Gejala Umum yang Muncul pada Varian Cicada (BA.3.2) dari Omicron
Varian virus penyebab COVID-19 terus berkembang, membawa perubahan kecil yang bisa memengaruhi cara virus menular dan menimbulkan gejala. Salah satu varian yang sedang menjadi perhatian adalah “Cicada” dengan kode BA.3.2, bagian dari keluarga besar Omicron. Meski belum menjadi varian dominan secara global, tetapi memahami gejalanya tetap penting. Mengenali tanda-tanda awal bisa membantu mencegah penularan lebih luas.
Berikut ini adalah gejala umum yang sering dialami oleh penderita infeksi varian Cicada (BA.3.2):
-
Sakit Tenggorokan
Salah satu gejala paling sering dilaporkan pada varian turunan Omicron adalah sakit tenggorokan. Pada BA.3.2, pola ini tampaknya tetap konsisten. Varian Omicron cenderung menyerang saluran napas atas, sehingga gejala seperti tenggorokan kering, nyeri saat menelan, atau rasa “gatal” lebih dominan dibanding varian sebelumnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa replikasi virus Omicron lebih banyak terjadi di bronkus dibanding jaringan paru dalam, yang menjelaskan kenapa gejalanya terasa seperti flu atau radang tenggorokan. -
Batuk Kering atau Ringan
Batuk pada varian ini umumnya bersifat kering dan tidak terlalu berat, terutama pada kasus ringan. Ini berbeda dengan infeksi saluran napas bawah yang biasanya menghasilkan batuk berdahak. Batuk tetap menjadi salah satu gejala utama COVID-19, termasuk pada subvarian Omicron. Namun, karena intensitasnya sering ringan, banyak orang tidak langsung mengaitkannya dengan infeksi COVID-19, terutama jika tidak disertai demam tinggi. -
Pilek dan Hidung Tersumbat
Gejala seperti pilek dan hidung tersumbat lebih umum pada varian Omicron dan turunannya, termasuk BA.3.2. Menurut studi, varian Omicron menunjukkan pola gejala yang lebih menyerupai infeksi saluran napas atas dibanding varian sebelumnya seperti Delta. Akibatnya, banyak kasus awal terlihat seperti flu biasa, sehingga risiko penularan meningkat karena penderita tetap beraktivitas. -
Kelelahan dan Nyeri Otot

Rasa lelah yang tidak biasa dan nyeri otot juga sering dilaporkan. Ini merupakan respons tubuh terhadap infeksi virus dan aktivasi sistem imun. Kelelahan pada COVID-19 berkaitan dengan respons inflamasi sistemik, yang dapat berlangsung bahkan setelah gejala lain mereda. Pada beberapa orang, kelelahan ini bisa cukup mengganggu aktivitas harian meskipun gejala lain tergolong ringan. -
Demam (Tidak Selalu Tinggi)
Demam tetap menjadi gejala umum, tetapi pada varian Omicron, termasuk BA.3.2, suhu tubuh tidak selalu meningkat drastis. Beberapa pasien hanya mengalami demam ringan atau bahkan tidak demam sama sekali, terutama jika sudah divaksinasi. Ini membuat infeksi lebih sulit dikenali tanpa tes, karena tidak selalu disertai tanda klasik seperti demam tinggi. -
Sakit Kepala

Sakit kepala menjadi salah satu gejala yang sering dilaporkan pada infeksi COVID-19 varian Omicron. Sakit kepala pada COVID-19 berkaitan dengan respons inflamasi dan perubahan pada sistem saraf akibat infeksi virus. Gejala ini bisa muncul sejak awal dan terkadang menjadi tanda pertama sebelum gejala lain berkembang. -
Hilangnya Penciuman dan Perasa (Lebih Jarang)
Berbeda dengan varian awal COVID-19, kehilangan penciuman dan perasa (anosmia dan ageusia) lebih jarang terjadi pada Omicron dan turunannya. Perubahan ini kemungkinan terkait dengan perbedaan cara virus menginfeksi jaringan di saluran napas. Meski lebih jarang, tetapi gejala ini tetap bisa muncul pada sebagian kasus dan tetap menjadi indikator khas infeksi COVID-19.
Gejala varian Cicada (BA.3.2) secara umum tidak jauh berbeda dari varian Omicron lainnya, diketahui lebih ringan, tetapi lebih mudah disalahartikan sebagai flu biasa. Jadi, penting untuk tetap waspada. Memahami pola gejalanya membantu mengambil langkah lebih cepat, baik untuk isolasi maupun pemeriksaan, serta melindungi diri sendiri dan orang di sekitar.





