Peningkatan Kunjungan Wisatawan Membuka Peluang Baru di Kota Malang
Wisatawan mancanegara ke Kota Malang menunjukkan tren positif sepanjang musim liburan pertengahan tahun 2026. Peningkatan jumlah turis asing tidak hanya berdampak pada tingkat hunian hotel, tetapi juga menghidupkan kembali wacana pengoperasian becak listrik sebagai moda transportasi wisata yang ramah lingkungan.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang menilai keberadaan becak listrik dapat memperkaya pengalaman wisata, khususnya bagi turis yang ingin menikmati kawasan heritage dan pusat kota dengan suasana yang lebih nyaman. Sejumlah hotel bahkan telah menyatakan kesiapan untuk bekerja sama apabila layanan tersebut mulai dioperasikan.
Di sisi lain, tingginya aktivitas pariwisata selama liburan sekolah dan penyelenggaraan berbagai agenda nasional turut mendorong meningkatnya kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Meski demikian, wisatawan domestik masih menjadi penyumbang terbesar kunjungan ke Kota Malang.
Data Pariwisata Kota Malang Semester Pertama 2026
Data Pemerintah Kota Malang juga menunjukkan capaian sektor pariwisata terus bergerak positif pada semester pertama 2026. Ribuan wisatawan asing dan lebih dari satu juta wisatawan Nusantara tercatat berkunjung ke Kota Malang hingga akhir Juni.
Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki, mengatakan Juli memang menjadi periode high season bagi sektor pariwisata karena bertepatan dengan libur sekolah dan banyaknya kegiatan yang digelar di Kota Malang.
“Kalau Juli ini memang high season. Turis dari Tiongkok, Eropa, sampai Malaysia banyak yang masuk. Bertepatan juga dengan liburan sekolah dan berbagai event di Kota Malang yang menarik wisatawan,” ujar Agoes, Senin (6/7/2026).
Menurut Agoes, tren peningkatan wisatawan asing sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Mei 2026 meski saat itu situasi geopolitik dunia sempat memanas. Ia memperkirakan jumlah wisatawan mancanegara meningkat sekitar 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kurang lebih kenaikannya sekitar 20 persen dibanding tahun lalu. Tetapi sekitar 80 persen tetap wisatawan Nusantara,” katanya.
Becak Listrik sebagai Alternatif Transportasi Wisata
Sebagian besar wisatawan asing, lanjut Agoes, menjadikan Kota Malang sebagai titik transit sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi wisata di Malang Raya, seperti Gunung Bromo, Kota Batu, kawasan Pantai Selatan, hingga kawasan heritage Kayutangan.
Melihat tingginya minat wisatawan, PHRI kembali mendorong realisasi pengoperasian becak listrik di pusat Kota Malang. Menurut Agoes, banyak wisatawan asing yang mencari pengalaman berkeliling kota menggunakan becak. Karena itu, keberadaan becak listrik dinilai dapat menjadi alternatif transportasi wisata yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pengemudi becak.
“Ada wisatawan asing yang mencari becak. Makanya saya teringat lagi janji soal becak listrik. Sekarang mereka naik bentor, padahal maunya becak listrik supaya yang memiliki becak juga bisa lebih berdaya,” ujarnya.
PHRI mengaku telah berkomunikasi dengan Pemerintah Kota Malang terkait rencana tersebut. Bahkan, sedikitnya enam hotel berbintang telah menyatakan siap bermitra apabila layanan becak listrik mulai beroperasi.
“Kami sudah bicara dengan Pemkot. Ada enam hotel yang siap bermitra. Nantinya kami tawarkan becak untuk wisata heritage dan kuliner, termasuk ke museum, kawasan Jalan Ijen, alun-alun, hingga berhenti di Pasar Oro-Oro Dowo atau sekitar Stadion Gajayana,” katanya.
Hotel yang disebut telah menyatakan minat di antaranya Hotel Aria Gajayana, Hotel Pelangi, Hotel Trio, Shalimar Hotel, dan Grand Mercure Malang.
“Kami bahkan sudah mengirimkan foto-foto wisatawan yang mencari becak. Sebetulnya kami sudah siap, hanya saja kami masih kesulitan melacak keberadaan paguyuban becak listrik itu,” ujarnya.
Event Nasional Mendorong Peningkatan Pariwisata
Agoes menilai capaian sektor pariwisata Kota Malang selama semester pertama 2026 cukup menggembirakan. Selain musim liburan, berbagai konser musik dan agenda berskala nasional turut meningkatkan tingkat hunian hotel serta aktivitas restoran dan kafe.
“Sekarang cukup ramai karena banyak event. Konser-konser juga mendatangkan tamu. Hotel-hotel penuh, restoran dan kafe juga ikut terdampak positif. Yang penting Kota Malang tetap kondusif sehingga wisatawan merasa aman dan nyaman untuk datang,” pungkasnya.
Respons Wisatawan terhadap Wacana Becak Listrik
Di kawasan Kayutangan, wisatawan asal Tulungagung, Bagas Putra, mengaku menikmati suasana kawasan heritage Kota Malang. Namun, menurutnya, lalu lintas kendaraan yang cukup padat sedikit mengurangi kenyamanan wisata.
“Suara kendaraan tidak pernah berhenti, tapi kalau naik becak mungkin bisa lebih hening,” katanya.
Bagas mengaku belum mengetahui rencana pengoperasian becak listrik. Selama berada di Kota Malang, ia masih menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju hotel maupun lokasi wisata.
“Kalau memang ada becak, saya juga mau naik asal tarifnya juga tidak terlalu mahal,” ujarnya sambil tertawa.
Bagas yang masih duduk di bangku kelas II SMK itu mengaku telah berlibur di Kota Malang sejak Jumat malam dan dijadwalkan kembali ke Tulungagung pada hari yang sama.
“Hari ini saya pulang ke Tulungagung,” terangnya.
Data Kunjungan Wisatawan oleh Disporapar
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, belum memberikan tanggapan terkait rencana operasional becak listrik. Ia hanya menyampaikan data kunjungan wisatawan selama Januari hingga Juni 2026. Tercatat sebanyak 17.643 wisatawan mancanegara dan 1.456.302 wisatawan domestik berkunjung ke Kota Malang.
Pada 2026, Disporapar menargetkan 3.437.468 kunjungan wisatawan. Hingga akhir semester pertama, realisasi kunjungan telah mencapai 42,88 persen dari target tahunan.





