Permainan bulu tangkis modern memiliki sejarah yang panjang dan terus berkembang. Diketahui bahwa permainan ini telah dimainkan sejak abad ke-19, dengan Inggris mengklaim sebagai pengembangnya.
Perubahan Aturan Sistem Skor Bulu Tangkis
Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) resmi mengubah aturan sistem skor menjadi 3 x 15 – dengan format best of three. Dengan demikian, dalam satu game, seorang pemain setidaknya harus menang dalam tiga babak. Perubahan ini dilakukan untuk meningkatkan dinamika pertandingan dan daya tarik olahraga ini secara global.
Sistem skor yang sekarang, yaitu 3 x 21, telah menjadi standar di dunia bulu tangkis sejak 2006. Namun, BWF akan memensiunkan sistem tersebut dan menggantinya dengan sistem baru pada 4 Januari 2027. Usulan untuk mengganti sistem skor sudah diajukan selama satu dekade terakhir. Selain 3 x 15, BWF juga sempat menguji coba sistem 5 x 11.
Pengambilan keputusan untuk mengubah aturan dasar ini hanya tercapai dalam Rapat Umum Tahunan BWF pada Sabtu, 25 April 2026, di Horsens, Denmark. Menurut keterangan resmi PBSI, sebanyak 198 negara menyetujui usulan ini, sementara 43 negara menolak. Batas suara yang diperlukan adalah dua pertiga dari jumlah suara.
Delegasi PBSI diwakili oleh Wakil Sekretaris Jenderal, Wino Sumarno, dan Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri, Bambang Roedyanto. Perubahan ini dilakukan BWF demi tujuan meningkatkan dinamika pertandingan dan daya tarik bulu tangkis secara global. PBSI menyatakan akan segera melakukan kajian internal serta menyiapkan langkah-langkah strategis guna mengantisipasi perubahan ini.
Penyesuaian dalam program pembinaan dan persiapan atlet akan krusial menuju era sistem skor baru. “Kami akan mempelajari secara komprehensif dampak perubahan sistem skor ini terhadap pola permainan dan strategi atlet,” ucap Roedyanto dalam keterangan resmi PBSI. “PBSI berkomitmen untuk memastikan atlet Indonesia tetap kompetitif dan siap menghadapi implementasi kebijakan ini,” tambahnya.
Sejarah Permainan Bulu Tangkis
Dikutip dari Intisari Online, permainan bulu tangkis disebut sudah dilakukan anak-anak dan orang dewasa lebih dari 2.000 tahun lalu di India, Jepang, Thailand, Yunani, dan China. Di China, permainan yang disebut Jianzi melibatkan penggunaan kok tanpa raket tapi dengan kaki. Obyek permainan tersebut agar kok tidak menyentuh tanah.
Menurut Kompas.com, permainan tersebut sudah sering dimainkan. Orang-orang mengenal badminton dari sebuah rumah atau istana di kawasan Gloucester-Shire sekitar 200 kilometer sebelah barat London. Badminton House, nama istana tersebut dan menjadi saksi sejarah bagaimana olahraga tersebut mulai dikembangkan menuju bentuknya sekarang.
Di bangunan itu, sang pemilik Duke of Beaufort dan keluarga pada abad ke-17 menjadi aktivis olahraga tersebut. Duke of Beaufort bukanlah penemu permainan tersebut. Badminton hanya menjadi nama karena dari situlah mulai dikenal di kalangan atas dan menyebar.
Pada 1840-an dan 1850-an, keluarga Duke of Beaufort ke-7 paling sering menjadi penyelenggara permainan badminton. Lama-lama mereka bosan permainan yang itu-itu saja. Kemudian merentangkan tali di antara pintu dan perapian, bermain dengan menyeberangkan kok melewati tali itu. Itulah awal net. Pada akhir 1850-an mulailah dikenal jenis permainan baru.
Olahraga ini mendapatkan namanya yang sekarang pada 1860 dalam sebuah pamflet oleh Isaac Spratt, seorang penyalur mainan Inggris, berjudul “Badminton Battledore a new game” (“Battledore bulu tangkis, sebuah permainan baru”).
Menurut Encyclopaedia Britannica (2015), permainan bulutangkis dilakukan di lapangan atau rumput yang dimainkan dengan raket dan kok. Kejuaraan pertama Permainan bulu tangkis diciptakan oleh tentara Inggris di Pune, India pada abad ke-19, di mana dengan menambahkan jaring dan memainkan secara bergantian.
Kejuaraan bulu tangkis tidak resmi seluruh Inggris untuk pria diadakan pada 1899. Kejuaraan bulu tangkis untuk wanita diadakan pada 1820. Peraturan pertama bulu tangkis dilakukan pada 1877 oleh klub Badminton Batha, Inggris. Asosiasi atau federasi bulu tangkis Inggris dibentuk pada 1893.
Federasi Bulu Tangkis Internasional yang merupakan badan olahraga dunia dibentuk pada 1934. Bulu tangkis menjadi sebuah olah raga populer di dunia, terutama di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara, yang saat ini mendominasi olah raga ini. Di negara-negara Skandinavia bulu tangkis juga mendominasi.
Sejarah Permainan Bulu Tangkis di Indonesia
Sejarah bulu tangkis di Indonesia dimulai pada era 1930-an. Ada yang bilang pertama di Sumatera, ada yang bilang di Batavia atau Jakarta sekarang. Sejarah badminton di Indonesia berawal dari dua daerah jajahan Inggris, yaitu Malaysia dan Singapura yang disusupkan di Indonesia bagian barat, yakni di Sumatera sekitar tahun 1930.
Selain di Sumatera, ada juga yang menyebut bahwa sejarah badminton di Indonesia langsung dibawa ke Jakarta. Tiga tahun berselang, pada 1933, perkumpulan bulu tangkis pun mulai dibentuk di Jakarta. Perkumpulan paling populer pada masa itu adalah Bataviase Badminton Bond dan Bataviase Badminton League. Kemudian, kedua perkumpulan ini bergabung menjadi satu dengan nama Bataviase Badminton Unie.
Lebih lanjut, pada 1934, Indonesia menyelenggarakan sejumlah kejuaraan badminton di Pulau Jawa, yang mayoritas dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat. Lalu, pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, badminton mengalami perkembangan pesat karena suasana anti-barat yang dibuat oleh Jepang.
Salah satu bentuk anti-barat yang ditunjukkan Jepang adalah usulan penggantian nama badminton karena dianggap asing dengan istilah Indonesia. Menindaklanjuti usulan tersebut, ketua ISI bagian badminton, yaitu RMS. Tri Tjondrokusumo mengusulkan nama bulu tangkis sebagai pengganti istilah badminton. Usulan nama bulu tangkis pun diterima oleh masyarakat Indonesia.
Dalam mewujudkan perkembangan bulu tangkis di Indonesia, diselenggarakanlah kongres di Solo pada 18-20 Januari 1948. Hasil kongres tersebut adalah lahirnya satu badan olahraga bernama Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) yang diketuai oleh Mr. Widodo Sastradiningratan. Setelah itu, pada 4-6 Mei 1951, para tokoh bulu tangkis Indonesia menyelenggarakan kongres lanjutan di Bandung, Jawa Barat.
Hasilnya adalah terbentuk badan bulu tangkis tingkat nasional bernama Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada 5 Mei 1951. Pasca-pendirian PBSI, kongres pertama dilakukan untuk mendiskusikan mengenai aturan dan tujuan olahraga bulu tangkis di Indonesia.
Setelah memiliki induk resmi, bulu tangkis Indonesia mendaftar sebagai anggota resmi Badminton World Federation (BWF) pada 1953. Lebih lanjut, pada tahun 1982, Indonesia pertama kali menyelenggarakan kejuaraan bulu tangkis internasional bernama Indonesia Open. Sejak saat itu, Indonesia Open menjadi ajang turnamen tahunan yang selalu diselenggarakan oleh Indonesia.
Begitulah sejarah permainan bulu tangkis modern yang disebut dikembangkan oleh orang-orang Inggris itu.
