Buku bukan hanya sekadar bahan bacaan, tetapi juga senjata yang digunakan oleh tokoh-tokoh besar bangsa kita dalam berjuang melawan penjajah dan menumbuhkan kesadaran masyarakat. Banyak dari mereka tidak hanya membaca, tetapi juga memanfaatkan buku sebagai alat untuk mengubah wajah bangsa.
Buku Sebagai Senjata Perlawanan
Mochtar Lubis pernah menyatakan bahwa buku adalah senjata yang kuat dan efektif dalam melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial, termasuk nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan. Dalam sejarah Republik Indonesia, banyak tokoh pergerakan yang menggunakan buku sebagai senjata utama dalam mengusir penjajah.
Salah satu contohnya adalah Adam Malik. Meskipun pendidikannya hanya sampai tingkat dasar, bakat membacanya sangat luar biasa. Buku menjadi alat belajar autodidaknya, sehingga wawasan dan pemikirannya tidak kalah dengan mereka yang memiliki pendidikan tinggi. Bahkan di akhir hidupnya, ia mewariskan 6.000 buku ke dalam gudang, yang jumlahnya melebihi kapasitas rak yang ada.
Buku dan Kehidupan Tokoh-Tokoh Besar
Jika melihat para tokoh pemimpin bangsa, buku selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Bung Hatta dikenal sangat getol membaca buku-buku ilmiah yang tebal-tebal. Sementara itu, Bung Karno pernah menyatakan bahwa seluruh waktu yang ia miliki digunakan untuk membaca.
Dalam buku karya Rosihan, Musim Berganti, seorang mahasiswa Belanda bertanya kepada Bung Karno yang sedang dibuang ke Bengkulu pada tahun 1938. Ia bertanya mengapa Bung Karno begitu giat belajar. Bung Karno menjawab bahwa ia ingin menjadi presiden di negeri ini. Tujuh tahun kemudian, hal tersebut menjadi kenyataan.
Buku sudah menjadi teman dekat Bung Karno sejak masa mudanya ketika ia tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Tjokro memberinya buku-buku pengetahuan, yang membuat Soekarno muda menjadikan buku sebagai teman hidupnya. Menurutnya, sementara orang lain bermain, ia belajar dan mencari ilmu pengetahuan.
Dialog Dengan Para Pemikir Dunia
Bagi Bung Karno, membaca bukan hanya monolog, tapi dialog. Ia berbicara dengan tokoh seperti Gladstone, Sidney dan Beatrice Webb, Mazzini, Cavour, Garibaldi, Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin, Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand, dan Jean Jaurès. Setelah membaca banyak buku kaliber dunia, ia akhirnya tersadar oleh tulisan Swami Vivekananda, yang mengingatkannya untuk menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk diamalkan.
Tidak hanya Bung Karno yang membawa buku meski di pembuangan. Ketika dibuang ke Boven Digul, Bung Hatta membawa 16 peti bukunya. Buku-buku yang dibawanya saat pulang dari Belanda pun diangkut lagi ketika ia dipindahkan ke Banda Neira.
Kebanggaan Terhadap Buku
Buku juga menjadi kebanggaan bagi Hatta. Saat menjadi mahasiswa di Rotterdam, ia pergi ke Jerman dan keliling Eropa Tengah. Di Hamburg, ia memborong banyak buku di Toko Meissner. Sepulangnya ke Belanda, ia butuh tukang panggul untuk membawa bukunya ke kamarnya. Pengaturan buku itu membutuhkan waktu tiga hari. Ia merasa sebagai mahasiswa tingkat pertama yang memiliki buku begitu banyak.
Kegemaran membaca membuat ilmu Hatta melebihi rekan-rekannya. Haji Agus Salim memujinya karena telah membaca buku Baumhauer dalam waktu tujuh bulan, yang biasanya hanya bisa dicerna dalam waktu lebih lama.
Buku Dan Perkembangan Intelektual
Sjahrir juga dikenal sebagai kutu buku. Ia rela menyisihkan uang sakunya untuk membeli buku-buku yang akan mengasah visi intelektualnya. Visi itu kemudian dituangkannya dalam bentuk tulisan dan dikirimkan ke media. Di waktu luang, ia mengajari anak-anak muda untuk belajar membaca dan menulis.
Di kalangan intelektual, Sjahrir dikenal sebagai tokoh yang pandai meramu ilmu dari sekolah, bacaan, diskusi, dan debat, lalu mengaktualisasikannya ke dalam kancah aksi. Pergerakan “di atas tanah” dan “di bawah tanah” menjadi konsepsi relevan dengan kepentingan negara Indonesia merdeka.
Buku Membentuk Jiwa
Untuk angkatan yang lebih muda dari trio Soekarno-Hatta-Sjahrir, masih ada sosok penting yang berkontribusi dalam khazanah intelektual Indonesia, yaitu Soedjatmiko atau dikenal dengan nama Koko. Ia dikenal sebagai Sufi, Sing mbahurekso ilmu-ilmu sosial Indonesia, Dekan Intelektual Bebas Indonesia, Guru dari Para Guru Besar, dan Begawan.
Nama Koko lebih bergema di luar negeri daripada di Indonesia. Menurut Nurcholis Madjid, di kalangan intelektual Amerika, Koko dijuluki The Prince Indonesian Intellectual. Anne Elizabeth Murase dari Universitas Sophia menyebutnya sebagai “juru bicara yang gigih dan fasih bagi negara-negara berkembang”. Henry Kissinger, mantan dubes AS, pernah terpukau oleh ceramah Koko dan berkata singkat, “Mendengarnya seperti mendengar seorang Nabi.”
Buku Dan Perjalanan Intelektual Koko
Sejak kecil, Koko melakukan pengembaraan intelektual yang luar biasa. Bacaan yang paling memukau ketika masih di sekolah dasar adalah seri sejarah dunia dan kisah-kisah petualangan fiksi ilmiahnya Jules Verne. Ia juga menambahnya dengan bacaan filsafat tentang alam pikiran Yunani dan filsafat Barat.
Di sekolah menengah, bacaannya mulai “berat”, seperti karya Hegel, Karl Marx, dan Nietzsche. Dari rak buku ayahnya, Dr. K.R.T. Mangundiningrat, ia melahap buku kelas dunia macam Gandhi, Krishnamurti, serta Swami Vivekananda. Ketika dunia dilanda krisis minyak, Koko tak ketinggalan membaca Pengaruh Minyak Terhadap Politik tulisan Antoine Zischka.
Buku Dan Kehidupan Gus Dur
Setelah era Koko, tokoh yang lama bergumul dengan buku adalah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Mantan presiden RI pascareformasi ini waktu kecil pernah ditegur ibunya soal hobi membaca. Pada usia itu, Gus Dur sudah akrab dengan buku-buku yang agak serius, seperti filsafat, cerita silat, sejarah, hingga sastra.
“Saya ini enggak punya pacar. Teman main saya cuma buku dan bola,” celoteh Gus Dur mengingat masa itu. Sejak di SMEP, Gus Dur sudah menguasai bahasa Inggris. Bacaannya tentu yang berbahasa Inggris, semisal What is To Be Done-nya Lenin, Das Kapital karya Karl Marx, buku filsafat Plato, Thales, novel William Bochner, Romantisme Revolusioner karangan Lenin Vladimir Ilyich.
Selain itu dia pun membaca buku karya penulis terkenal macam Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. “Yang paling berat karya Faulkner,” kenang Gus Dur.
Buku Dan Perkembangan Karakter
Para tokoh tadi hanyalah etalase betapa besar peran buku dan literatur lain yang mereka baca dalam proses pengembangan karakter mereka. Umumnya, kegairahan membaca buku banyak pula kita temui pada tokoh-tokoh perintis kemerdekaan kita seperti I.J. Kasimo, Haji Agus Salim, Soepomo, Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Yamin, A.A. Maramis, Gafar Pringgodigdo, Arnold Mononutu, Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri.
Mereka adalah orang-orang yang gemar membaca dan menggunakan buku demi mencapai sukses dalam perjuangan. Lalu, bagaimana dengan generasi sekarang?





