Ringkasan Berita
Jalan penghubung antara Desa Tenggak dan Desa Sribit di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, telah diperlebar sepanjang 2,148 kilometer. Jalur ini dikenal sebagai akses utama menuju kampung halaman Sri Suparni, istri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Kepala Desa Sribit, Sutaryo, menegaskan bahwa proyek pelebaran jalan sudah lama diusulkan oleh masyarakat setempat. Pelebaran jalan senilai Rp1,16 miliar dari Dana Alokasi Umum (DAU) APBD Perubahan Tahun Anggaran 2025 disebut tidak berkaitan dengan status Sri Suparni maupun keluarganya. Proyek ini dilaksanakan untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan masyarakat yang setiap hari melintas di kawasan tersebut.
Informasi tentang Sri Suparni
Sri Suparni adalah putri asli Dusun Semen, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Menurut Kepala Desa Sribit, Sutaryo, keluarga Sri Suparni telah lama dikenal masyarakat setempat. Meski telah merantau ke Papua dan kemudian menetap di Jakarta bersama suaminya, Sri Suparni hanya sesekali pulang kampung untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar.
“Orang tua Sri Suparni sudah meninggal. Saat Lebaran, dia biasanya sowan ke keluarga lebih tua,” tutur Sutaryo. Meskipun tinggal di luar daerah, hubungan Sri Suparni dengan kampung halamannya tetap terjaga melalui kunjungan keluarga pada momen-momen tertentu.
Sejarah Pengajuan Pelebaran Jalan
Sebelum proyek dilaksanakan, ruas jalan tersebut hanya memiliki lebar sekitar 4 hingga 5 meter. Kondisi ini kerap menyulitkan kendaraan yang berpapasan, terutama mobil, sehingga salah satu kendaraan harus mengalah atau menepi. Melihat tingginya aktivitas lalu lintas, pemerintah desa telah lama mengajukan usulan pelebaran jalan kepada Pemerintah Kabupaten Sragen.
“Itu kan jalan ramai, sudah sering sekali terjadi kecelakaan. Makanya sudah lama kami usulkan agar diperlebar,” ungkap Sutaryo. Menurutnya, kebutuhan pelebaran jalan lebih didorong faktor keselamatan dan kepentingan masyarakat luas daripada alasan lain.
Proyek yang dikerjakan sepanjang 2,148 kilometer tersebut memperlebar masing-masing sisi jalan sekitar satu meter. Anggarannya berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) APBD Perubahan Tahun Anggaran 2025 dengan nilai mencapai Rp1,16 miliar.
Penyangkalan Keterkaitan dengan Keluarga Menteri
Sutaryo yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sri Suparni menegaskan bahwa proyek tersebut bukan bentuk perlakuan khusus karena adanya keluarga pejabat negara di Desa Sribit. Ia menjelaskan usulan pelebaran jalan telah disampaikan sejak masa pemerintahan Bupati Sragen periode 2016–2026, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, namun belum memperoleh tindak lanjut saat itu.
“Itu (usul pelebaran jalan) sudah sangat lama. Dari zaman Bupati Bu Yuni, tapi tidak ada tindak lanjut. Pernah dulu rusak, tapi cuma ditambal aspal, tidak ada pelebaran,” beber Sutaryo. Menurutnya, proyek baru terealisasi ketika jalan tersebut masuk dalam prioritas pembangunan Dinas Bina Marga pada 2026.
“Jadi bukan karena ada keluarga pejabat yang sering pulang lewat ke sini. Bukan karena itu. Tidak ada hubungannya sama sekali. Cuma pas kebetulan saja dapat giliran anggarannya pas era Bupati Sragen sekarang,” tegas Sutaryo.
Ia juga menegaskan bahwa rutinitas Sri Suparni maupun suaminya yang sesekali pulang kampung tidak berkaitan dengan keputusan pembangunan infrastruktur tersebut.
Fungsi Jalan bagi Warga Sribit
Selain dikenal sebagai akses menuju kampung halaman Sri Suparni, jalan penghubung Tenggak–Sribit merupakan jalur utama masyarakat setempat. Ke arah barat, jalan tersebut terhubung dengan Jalan Raya Sragen–Gemolong. Sementara ke arah timur, warga memanfaatkannya untuk menuju pusat Kota Sragen dan berbagai fasilitas publik lainnya.
Karena itu, pelebaran jalan dinilai memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dibanding sekadar akses menuju kawasan permukiman tertentu.
Profil Sri Suparni
Sri Suparni dikenal sebagai perempuan asal Sidoharjo, Sragen, Jawa Tengah. Meski tidak banyak terekspos, ia memiliki peran penting dalam kehidupan pribadi Bahlil. Keduanya telah menikah dan dikaruniai lima orang anak, terdiri dari empat laki-laki dan satu perempuan.
Pertemuan Bahlil dan Sri bermula saat keduanya masih berkuliah di Papua. Mereka sama-sama aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dari aktivitas organisasi inilah hubungan keduanya berkembang menjadi kisah cinta. Bahlil mengenang pertemuan tersebut dengan gaya khasnya.
Ia menyebut perkenalan mereka terjadi saat dirinya menjadi pemateri, sementara Sri sebagai peserta dalam kegiatan organisasi. Hubungan itu kemudian berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Sri sendiri mengungkapkan bahwa mereka menikah di Sorong, Papua Barat Daya, yang juga menjadi tempat kelahiran anak pertama mereka.
Rumah tangga Bahlil dan Sri dikenal harmonis hingga kini. Di tengah kesibukan sebagai pejabat negara yang kerap mendapat sorotan bahkan kritik di media sosial, Sri tetap setia mendampingi sang suami. Penampilannya yang elegan di berbagai kesempatan juga kerap mencuri perhatian. Ia dinilai tampil sederhana namun berkelas, serta terlihat awet muda.
Tak hanya berperan sebagai istri dan ibu, Sri Suparni juga aktif mengembangkan diri. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Manajemen Usaha di Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pada masa pemerintahan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. Selain itu, Sri juga menorehkan karya melalui peluncuran buku berjudul Memahat Jejak Merawat Asa. Buku tersebut mendapat apresiasi langsung dari Bahlil yang berharap karya sang istri dapat memberikan inspirasi bagi banyak orang.





