Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menyelesaikan kunjungan kenegaraannya ke Prancis dan berhasil mencapai berbagai hasil penting, termasuk pembentukan forum bisnis tingkat tinggi. Kunjungan ini dilakukan sejak Selasa (26/5/2026) dan diakhiri dengan beberapa pertemuan strategis yang membahas kerja sama di berbagai bidang.
Pada Rabu (27/5/2026), Presiden Prabowo melaksanakan Salat Iduladha di Paris. Pada hari berikutnya, Kamis (28/5/2026), ia bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Les Invalides, Paris. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan terima kasih atas penerimaan yang baik dari pihak Prancis. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya telah tiga kali mengunjungi Prancis pada tahun ini.
Beberapa isu penting dibahas dalam pertemuan tersebut, seperti kerja sama di bidang pertahanan, energi bersih, pendidikan, riset, serta pelaksanaan perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Delegasi Indonesia yang mendampingi Prabowo terdiri dari putra Presiden, Didit Hediprasetyo; Menteri Luar Negeri Sugiono; Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya; Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto; Menteri Investasi Rosan Roeslani; serta Duta Besar RI untuk Prancis Mohamad Oemar.
Forum Bisnis dan Investasi Baru US$3,5 Miliar
Seiring dengan kunjungan Prabowo ke Prancis, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Mouvement des Entreprises de France (MEDEF) meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council (FI-HLBC). Forum ini mempertemukan sekitar 30 pimpinan industri dan perusahaan besar dari Indonesia dan Prancis dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai US$1,3 triliun atau sekitar Rp23,23 kuadriliun.
Prabowo menyambut baik pembentukan FI-HLBC dan menjelaskan bahwa forum ini akan membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan Prancis untuk semakin bergeliat berinvestasi di Indonesia. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menjelaskan bahwa FI-HLBC ditargetkan mampu meningkatkan perdagangan bilateral hingga tiga kali lipat pada 2035.
Selain itu, peluncuran forum bisnis tersebut juga menghasilkan empat kesepakatan komersial baru senilai US$3,5 miliar. Kesepakatan ini difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan.
Penguatan Kerja Sama Pertahanan
Dalam pertemuan dengan Prabowo, Presiden Macron menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat hubungan strategis terutama di bidang pertahanan. Macron menyebut Indonesia sebagai mitra penting strategis dari Indo-Pasifik. Di bidang pertahanan dan keamanan, Macron menyoroti eratnya kerja sama kedua negara yang ditandai dengan kedatangan pesawat tempur Rafale pertama di Indonesia.
Indonesia telah melakukan modernisasi alutsista dengan komitmen mengakuisisi 42 jet tempur Dassault Rafale buatan Prancis. Presiden Macron menyebut hal tersebut sebagai bukti nyata hubungan strategis yang terus berkembang.
Sikap Atas Stabilitas Timur Tengah
Dalam pertemuan antara Prabowo dan Macron, dibahas pula terkait komitmen kedua negara atas stabilitas di Timur Tengah. Macron memuji langkah Prabowo atas geliat aktif turut serta menjaga stabilitas kawasan. Dia juga menilai Indonesia dan Prancis memiliki visi yang sejalan dalam menjaga stabilitas kawasan serta mendorong penyelesaian damai atas berbagai konflik internasional.
Prabowo memuji langkah Macron di dunia internasional dan menjelaskan bahwa dirinya sependapat dengan Macron terkait stabilitas Timur Tengah. Menurut Prabowo, kondisi di Timur Tengah akan berdampak langsung ke energi dunia dan rantai pasok global.
Kerja Sama Pendidikan
Dalam pertemuan Prabowo dan Macron, kerja sama pendidikan pun ditekankan. Kedua pemimpin negara menegaskan bahwa pendidikan tinggi, penelitian, inovasi, dan mobilitas akademik sebagai salah satu prioritas utama kerja sama bilateral kedua negara. Terdapat Joint Declaration on Education, Research, and Mobility yang diadopsi kedua negara. Indonesia dan Prancis kemudian berkomitmen memperluas kolaborasi pada bidang pendidikan tinggi, riset, dan mobilitas akademik.
Forum Joint Working Group on Higher Education, Research, Innovation, and Entrepreneurship akan berlangsung di Angers, Prancis pada Juli 2026. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas teknologi, mendorong pengembangan industri masa depan, serta mempercepat hilirisasi hasil riset melalui kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan dunia usaha.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan bahwa penguatan kemitraan kedua negara di bidang pendidikan dinilai menjadi momentum strategis untuk memperluas jejaring internasional perguruan tinggi Indonesia sekaligus mempercepat transformasi pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.





