Kondisi Lokasi Kecelakaan Maut di Muratara
Kerangka bus dan mobil tangki masih teronggok di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Kelurahan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Provinsi Sumatera Selatan. Aspal jalan yang meleleh juga masih terlihat. Sisa-sisa kecelakaan maut yang menewaskan 16 orang masih terlihat sehari pascakecelakaan. Dua kendaraan, yaitu Bus ALS dan truk tangki BBM, terbakar dan meledak.
Sebanyak 16 orang tewas akibat kecelakaan pada Rabu (6/5), termasuk 14 penumpang bus PO Antar Lintas Sumatera (ALS) dan 2 penumpang truk tangki BBM milik PT Seleraya. Pantauan Tribun Jambi kemarin pagi menunjukkan bahwa lokasi kejadian dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Sejumlah polisi berada di sekitar area kecelakaan meskipun hujan lebat mengguyur kawasan tersebut.
Bus ALS yang meluncur ke arah Jambi berada di titik awal saat kejadian, di sisi kanan jalan. Kondisi badan bus tampak hangus dan rusak parah akibat kobaran api. Sementara itu, truk tangki yang juga hangus berada di bagian sisi kanan jalan dalam posisi terbalik.
Kondisi lokasi kecelakaan dengan lingkungan sekitarnya terlihat mencolok. Di sekitar lokasi, aspal berubah warna akibat panas dan api yang membakar dua kendaraan. Sejumlah tanaman dan rumput hangus.
“Sejak kemarin dipasangi garis polisi, untuk penyelidikan,” ujar seorang warga desa setempat.
Suara Minta Tolong dari Lokasi Kecelakaan
Ledakan dahsyat disertai kobaran api pada Rabu siang mengejutkan warga kawasan depan Kejaksaan Negeri Muratara. Peristiwa itu memicu kepanikan. Api dengan cepat membesar dan menimbulkan korban jiwa.
Warga sekitar bernama Linda Alisa (25) kepada Tribun Jambi menyaksikan langsung kejadian tersebut dari awal. Rumah Linda berada tepat di depan lokasi ledakan.
“Sekitar jam 12 siang saya mau keluar rumah. Tidak lama kemudian terdengar suara ledakan, lalu api langsung membesar,” ujar Linda.
Menurutnya, warga sempat mendengar teriakan meminta tolong dari lokasi kejadian sesaat setelah ledakan pertama terjadi. Namun, situasi cepat berubah mencekam karena kobaran api terus membesar.
“Ada suara minta tolong, lalu terdengar ledakan lagi, setelah itu tidak terdengar lagi,” katanya.
Dalam kepanikan itu, sejumlah warga berupaya membantu korban sebelum petugas datang. Beberapa korban sempat dievakuasi menggunakan kendaraan pribadi menuju rumah sakit.
“Tiga orang sempat dibawa pakai mobil warga,” ucap Linda.
Dia menuturkan aparat kepolisian dan petugas pemadam kebakaran kemudian tiba di lokasi untuk melakukan penanganan. Proses pemadaman disebut berlangsung sekitar setengah jam hingga api berhasil dikendalikan.
Setelah api padam, petugas melakukan evakuasi korban dari lokasi kejadian.
Pengalaman Linda yang Syok
Linda mengaku kondisi di lokasi saat itu sangat memilukan dan membuat warga syok. “Banyak (jenazah) yang ini yang nggak utuh lagi gitu kan. Dari jam berapa ke jam berapa mungkin itu proses evakuasi? Nah kalau dari jam ke berapa itu mungkin kurang tahu kan,” ujarnya.
“Semua orang kaget karena situasinya memang berat untuk dilihat,” tuturnya. Ia juga mengaku masih mengalami trauma setelah menyaksikan langsung proses evakuasi hingga penanganan korban di lokasi.
“Sampai sekarang masih merasa ngeri karena melihat kejadian itu dari awal sampai selesai,” katanya.
Hingga kini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan terkait penyebab ledakan tersebut.
Dugaan Penyebab Kecelakaan
Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Selatan masih menyelidiki penyebab kecelakaan maut tersebut. Dirlantas Polda Sumsel, Kombes Pol Maesa Soegriwo, mengatakan dugaan sementara bus mencoba menghindari lubang di jalan sebelum kecelakaan terjadi. Namun, polisi belum bisa memastikan hal tersebut dan masih menunggu hasil penyelidikan tim.
“Keterangan kenek menyebutkan bus diduga menghindari lubang. Tapi itu belum bisa kami simpulkan. Karena itu kami datangkan tim Traffic Accident Analysis (TAA) dan siang ini tim dari Korlantas Polri juga akan turun melakukan pengecekan,” kata Maesa.
Menurut dia, hasil olah tempat kejadian perkara nantinya akan disandingkan dengan pemeriksaan dari Korlantas untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan. Maesa mengungkapkan, di sekitar lokasi kecelakaan ditemukan sejumlah lubang jalan dengan kedalaman sekitar 2 sentimeter, baik di bagian tengah maupun pinggir jalan.
“Memang ditemukan banyak lubang di sekitar lokasi, ada di tengah, kiri, dan kanan jalan. Itu bisa saja menjadi faktor penyebab, tetapi tetap harus diperkuat dengan bukti lain,” ujarnya.
Selain kondisi jalan, polisi juga mendalami kemungkinan faktor kelelahan pengemudi. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, bus ALS diketahui berangkat dari Pati, Jawa Tengah, pada 2 Mei 2026 pukul 15.00 WIB dengan sopir bernama Mali. Bus kemudian mengambil penumpang di Semarang dan Tegal sebelum tiba di Lampung pada 4 Mei 2026. Di Lampung, sopir berganti kepada Alip sekitar pukul 23.11 WIB sebelum melanjutkan perjalanan, hingga kecelakaan terjadi pada 6 Mei 2026 sekitar pukul 12.00 WIB.
“Bisa jadi sopir mengalami kelelahan atau microsleep, tapi itu juga masih kami dalami dengan bukti-bukti lainnya,” jelas Maesa.
Hingga kemarin, polisi belum menemukan bekas pengereman di lokasi kejadian, baik dari bus maupun truk tangki BBM. “Kami belum melihat adanya serpihan ataupun bekas rem di lokasi,” katanya.
Terkait kebakaran hebat yang terjadi setelah tabrakan, Maesa mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik.
Tim Labfor Ambil Sampel
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sumsel mengambil sejumlah sampel dari lokasi kecelakaan. Sampel yang diambil polisi antara lain, dua bungkus arang bekas kebakaran, sebotol cairan dari tangki, abu arang dari bus, swap. Kabid Labfor Polda Sumsel, Kombes Pol Witriadi mengatakan, sampel tersebut akan diuji secara laboratoris untuk memastikan penyebab kebakaran hebat yang menewaskan 16 orang itu.
“Tadi bersama tim Ditlantas kami sudah melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian kecelakaan. Dari hasil pemeriksaan, kami mengambil dua bungkus arang sisa kebakaran, satu botol cairan dari tangki, serta sampel arang dari bus berikut swipe dan pengecekan fisik,” kata Witriadi.
Menurut dia, seluruh barang bukti tersebut akan diperiksa lebih lanjut di Laboratorium Forensik Polda Sumsel guna memastikan kandungan cairan maupun sumber pemicu kebakaran. “Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan secara laboratoris di Bidlabfor Polda Sumsel. Hasilnya nanti akan kami sampaikan kepada penyidik lalu lintas,” ujarnya.
Witriadi menegaskan, pemeriksaan laboratorium diperlukan agar hasil investigasi berdasarkan fakta ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. “Pemeriksaan ini harus berdasarkan fakta dan hasil laboratoris. Karena itu kami perlu memberikan kepastian melalui uji forensik di laboratorium,” jelasnya.
Meski begitu, pihaknya belum dapat memastikan jenis cairan yang ditemukan di lokasi kejadian. “Kami hanya menyampaikan bahwa yang diambil adalah cairan dari tangki. Untuk memastikan secara spesifik kandungannya, nanti akan diketahui melalui peralatan di laboratorium forensik,” pungkasnya.
Disebut-sebut, ada tabung gas ditemukan di lokasi. Soal dugaan kebakaran karena tabung gas, dia belum bisa berkomentar. Polda Sumsel belum bisa berspekulasi soal penyebab kecelakaan Bus ALS vs truk tangki BBM, karena harus berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
Tidak Ada Korban dari Jambi
Penjaga loket bus PO Antar Lintas Sumatera (ALS) di kawasan Simpang Rimbo, Kota Jambi, memastikan tidak ada korban asal Kota Jambi dalam tragedi tabrakan maut di Muratara, Rabu (6/5). Ucok, penjaga loket Bus ALS, mengatakan bus yang mengalami kecelakaan bukan tujuan Kota Jambi, jadi tidak ada penumpang tujuan Kota Jambi.
“Bus itu rutenya lintas tengah Sumatera, jadi gak masuk Jambi. Kalau yang ke sini lewatnya lintas timur Sumatera,” ujarnya Rabu (6/5) malam.
Lebih lanjut, dia mengatakan bus yang mengalami kecelakaan tersebut rute dari Pulau Jawa dengan tujuan Medan, Sumatera Utara. Untuk diketahui, kecelakaan maut bus ALS vs truk tangki BBM terjadi di ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), tepatnya di wilayah Kelurahan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Bus dan truk tangki BBM hangus terbakar di tengah jalan.
