Inovasi UMKM Lokal di Kota Kupang dengan Kopi Botol
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas perkantoran di Kota Kupang, Ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah produk UMKM lokal berhasil menarik perhatian warga setempat. Produk ini dikenal dengan nama Kopi Botol, yang hadir dengan konsep sederhana namun memiliki dampak yang signifikan.
Kopi Botol dijajakan oleh Fadal Karsan, atau lebih akrab disapa Fadal, di sekitar Jalan El Tari, dekat Kantor Gubernur NTT. Lapaknya selalu ramai setiap hari, baik dari pegawai kantor, pelajar, maupun pengendara yang melintas. “Ini namanya Kopi Botol, kak. Isinya 250 mililiter,” ujar Fadal saat berbincang dengan Infomalangraya.net pada Jumat (9/1/2026).
Yang membuat Kopi Botol berbeda adalah kemasannya. Setelah kopi habis diminum, botol tidak langsung dibuang. Konsumen diajak untuk memanfaatkan kembali botol tersebut sebagai tempat minum atau wadah lain. “Kalau kopinya sudah habis, botolnya bisa dipakai ulang. Bisa jadi botol air dingin atau isi kopi lagi. Jadi tidak langsung jadi sampah,” tambahnya.
Dengan harga terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per botol, Kopi Botol menawarkan berbagai varian rasa. Untuk kopi tersedia kopi hitam, kopi susu, karamel, hazelnut, dan vanila. Sementara menu non-kopi mencakup cookies, matcha, red velvet hingga bubble gum. “Kalau kopi, yang paling laku itu kopi susu sama hazelnut,” ujar Fadal.
Selain itu, kopi hitam juga punya dua pilihan, yakni americano pahit tanpa gula dan kopi hitam manis. Menariknya, Kopi Botol merupakan produk lokal yang diproduksi langsung dari Kampung Solot, Kupang. Bukan produk waralaba besar dari luar daerah. “Ini produk lokal, kak. Bukan dari Jawa atau merek besar,” ungkap Fadal.
Saat ini, Kopi Botol memiliki dua titik penjualan tetap, yakni di sekitar kawasan Giovanni dan area Kantor Gubernur NTT. Pada malam hari, penjualan dilanjutkan di kawasan Palapa menggunakan mobil box. Dari sisi ekonomi, usaha ini menunjukkan potensi menjanjikan. Dalam sehari, penjualan bisa mencapai 60 hingga 70 botol. Di lokasi tertentu, seperti sekitar area luar Kantor Gubernur, penjualan stabil di kisaran 30 botol per hari.
“Kalau ramai, bisa dapat sekitar 30 botol di satu titik,” ungkapnya. Pasarnya pun luas. Pegawai kantor menjadi pelanggan tetap, disusul pelajar dan pengguna jalan yang singgah membeli. Berdasarkan pantauan Infomalangraya.net, Kopi botol menjadi daya tarik yang paling banyak diminati oleh pegawai kantoran di saat siang.
Kopi Botol yang disimpan di sebuah freezer kecil yang disertai es batu sebagai pendingin minuman. Salah satu pembeli, Arumi mengatakan Kopi Botol menjadi caranya untuk mencintai lingkungan. “Tertarik karena pertama saya bisa pakai lagi botolnya untuk di rumah, lalu yang kedua saya tidak perlu takut tumpah dan bisa disimpan lagi kalau belum habis. Terakhir karena ukuran nya cukup banyak jadi bisa minuman satu botol untuk satu hari,” ujarnya.
Dari pernyataan Arumi banyak manfaat yang dirasakannya sebagai pembeli dan tidak membuatnya khawatir untuk tetap bisa menikmati minuman dan menjaga lingkungan. Kehadiran Kopi Botol menjadi contoh bagaimana UMKM lokal di Kupang mampu berinovasi, tidak hanya menciptakan produk yang laku di pasaran, tetapi juga membawa pesan keberlanjutan lingkungan.
Dari botol sederhana, tumbuh harapan besar bagi ekonomi kreatif dan kesadaran ramah lingkungan di Nusa Tenggara Timur.





