Demonstrasi Masyarakat Garut Terkait Kerusakan Infrastruktur Jalan
Masyarakat Garut dan sekitarnya yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Banjarwangi Singajaya Peundeuy (Gema BSP) menggelar demonstrasi di Gedung DPRD Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada hari ini. Aksi protes ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah di wilayah Banjarwangi, Singajaya, dan Peundeuy.
Kondisi jalan tersebut telah memprihatinkan selama lebih dari sepuluh tahun. Warga setempat merasa tidak puas dengan perbaikan yang tidak kunjung terealisasi, meskipun banyak keluhan telah disampaikan sejak lama. Demonstrasi ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung kepada pihak berwenang.
Salah satu tokoh yang turut menyuarakan keresahan masyarakat adalah Firda Marsya Kurnia, vokalis sekaligus gitaris utama Voice of Baceprot (VoB). Marsya dikenal sebagai musisi metal berhijab asal Garut yang mendapatkan pengakuan internasional. Ia masuk dalam daftar BBC 100 Women 2024, yang menilai dirinya sebagai musisi yang nyaman menantang norma gender dan agama melalui perannya sebagai vokalis dan gitaris VoB.
Video yang diunggah oleh Marsya di media sosial ramai dibicarakan oleh masyarakat Garut. Dalam video tersebut, ia menyampaikan kekecewaan terhadap kondisi jalan yang sangat memprihatinkan, khususnya di jalan Banjarwangi-Singajaya. Marsya menegaskan bahwa warga tidak tahu ke mana larinya uang pajak mereka. Meskipun tidak menyebutkan adanya korupsi, ia menegaskan bahwa kondisi jalan yang rusak selama lebih dari sepuluh tahun merupakan bukti nyata ketidakpedulian pemerintah terhadap infrastruktur.
Sosok Firda Marsya Kurnia
Firda Marsya Kurnia, yang lebih dikenal sebagai Marsya, adalah vokalis sekaligus gitaris utama Voice of Baceprot (VoB), trio metal perempuan asal Garut, Jawa Barat. Ia lahir di Garut pada 27 Juni 2000 dan tumbuh di lingkungan pedesaan Singajaya. Bersama Widi Rahmawati pada bass dan Euis Sitti Aisah pada drum, Marsya membentuk salah satu kisah paling menarik dalam perkembangan musik rock/metal Indonesia: tiga perempuan berhijab dari lingkungan pedesaan yang kemudian tampil di panggung-panggung metal dunia.
Yang membuat Marsya menarik bukan semata-mata kemampuan bermain gitar atau karakter vokalnya. Ia adalah figur yang menggunakan musik sebagai medium untuk menyampaikan keresahan sosial, kebebasan berekspresi, kesetaraan, dan kritik terhadap ketidakadilan. Tumbuh di lingkungan Garut, sebuah wilayah yang jauh dari pusat industri musik Indonesia, menjadikan latar belakangnya sebagai bagian penting dari cerita VoB.
Lahirnya Voice of Baceprot
Voice of Baceprot terbentuk tepat di tahun 2014 ketika Marsya, Widi, dan Euis masih bersekolah. Awalnya jumlah siswa yang belajar instrumen jauh lebih banyak, tetapi karena berbagai kendala, termasuk persoalan izin orang tua, kelompok tersebut semakin mengecil hingga akhirnya tersisa tiga orang. Nama “Baceprot” berasal dari bahasa Sunda yang berarti berisik/noisy. Nama tersebut sangat cocok dengan karakter musik mereka sekaligus menjadi semacam pernyataan identitas: sesuatu yang dianggap “berisik” justru mereka jadikan suara.
Formasi Voice of Baceprot
- Marsya — vokal & gitar
- Widi Rahmawati — bass
- Euis Sitti Aisah — drum
Formasi tersebut tetap menjadi inti VoB hingga sekarang.
Profil Singkat
- Nama lengkap: Firda Marsya Kurnia
- Nama panggung: Marsya
- Lahir: 27 Juni 2000
- Asal: Garut, Jawa Barat
- Profesi: Musisi, vokalis, gitaris
- Band: Voice of Baceprot (VoB)
- Posisi di VoB: Vokal & gitar
- Genre utama: Heavy metal/rock dengan berbagai pengaruh subgenre
- Bahasa dalam karya VoB: Inggris dan Sunda, di samping konteks Indonesia dalam tema lirik
- Band aktif: Voice of Baceprot, sejak 2014





