Puasa Asyura dan Kaitannya dengan Puasa Qadha
Puasa Asyura adalah salah satu puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Tahun ini, terdapat dua pendapat mengenai waktu pelaksanaan puasa tersebut. Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menyatakan bahwa 10 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada 25 Juni 2026. Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) berpendapat bahwa tanggal tersebut jatuh pada 26 Juni 2026.
Artinya, baik pada 25 Juni maupun 26 Juni 2026, umat Muslim dapat menjalankan ibadah puasa sunnah tersebut. Namun, muncul pertanyaan apakah seseorang boleh menjalani puasa Asyura sementara masih ada puasa wajib Ramadhan yang belum diganti.
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan wanita. Mereka yang sedang dalam masa haid, menyusui, atau baru melahirkan tentu tidak bisa menjalani puasa wajib Ramadhan. Di sisi lain, ketika bulan Muharram tiba, beberapa dari mereka ingin menjalankan puasa sunnah seperti Puasa Tasua atau Puasa Asyura.
Penjelasan Buya Yahya Mengenai Puasa Sunnah dan Puasa Wajib
Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, pernah memberikan penjelasan mengenai hukum puasa sunnah dan puasa wajib. Dalam video berjudul “Bolehkah Puasa Sunnah Muharram Tetapi Masih Punya Hutang Puasa Wajib?”, ia menjelaskan bahwa jika seseorang meninggalkan puasa wajib Ramadhan karena kesengajaan tanpa uzur yang jelas, maka ia dilarang melakukan puasa sunnah sama sekali.
“Karena waktu meninggalkan puasa (wajib Ramadhan) menantang, bandel,” ujar Buya Yahya. Ia menegaskan bahwa orang yang dengan sengaja meninggalkan puasa Ramadhan harus membayar utang puasanya terlebih dahulu sebelum bisa menjalankan puasa sunnah.

Namun, jika seseorang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur, seperti sakit, haid, atau melahirkan, maka ia boleh melaksanakan puasa sunnah seperti Puasa Tasua atau Puasa Asyura. Buya Yahya menjelaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, puasa sunnah sah dilakukan.
Ia mencontohkan, misalnya seseorang yang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur atau ingin melaksanakan puasa qadha di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, maka boleh dilakukan. Menurutnya, ada petunjuk yang lebih enak lagi: bayar satu dapat dua. Artinya, orang yang memiliki utang puasa Ramadhan bisa menjalankan puasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram untuk membayar utangnya sambil mendapatkan pahala sunnah.
Niat Puasa Asyura
Niat puasa Asyura dapat diucapkan pada malam hari sebelum fajar. Namun, menurut madzhab Syafi’i, puasa sunnah seperti Asyura juga boleh diniatkan di pagi hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Lafaz niat puasa Asyura:
“Nawaitu shauma ghadin an ada’i sunnatil asyura lillahi ta’ala.”
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.”
Jika berniat di pagi hari, lafalnya bisa:
“Nawaitu shauma hadzal yaumi an ada’i sunnatit Asyura lillahi ta’ala.”
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura hari ini karena Allah SWT.”
Niat Puasa Qadha
Mereka yang mengqadha puasa Ramadan juga wajib memasang niat puasa qadhanya di malam hari, setidaknya menurut Mazhab Syafi’i.
Adapun lafal niat qadha puasa Ramadhan:
“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.”
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”
Buya Yahya menegaskan bahwa niat puasa sunnah tidak boleh didouble dengan puasa fardu. Namun, puasa sunnah boleh digabung dengan puasa sunnah lainnya.




