangan minyak pada tahun 1970-an dan perang gas Rusia-Ukraina jika digabungkan.
Selain itu, pasar memperkirakan skenario inflasi tinggi. Pada awal tahun, para pedagang memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed). Namun, sejak konflik dimulai dan setelah keputusan kebijakan The Fed pada 18 Maret, mereka mengurangi taruhan dovish mereka. Sebaliknya, mereka memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin (bps) oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal.
Sentimen Internal yang Mempengaruhi Rupiah
Dari sisi internal, sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah pada pekan depan berkaitan dengan dampak dari stimulus yang digulirkan pemerintah pada kuartal I 2026. Momentum Hari Raya Lebaran 2026 dinilai menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tiga bulan pertama atau kuartal I 2026.
Peningkatan konsumsi rumah tangga hingga arus mudik diyakini pemerintah dapat mendorong ekonomi Indonesia tumbuh hingga 5,5 persen atau lebih. Namun, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 ini tak setinggi target pemerintah, yakni hanya 5,4 persen atau sedikit di bawah target. Perkiraan ini didasarkan pada pelaksanaan Hari Raya Lebaran yang tak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Dari sisi pendorong, ekonomi nasional bisa tumbuh hingga 5,4 persen berkat belanja pemerintah yang dinilai cukup ekspansif, terutama pada program-program prioritas pemerintah dan bantuan sosial yang dinilai cukup untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sedangkan dari sisi hambatan, dampak dari bencana di Sumatera pada akhir 2025 lalu masih terasa pada kuartal I 2026 ini. Sebab, awal tahun ini gerak ekonomi di wilayah terdampak masih dalam tahap revitalisasi alias perbaikan, sehingga geliat ekonomi di wilayah itu belum berjalan normal dan sedikit banyak memengaruhi rata-rata nasional.
Kemudian, inflasi yang cukup tinggi ikut membuat konsumsi masyarakat sedikit tertahan selama puasa dan Hari Raya Lebaran berlangsung, sehingga dorongan ekonomi dari peristiwa ini tak maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pertumbuhan Uang Beredar Februari 2026 Melambat

Teller Bank sedang menghitung uang. – (Dok Infomalangraya.net)
Bank Indonesia (BI) menyampaikan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 mencatatkan pertumbuhan 8,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 10.089,9 triliun. Angka pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 10 persen (yoy) di angka Rp 10.117,8 triliun.
Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 3,1 persen (yoy). “Perkembangan M2 pada Februari 2026 tersebut terutama dipengaruhi tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit,” tulis Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, dikutip Ahad (29/3/2026).
Denny menerangkan, tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 25,6 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 22,6 persen (yoy). Adapun penyaluran kredit pada Februari 2026 tumbuh sebesar 8,9 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 10,2 persen (yoy).
Sebagai informasi, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans) dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker’s acceptances), dan tagihan repo. Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri serta kredit yang disalurkan kepada Pempus dan bukan penduduk.
Adapun uang primer (M0) adjusted pada Februari 2026 tumbuh 18,3 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 14,7 persen (yoy), sehingga tercatat sebesar Rp 2.228 triliun.
Perkembangan tersebut didorong oleh meningkatnya pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 33,6 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8 persen (yoy). Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).





