Usulan Sanusi Pane sebagai Pahlawan Nasional
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, mengajukan nama Sanusi Pane sebagai tokoh sastra yang layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Usulan ini disampaikan oleh Gus Irawan saat menghadiri perayaan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 di Medan, pada hari Minggu (5/3/2026).
Gus Irawan menyatakan bahwa momentum PRSU menjadi panggung yang tepat untuk memperluas pengakuan sejarah, sehingga menjadi perhatian serius dari pemerintah pusat, termasuk bagi Sanusi Pane. Menurutnya, Sanusi Pane bukan hanya milik sejarah daerah, tetapi juga merupakan fondasi pergerakan intelektual bangsa. Oleh karena itu, ia menilai sudah sepatutnya negara memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sanusi Pane.
Pada kesempatan deklarasi bersama yang dipimpin Bupati bersama Forkopimda, usulan ini disampaikan langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Sanusi Pane dianggap sebagai tokoh yang telah memberikan kontribusi besar dalam sastra dan kebudayaan Indonesia. Perjuangan untuk mengusulkan putra terbaik Tapanuli Selatan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap tokoh bangsa yang berjasa besar dalam perjalanan sastra dan budaya tanah air.
Profil Sanusi Pane
Sanusi Pane dikenal sebagai sastrawan Angkatan Pujangga Baru dari Tapanuli Selatan. Ia lahir di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan (sebelum pemekaran menjadi Mandailing Natal) pada 14 November 1905, dan meninggal di Jakarta pada 2 Januari 1968. Sanusi Pane memiliki enam orang anak, salah satunya adalah Nina Pane yang memiliki putra bernama Andre Aksana, seorang novelis.

Pendidikan Sanusi Pane
Pendidikan Sanusi Pane dimulai dengan bersekolah di Hollands Inlandse School (HIS) di Padangsidempuan, kemudian pindah ke Tanjung Balai. Ia kemudian masuk Europeesche Lager School (ELS) di Sibolga, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang, dan menyelesaikan pendidikannya di Jakarta pada tahun 1922. Setelah lulus, ia melanjutkan studinya ke Kweekschool di Jakarta dan lulus pada tahun 1925. Selanjutnya, ia memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan Hindu di India selama periode 1929—1930.
Karier Sanusi Pane
Karier Sanusi Pane dimulai sebagai guru di Kweekschool Gunung Sahari, Jakarta. Ia kemudian pindah ke HIK Lembang, lalu ke HIK Gubernemen Bandung, dan akhirnya bekerja di Sekolah Menengah Perguruan Rakyat, Jakarta. Aktivitasnya dalam Partai Nasional Indonesia membuatnya pernah dipecat sebagai guru. Sanusi Pane juga aktif dalam organisasi Jong Sumatra dan Gerindo.
Ia pernah menjadi redaktur majalah Timboel (1931–1933), harian Kebangoenan (1936), dan redaktur Balai Pustaka (1941). Sanusi Pane menjabat sebagai redaktur kepala di bagian buku Melayu bersama-sama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan. Ia juga mendirikan dan mengelola majalah Poedjangga Baroe dengan posisi sebagai pembantu umum.
Pandangan Sang Istri Terhadap Sanusi Pane
Dilansir dari badanbahasa.kemdikbud.go.id, Sanusi Pane dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Ia tidak pernah membanggakan prestasi yang dicapainya, meskipun karyanya patut dibanggakan. Dalam bukunya, J.U. Nasution pernah ingin menulis buku tentang karya Sanusi Pane, namun gagal mewawancarainya meskipun telah mencoba berkali-kali. Setelah bertemu, Nasution selalu mendengar jawaban yang sama: “Saya bukan apa-apa. Saya bukan apa-apa.”
Presiden Soekarno pernah ingin memberikan Satya Lencana Kebudayaan kepada Sanusi Pane, tetapi ia menolak. Istri Sanusi Pane merasa terkejut dengan penolakan tersebut. Sanusi Pane menjawab, “Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu, adalah semata-mata kewajibanku sebagai putera bangsa.”
Tokoh Pelopor Bahasa Indonesia yang Terlupakan
Selain sebagai sastrawan, Sanusi Pane juga merupakan tokoh di balik lahirnya Bahasa Indonesia. Perjuangannya mencapai titik terang saat Kongres Pemuda I di Batavia pada 1926. Dalam kongres tersebut, Sanusi Pane pertama kali mengusulkan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. Meski ada perdebatan antara M Yamin dan Muhammad Tabrani, usulan tersebut akhirnya diadopsi dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, sehingga Bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa persatuan dan diberi nama Bahasa Indonesia.
Kongres Bahasa Indonesia I dilaksanakan di Medan pada 28 Oktober 1954. Meski berjasa besar dalam pembentukan bahasa persatuan, Sanusi Pane kurang dikenal dibandingkan tokoh lain di bidang sastra. Oleh karena itu, namanya jarang dikaitkan dengan peran pentingnya dalam lahirnya Bahasa Indonesia.





