Konsep Kurikulum Berasis Cinta dalam Pendidikan Islam di Indonesia
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, Prof. Sahiron, memperkenalkan konsep “Kurikulum Berbasis Cinta” sebagai salah satu program strategis Kementerian Agama dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Gagasan ini disampaikan dalam sebuah talkshow bertajuk “Ramadan Bersama Gen Z Lintas Negara,” yang digelar di Auditorium UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto pada Sabtu (7/3/2026).
Talkshow tersebut menghadirkan mahasiswa internasional dari berbagai negara dan pimpinan dari Kementerian Agama RI. Dalam paparannya, Prof. Sahiron menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan nilai kasih sayang kepada Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
“Salah satu program penting di Kementerian Agama adalah kurikulum berbasis cinta. Pendidikan harus dibangun dengan cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama manusia,” ujarnya. Menurut Prof. Sahiron, kurikulum berbasis cinta tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang menghargai perbedaan dan menjunjung nilai kemanusiaan.
Konsep ini berangkat dari keyakinan bahwa seluruh manusia berasal dari satu sumber penciptaan yang sama, yakni Tuhan Yang Maha Esa. “Semua manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama. Karena itu kita harus saling menghargai dan saling mencintai, tanpa memandang asal negara, agama, atau latar belakang budaya,” jelasnya.
Prof. Sahiron menambahkan bahwa nilai cinta dalam pendidikan akan mendorong lahirnya generasi yang lebih terbuka, toleran, dan mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman global. Dalam talkshow tersebut, ia juga menyebutkan keberagaman mahasiswa internasional yang berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, hingga negara-negara Timur Tengah.
Menurutnya, keberagaman ini menjadi bukti bahwa dunia pendidikan harus mampu menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya dan pemikiran. “Mahasiswa datang dari berbagai negara dan latar belakang. Dengan kurikulum berbasis cinta, kita belajar untuk menghargai perbedaan sekaligus memperkuat rasa persaudaraan kemanusiaan,” katanya. Dia menekankan bahwa manusia pada dasarnya merupakan satu keluarga besar yang hidup di bumi yang sama.
Prof. Sahiron menilai pendidikan Islam di Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pendidikan yang humanis dan inklusif di tingkat global. Melalui kurikulum berbasis cinta, mahasiswa diharapkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Jika kita menyadari bahwa semua manusia berasal dari Tuhan yang sama, maka seharusnya kita saling berbuat baik dan menjaga hubungan yang harmonis,” ujarnya. Dia juga menegaskan bahwa nilai cinta tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada alam semesta sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga bersama.
Lebih lanjut, Prof. Sahiron menyampaikan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian dunia. Melalui pendekatan berbasis cinta, lembaga pendidikan dapat menanamkan nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta semangat persaudaraan antarbangsa. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi keagamaan diharapkan mampu menjadi agen perdamaian yang membawa nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat global.
“Pendidikan yang dilandasi cinta akan melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga mampu menghargai sesama manusia dan menjaga alam semesta,” pungkasnya.





