Fenomena Spesies Invasif yang Berdampak Ganda

Kehadiran spesies asing invasif selama ini sering dikaitkan dengan ancaman serius bagi keseimbangan ekosistem. Namun, di kawasan tertentu, realitas di lapangan menunjukkan wajah lain dari fenomena tersebut. Di tengah tekanan terhadap keanekaragaman hayati, masyarakat lokal justru menemukan celah pemanfaatan yang menghadirkan nilai ekonomi dan sosial yang tidak bisa diabaikan.

Hasil penelitian kolaboratif antara lembaga penelitian dan universitas yang dipublikasikan pada 14 Maret 2025 dalam jurnal ilmiah Media Konservasi menunjukkan bahwa fenomena ini tidak hanya memotret dampak ekologis, tetapi juga menggali relasi kompleks antara masyarakat adat Tengger dengan tanaman invasif yang tumbuh di sekitar mereka.

Dalam kajian tersebut, para peneliti menekankan bahwa persoalan spesies invasif tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Di satu sisi, ia mengancam spesies lokal. Namun di sisi lain, keberadaannya telah terintegrasi dalam kehidupan masyarakat, baik sebagai sumber ekonomi, bahan pengobatan, hingga bagian dari praktik budaya yang sudah berlangsung lama.

Ancaman Ekologi yang Sering Tak Disadari Masyarakat

Penyebaran spesies asing invasif di kawasan taman nasional ini terjadi melalui berbagai jalur, baik secara alami maupun akibat campur tangan manusia. Dalam beberapa kasus, tanaman tersebut sengaja diperkenalkan karena memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti yang terjadi di berbagai belahan dunia dengan komoditas perkebunan.

Dalam makalah ilmiah tersebut, Endratno Budi Santosa dan Nindyasari menjelaskan bahwa dampak negatif spesies invasif terhadap ekosistem sering kali tidak disadari oleh masyarakat lokal. Mereka menuliskan, “Namun, dampak negatif ini kurang disadari oleh masyarakat setempat,” sebagaimana tercantum dalam publikasi penelitian 14 Maret 2025.

Kondisi ini menciptakan dilema yang tidak sederhana. Di satu sisi, konservasi menuntut pengendalian bahkan eradikasi spesies invasif. Namun di sisi lain, masyarakat telah bergantung pada tanaman tersebut untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, sehingga pendekatan yang terlalu kaku justru berpotensi menimbulkan konflik sosial.

Lebih jauh, para peneliti menegaskan bahwa diperlukan pendekatan yang lebih kontekstual dan berbasis riset untuk menjembatani kepentingan konservasi dengan realitas sosial masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar kawasan taman nasional.

Desa Ngadas dan Ranupani Jadi Laboratorium Sosial

Fokus penelitian dilakukan di dua desa enclave, yakni Desa Ngadas dan Desa Ranupani, yang berada di dalam kawasan taman nasional dan dihuni oleh masyarakat adat Tengger. Kedua desa ini menjadi contoh nyata bagaimana spesies invasif tidak hanya hadir sebagai ancaman, tetapi juga sebagai bagian dari sistem kehidupan lokal.

Metode penelitian yang digunakan cukup komprehensif, mulai dari tinjauan literatur berbasis database ilmiah hingga wawancara langsung dengan berbagai pemangku kepentingan. Informan yang dilibatkan mencakup pengelola taman nasional, pemerintah daerah, LSM, hingga kelompok masyarakat yang memanfaatkan tanaman invasif secara langsung.

Dalam kajian tersebut, para peneliti menegaskan bahwa relasi antara masyarakat dan spesies invasif bersifat erat dan kompleks. Mereka menyatakan, “Terlepas dari dampak buruknya terhadap keanekaragaman hayati dalam suatu ekosistem, keberadaan spesies asing invasif dapat menjadi berkah tersembunyi bagi masyarakat setempat,” tulisnya dalam penelitian tersebut.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pendekatan konservasi tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial. Tanaman yang dianggap masalah oleh ilmuwan, dalam praktiknya bisa menjadi solusi bagi masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan alam.

Adas dan Kirinyuh, Dari Gulma Jadi Sumber Ekonomi

Dua spesies yang menjadi fokus utama penelitian adalah adas (Foeniculum vulgare) dan kirinyuh (Chromolaena odorata). Keduanya dikenal luas sebagai tanaman invasif yang mampu tumbuh cepat dan mendominasi lahan, sehingga mengancam keberadaan flora asli.

Namun di tangan masyarakat Tengger, tanaman ini justru memiliki nilai guna yang tinggi. Para peneliti menjelaskan, “Tanaman tertentu memiliki fungsi tradisional yang penting bagi masyarakat untuk melengkapi upacara tradisional dan pengobatan tradisional,” tulis mereka dalam studi tersebut.

Adas, misalnya, telah lama digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit ringan seperti batuk, pilek, dan gangguan pencernaan. Bahkan, tanaman ini juga menjadi bagian dari industri modern, seperti dalam produksi minyak telon yang digunakan secara luas di Indonesia.

Sementara itu, kirinyuh diolah menjadi briket arang yang memiliki nilai ekonomi cukup menjanjikan. Para peneliti mencatat bahwa harga briket kirinyuh berkisar antara Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram. “Nilai total yang diperoleh bisa sangat besar, dengan bahan baku yang melimpah dari lahan seluas lebih dari 30 hektare,” tulis mereka.

Tidak hanya itu, daun kirinyuh juga memiliki nilai jual tersendiri. Dalam kondisi basah, harganya berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram, sementara dalam kondisi kering bisa mencapai Rp75.000 hingga Rp90.000 per kilogram. Potensi ini semakin besar dengan adanya dukungan wisata di kawasan Bromo yang memungkinkan pemasaran produk secara langsung kepada wisatawan.

Menuju Pengelolaan Integratif dan Berkelanjutan

Pemanfaatan spesies invasif oleh masyarakat membuka peluang baru dalam pengelolaan kawasan konservasi. Namun, tanpa pengaturan yang tepat, potensi ini tetap berisiko memperparah kerusakan ekosistem dalam jangka panjang.

Para peneliti menekankan pentingnya pendekatan integratif yang mampu mengakomodasi dua kepentingan sekaligus, yaitu konservasi keanekaragaman hayati dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mereka menyatakan, “Pada titik ini, pengelolaan alternatif yang lebih integratif di wilayah tersebut diusulkan sebagai jalan ke depan,” tulisnya.

Pendekatan ini tidak hanya menekankan pada pengendalian, tetapi juga pada pemanfaatan berkelanjutan yang berbasis ilmu pengetahuan. Artinya, spesies invasif tidak serta-merta harus dimusnahkan, melainkan dapat dikelola sebagai sumber daya dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem.

Dalam konteks yang lebih luas, fenomena di Bromo Tengger Semeru menjadi cermin bahwa solusi lingkungan tidak selalu bersifat tunggal. Di tengah kompleksitas hubungan antara manusia dan alam, justru diperlukan pendekatan yang adaptif, realistis, dan berpihak pada keberlanjutan jangka panjang.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version