Pertumbuhan Signifikan Produk Asuransi Perjalanan Syariah Tugu Insurance
PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk. (TUGU) atau Tugu Insurance melalui unit usaha syariah (UUS) mencatat pertumbuhan yang signifikan pada produk asuransi perjalanan t travella syariah sepanjang 2025. Produk ini dirancang khusus untuk jemaah haji dan umrah, memberikan perlindungan yang komprehensif selama perjalanan ibadah.
Direktur Pemasaran Asuransi Tugu Insurance Ery Widiatmoko menjelaskan bahwa pendapatan premi dari t travella syariah menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan, dengan kenaikan tahunan mencapai hingga 100%. Hal ini menunjukkan minat yang tinggi dari masyarakat terhadap produk asuransi perjalanan berbasis syariah.
Selain itu, Tugu Insurance telah memberikan perlindungan kepada hampir 50.000 jemaah dan bermitra dengan lebih dari 200 PPIU/PPIH di seluruh Indonesia. Meski pertumbuhannya kuat, kontribusi lini asuransi perjalanan terhadap total portofolio perusahaan saat ini masih relatif terbatas dibandingkan dengan lini bisnis utama lainnya. Namun, segmen ini memiliki potensi jangka panjang yang strategis.
Strategi Multi Saluran untuk Meningkatkan Penetrasi Pasar
Untuk meningkatkan penetrasi pasar dan pendapatan premi dari lini usaha ini, Tugu Insurance menerapkan strategi multisaluran dengan mengintegrasikan teknologi. Perusahaan juga terus mengembangkan saluran distribusi dan layanan digital, penguatan saluran distribusi baru, serta sinergi strategis dengan Asosiasi Travel Haji dan Umrah.
Selain itu, Tugu Insurance terus mengembangkan produk yang fleksibel sesuai kebutuhan jemaah. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat meningkatkan daya tarik dan penggunaan produk asuransi perjalanan syariah.
Risiko yang Sering Diklaim oleh Jemaah
Dalam penjelasannya, Ery menyebutkan bahwa risiko dengan beban biaya tertinggi (high severity) yang paling sering diklaim adalah risiko medis. Hal ini mencakup kebutuhan rawat inap dan pengobatan akut akibat infeksi saluran pernapasan, kelelahan ekstrem, hingga komplikasi penyakit bawaan yang dipicu oleh cuaca ekstrem dan aktivitas fisik yang berat.
Selain itu, terdapat risiko medis yang memerlukan biaya fantastis, yakni evakuasi dan repatriasi medis atau proses pemulangan jemaah ke tanah air dengan pengawasan tenaga medis khusus. Di titik puncaknya, asuransi juga memiliki tanggung jawab atas risiko kematian jemaah di Tanah Suci melalui pemberian santunan bagi ahli waris.
Risiko Ketidaknyamanan Perjalanan
Sementara itu, untuk risiko ketidaknyamanan perjalanan, nilainya lebih kecil dibandingkan risiko medis, tetapi risiko ini sering terjadi dan berdampak langsung pada kenyamanan ibadah. Ery menyebut gangguan jadwal seperti keterlambatan atau pembatalan penerbangan menjadi laporan yang paling sering diterima, disusul oleh risiko logistik berupa kehilangan atau kerusakan bagasi.
Kombinasi antara kompleksitas medis dan kendala logistik inilah yang menjadikan asuransi perjalanan sebagai instrumen proteksi mutlak bagi jemaah di tahun 2026. Dengan adanya produk seperti t travella syariah, jemaah haji dan umrah dapat merasa lebih aman dan nyaman dalam menjalani ibadah mereka.




