Persiapan Pernikahan yang Lebih Matang dengan Pemeriksaan Kesehatan
Pernikahan tidak hanya tentang hubungan emosional dan finansial, tetapi juga kesehatan. Dr Boyke Dian Nugraha menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum menikah atau premarital check-up untuk memastikan kondisi kesuburan pasangan. Langkah ini bertujuan agar pasangan suami istri dapat mempersiapkan kehamilan dengan lebih matang dan menghindari risiko yang tidak diinginkan.
“Seperti orang mau lomba lari, tentu harus ada persiapan. Begitu juga dengan kehamilan, perlu persiapan agar hasilnya bayi yang sehat,” ujarnya dalam video YouTube Kacamata dr Boyke.
Pemeriksaan Kesehatan Umum dan Khusus
Dalam pemeriksaan pranikah, kondisi kesehatan umum pria dan wanita perlu diperiksa. Mulai dari kadar hemoglobin (HB), tekanan darah, hingga kemungkinan adanya penyakit seperti diabetes. Selain itu, pemeriksaan khusus juga penting dilakukan. Pada pria, analisis sperma diperlukan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas sperma. Sementara pada wanita, pemeriksaan organ reproduksi melalui USG bisa membantu melihat kondisi rahim dan ovarium.
Tak hanya itu, pasangan juga disarankan melakukan skrining infeksi yang dapat memengaruhi kesuburan, seperti toksoplasma, rubella, hingga klamidia. Infeksi ini kerap tidak disadari, namun bisa berdampak pada peluang kehamilan.
Pola Hidup Sehat untuk Meningkatkan Kesuburan
Dr Boyke juga menyoroti pentingnya menjaga pola hidup sehat sebelum menikah dan merencanakan kehamilan. Pola makan bergizi, tidur cukup, olahraga teratur, serta manajemen stres menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesuburan. “Stres bisa memengaruhi hormon, bahkan membuat sel telur tidak berkembang dengan baik,” jelasnya.
Pasangan juga perlu memahami masa subur serta waktu yang tepat untuk merencanakan kehamilan. Jika setelah satu tahun (atau enam bulan bagi usia di atas 35 tahun) belum terjadi kehamilan, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.
Pengaruh Pola Makan dan Waktu Berhubungan Intim
Program hamil sering diwarnai berbagai tips dan metode, termasuk upaya memilih jenis kelamin calon bayi. Salah satu yang kembali ramai diperbincangkan adalah pernyataan seksolog dr Boyke Dian Nugraha terkait pengaruh pola makan hingga waktu berhubungan intim terhadap peluang memiliki anak laki-laki atau perempuan.
Menurutnya, jenis kelamin bayi pada dasarnya ditentukan oleh sperma. Sperma dengan kromosom Y akan menghasilkan anak laki-laki, sementara sperma dengan kromosom X akan menghasilkan anak perempuan. Kedua jenis sperma ini memiliki karakteristik berbeda. Sperma Y disebut lebih kecil, bergerak lebih cepat, dan cenderung bertahan di lingkungan basa. Sebaliknya, sperma X memiliki gerakan lebih lambat, tetapi lebih kuat dan mampu bertahan di lingkungan asam.
Tips untuk Memilih Jenis Kelamin Anak
Dr Boyke mengungkapkan, pasangan yang sedang menjalani program hamil dapat mencoba mengatur pola makan selama sekitar tiga bulan. Untuk mendapatkan anak laki-laki, pria dianjurkan lebih banyak mengonsumsi daging, sementara wanita memperbanyak sayur-sayuran. Hal ini dikaitkan dengan kondisi tubuh dan lingkungan reproduksi yang dianggap lebih basa, sehingga dinilai mendukung sperma Y. Sebaliknya, jika menginginkan anak perempuan, pola tersebut dibalik. Pria disarankan lebih banyak makan sayur, sedangkan wanita mengonsumsi lebih banyak daging agar kondisi tubuh dan vagina menjadi lebih asam, yang disebut lebih cocok bagi sperma X.
Waktu berhubungan intim juga disebut berpengaruh. Untuk peluang anak laki-laki, hubungan intim dianjurkan dilakukan tepat saat masa ovulasi, ketika sel telur dilepaskan. Dengan begitu, sperma Y yang lebih cepat diharapkan dapat segera membuahi sel telur. Sementara untuk anak perempuan, hubungan intim disarankan dilakukan sekitar dua hari sebelum ovulasi. Tujuannya agar sperma Y yang lebih cepat mati lebih dulu, sehingga sperma X yang lebih tahan dapat membuahi sel telur.
Peringatan dan Penutup
Meski demikian, dr Boyke menegaskan bahwa metode alami ini tidak dapat menjamin hasil sepenuhnya. Ia menyebut tingkat keberhasilannya berkisar 70 hingga 80 persen. “Masih ada kemungkinan 20–30 persen hasilnya berbeda, jadi tidak bisa disalahkan sepenuhnya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pasangan agar tidak terlalu memaksakan keinginan terkait jenis kelamin anak. Setelah kehamilan terjadi, hal terpenting adalah menerima dan mensyukuri apa pun yang diberikan. Dalam pesannya, dr Boyke menekankan bahwa anak, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki nilai yang sama. Ia juga menyinggung adanya preferensi budaya di beberapa daerah, namun hal tersebut sebaiknya tidak menjadi tekanan bagi pasangan.
“Apapun jenis kelaminnya, itu yang terbaik dari Tuhan. Yang penting anak sehat dan bisa menjadi kebanggaan keluarga,” tutupnya.





