Penyebab Keluhan Kesehatan Penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) Masih Dicari
Setelah adanya laporan puluhan penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi makanan tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Gunungmanik, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka akhirnya memberikan pernyataan resmi. Kejadian ini terjadi pada Jumat (29/5/2026), dan sejumlah penerima manfaat mulai mengeluhkan kondisi kesehatannya beberapa jam setelah makan.
Pihak SPPG belum dapat menentukan apakah penyebab keluhan berasal dari makanan yang dibagikan atau faktor lainnya. Hal ini disebabkan karena mereka masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan keamanan makanan tersebut.
Kepala SPPG Gunungmanik, Dewi Andayani, menjelaskan bahwa hasil penelusuran sementara menunjukkan bahwa sebagian besar penerima manfaat tidak langsung mengonsumsi makanan MBG setelah diterima. Menurut dia, makanan yang dibagikan seharusnya segera dikonsumsi di tempat, bukan dibawa pulang dan disimpan dalam waktu lama.
“Padahal sejak awal kami sudah mengingatkan agar makanan dimakan di tempat, karena kondisinya masih segar dan tidak layak untuk disimpan terlalu lama,” ujar Dewi kepada para wartawan, Senin (1/6/2026).
Menurut Dewi, makanan yang telah diporsikan ke dalam ompreng idealnya dikonsumsi dalam rentang waktu empat hingga enam jam setelah disajikan. Namun berdasarkan hasil penelusuran, sebagian penerima manfaat baru mengonsumsi makanan tersebut pada sore hingga malam hari.
“Mayoritas yang mengalami keluhan itu mengonsumsi makanan pada sore bahkan di malam hari. Itu di luar waktu ideal mengkonsumsi yang kami anjurkan,” tambahnya.
Menunggu Hasil Uji Laboratorium
Meski demikian, pihak SPPG tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian tersebut. Sampel makanan telah dikirim untuk diperiksa di laboratorium, dan hasilnya masih menunggu proses analisis dari pihak berwenang.
“Kami belum bisa memastikan apakah sumber masalah berasal dari makanan atau faktor lain. Karena itu kami memilih menunggu hasil laboratorium sebelum mengambil kesimpulan,” kata Dewi.
Menu MBG yang dibagikan pada hari itu terdiri dari nasi putih, telur puyuh berbumbu, tumis labu siam dan jagung, serta tahu krispi. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap proses penyediaan makanan hingga distribusi kepada penerima manfaat.
Puluhan Penerima Manfaat Alami Keluhan
Data SPPG mencatat sedikitnya 22 penerima manfaat mengalami keluhan kesehatan berupa mual, muntah, dan diare. Mereka berasal dari kalangan siswa SMP, SMA, hingga tenaga pendidik.
Sebagian besar mulai mendatangi fasilitas kesehatan pada Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB atau beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. “Rata-rata mulai masuk ke Puskesmas Talaga pada dini hari. Gejala yang muncul berupa mual, muntah, dan diare,” tambah Dewi.
Ia memastikan seluruh biaya pengobatan penerima manfaat yang terdampak ditanggung oleh pihak penyelenggara dapur MBG. Saat ini kondisi para penerima manfaat dilaporkan telah membaik dan sebagian besar sudah kembali ke rumah masing-masing.
“Alhamdulillah seluruhnya sudah membaik. Yang sempat mendapatkan perawatan juga sudah pulang dan menjalani masa pemulihan,” katanya.
Operasional Dapur Dihentikan Sementara
Menyusul kejadian tersebut, operasional dapur MBG Gunungmanik untuk sementara dihentikan. Penghentian dilakukan setelah Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan surat teguran dan meminta proses evaluasi dilakukan hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
SPPG menyatakan siap mengikuti seluruh proses evaluasi dan memperbaiki setiap aspek yang diperlukan. “Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, distribusi makanan hingga edukasi kepada penerima manfaat mengenai waktu konsumsi yang aman,” ujar Dewi.
Tak lupa pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak atas peristiwa tersebut. “Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penerima manfaat dan keluarga yang terdampak. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” pungkasnya.




