Sejarah dan Perkembangan Kerupuk Mireng di Banyumas
Kerupuk mireng, yang merupakan salah satu produk khas dari Kabupaten Banyumas, memiliki sejarah panjang yang terkait dengan ketahanan pangan dan budaya lokal. Salah satu pengusaha yang telah memproduksi mireng selama hampir 19 tahun adalah Muhdiro, warga Kedungwringin, Kecamatan Jatilawang, Banyumas. Usaha ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan masyarakat setempat.
Muhdiro mengatakan bahwa usaha mirengnya berawal dari nenek moyangnya yang membuat kerupuk untuk pelengkap soto Banyumas. Namun, ia lebih tertarik menciptakan mireng, yaitu kerupuk khas Banyumas yang terbuat dari tepung singkong atau tapioka berwarna kuning. Bentuknya mirip mi yang disusun melengkung dan memiliki tekstur ringan. Biasanya, mireng digunakan sebagai pelengkap hidangan soto, pecel, asinan, atau dimakan langsung sebagai camilan.
Proses Produksi yang Tradisional
Produksi mireng dilakukan secara manual oleh Muhdiro dan empat pekerja yang bekerja di rumah produksinya. Setiap hari, mereka melakukan beberapa tahapan, seperti mencampur adonan, mengepres, membentuk, mengukus, dan menjemur. Adonan dibuat dari bahan-bahan sederhana, yaitu tepung aci lokal, pewarna, dan garam. Harga mireng per bal untuk 5 kilogram adalah Rp65 ribu atau Rp13 ribu per kilogram.
Meski proses produksi masih menggunakan alat manual, Muhdiro tetap memperhatikan kualitas dan rasa. Ia mengatakan bahwa setiap hari, usahanya membutuhkan dana segar untuk membeli bahan baku dan membayar para pekerja. Ada tiga jenis upah yang diberikan kepada tenaga kerja: Rp100 ribu per hari untuk pembuatan adonan, Rp80 ribu per hari untuk pengepresan, dan Rp50 ribu per hari untuk pembentukan mireng.
Bantuan Permodalan KUR BRI
Sejak tahun 2022, Muhdiro mendapat bantuan permodalan lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI Unit Jatilawang sebesar Rp100 juta. Dana ini digunakan untuk membangun rumah produksi mireng secara terpisah di belakang rumah. Dengan bantuan tersebut, ia tidak lagi harus berutang saat membeli bahan baku. Selain itu, produksi mireng meningkat dari 150 kg menjadi 200 kg per hari.
Bantuan permodalan ini juga membantu Muhdiro dalam memperluas pasar. Produk ‘Duo Srikandi’ kini telah dipasarkan ke Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, Yogyakarta, dan Tegal. Meskipun sebelumnya hanya terbatas di pasar-pasar tradisional, kini mireng dijual melalui grosir dan sales yang mengambil barang dari rumah produksi.
Peran KUR BRI dalam Mendukung UMKM
Frengky Silalahi, Mantri BRI Unit Jatilawang, mengatakan bahwa Muhdiro memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan modal KUR BRI. Salah satu syaratnya adalah memiliki usaha produktif aktif selama lebih dari enam bulan dan memiliki izin usaha. Bantuan ini bertujuan untuk membantu UMKM agar tetap lancar dalam produksi dan berkembang.
Frengky juga memuji komitmen Muhdiro dalam membayar angsuran KUR BRI setiap bulan tanpa menunggak cicilan. Hal ini menunjukkan tanggung jawab dan keseriusan dalam menjalankan usaha.
Camilan Favorit yang Cocok untuk Berbagai Kesempatan
Nari Sutji, warga Kelurahan Kranji Kecamatan Purwokerto Timur, mengatakan bahwa mireng telah menjadi kerupuk favorit keluarganya. Selain tersedia dalam bentuk matang, Nari selalu menyimpan stok mireng yang belum digoreng. Ia mengatakan bahwa mireng cocok sebagai camilan di berbagai kesempatan, baik saat perjalanan ke luar kota maupun sebagai buah tangan.
Selain rasa orisinal, ada juga varian mireng rasa bawang yang disukai banyak orang. Beberapa teman dari luar Jawa yang sudah mencoba mireng mengatakan bahwa rasa mireng sangat enak dan bisa diterima oleh lidah mereka.
Budaya dan Ketahanan Pangan di Banyumas
Deskart Sotyo Djatmiko, seorang budayawan Banyumas, menjelaskan bahwa mireng merupakan produk utama wilayah tandus di tengah dan selatan Kabupaten Banyumas. Seperti halnya nasi oyek, mireng menjadi cadangan pangan yang awet dan dapat disimpan lama pada masa paceklik.
Pada era setelah kemerdekaan, masyarakat Banyumas mengandalkan singkong sebagai sumber makanan yang kemudian diolah menjadi berbagai produk makanan awet. Kerupuk mireng, yang dibuat dari tepung singkong, menjadi bagian dari asupan gizi masyarakat.
Sekarang, meskipun sistem pertanian semakin baik, mireng masih eksis di masyarakat Banyumas. Ini menunjukkan bahwa mireng yang awalnya merupakan bentuk ketahanan pangan kini berubah menjadi budaya.






