Penutupan Kembali Selat Hormuz dan Dampak pada Dua Kapal Pertamina
Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu masuk minyak dunia, kembali ditutup oleh Iran. Penutupan ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dinilai tidak mematuhi kesepakatan yang telah dibuat. Keputusan tersebut mengakibatkan dua kapal PT Pertamina International Shipping (PIS), yaitu VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di Teluk Arab sejak awal Maret 2026.
Kedua kapal tersebut sempat berada dalam kondisi siap melintasi Selat Hormuz, namun penutupan kembali jalur tersebut membuat mereka belum bisa melanjutkan perjalanan. Meskipun sebelumnya Iran membuka kembali jalur pelayaran secara sementara, situasi kembali memburuk akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.
Fakta Mengenai Dua Kapal Pertamina yang Tertahan
-
Belum Bisa Melintasi Selat Hormuz
Hingga saat ini, kedua kapal Pertamina masih tertahan di Teluk Arab. PJS Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita, menyampaikan bahwa PIS terus memantau perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz. “Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian dan otoritas berwenang, sambil tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman,” ujarnya. -
Prioritas Utama Perusahaan
Prioritas utama dari PIS adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya. “Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif agar kapal Pertamina Pride serta Gamsunoro dapat segera melanjutkan pelayaran dengan aman,” tambah Vega. -
Muatan di Kapal
VLCC Pertamina Pride mengangkut kargo untuk kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro melayani pengangkutan untuk mitra pihak ketiga (non-Pertamina). Muatan ini sangat penting untuk menjaga pasokan energi nasional dan kebutuhan industri. -
Kondisi Awak dan Kru
PT PIS memastikan seluruh kapal dan kru dalam kondisi aman. Proses koordinasi dengan otoritas terkait terus dilakukan untuk memastikan keselamatan dan kelancaran operasional kapal.
Penutupan Kembali Jalur Selat Hormuz
Sebelumnya, Iran menyatakan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026), menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Namun, pembukaan ini tidak berlangsung lama karena konflik antara Iran dan AS kembali memanas. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyalahkan blokade laut oleh AS sebagai pemicu utama penutupan jalur tersebut.
Dalam pernyataannya, Angkatan Laut IRGC menegaskan larangan keras bagi kapal-kapal untuk bergerak di kawasan tersebut. “Tidak ada kapal yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia atau Laut Oman,” tegas IRGC. Mereka juga memperingatkan setiap kapal yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai musuh. “Mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran,” tambahnya.
Kondisi Terkini dan Harapan
Meski penutupan kembali Selat Hormuz menimbulkan tantangan, PIS tetap berkomitmen untuk memastikan keselamatan dan keamanan kapal serta kru. Dengan terus memantau situasi dan melakukan koordinasi dengan pihak berwenang, harapan besar diarahkan agar kondisi di jalur tersebut segera membaik dan memungkinkan kedua kapal untuk melanjutkan perjalanan.





