Di kawasan Pecinan Glodok, terdapat sebuah gereja Katolik yang memiliki desain arsitektur yang sangat unik dan khas dengan gaya Tionghoa. Gereja ini dikenal sebagai Gereja Katolik Santa Maria de Fatima.
Sejarah Singkat Pecinan Glodok
Pecinan Glodok di Jakarta tidak muncul secara alami, melainkan berawal dari kebijakan segregasi rasial yang diterapkan oleh VOC pada abad ke-18. Sebelum tahun 1740, warga Tionghoa tinggal dalam kota Batavia (kini disebut Kota Tua) dan menjadi bagian penting dalam perekonomian kota. Namun, setelah peristiwa pembantaian massal Geger Pecinan pada 1740, banyak warga Tionghoa tewas atau terluka. Akibatnya, ekonomi kota sempat lumpuh total.
VOC menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan tenaga kerja dan keterampilan dagang orang Tionghoa. Untuk menghindari risiko balas dendam, VOC kemudian mengeluarkan kebijakan wijkenstelsel (sistem zonasi permukiman berdasarkan etnis). Dalam kebijakan ini, orang Tionghoa dilarang tinggal di dalam tembok kota. Mereka dipindahkan ke kawasan luar kota yang berupa rawa. Kawasan ini akhirnya dikenal sebagai Glodok.
Lokasi Glodok dipilih karena berada di bawah jangkauan meriam benteng VOC, sehingga mudah diawasi. Hingga kini, Glodok masih menjadi pusat pemukiman Tionghoa.
Gereja Katolik Santa Maria de Fatima
Beberapa waktu lalu, Intisari melakukan penjelajahan ke kawasan Pecinan Glodok. Di antara keramaian pasar dan aroma kuliner khas, terdapat sebuah bangunan yang menarik perhatian. Jika bukan karena salib besar di atapnya, siapa pun mungkin mengira bangunan ini adalah kelenteng atau vihara.
Bangunan ini sebenarnya merupakan Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Orang-orang juga menyebutnya dengan nama Gereja Toasebio. Saat masuk ke dalam gereja, kita langsung disambut oleh arsitektur khas Tiongkok Selatan. Atap gereja berbentuk melengkung seperti ekor burung walet, yang mencerminkan gaya rumah bangsawan Tionghoa masa lalu.
Menurut informasi sejarah, bangunan ini awalnya adalah rumah tinggal seorang kapitan Tionghoa bernama Tjioe pada awal abad ke-19. Pada tahun 1953, kompleks rumah seluas hampir satu hektar ini dibeli oleh perwakilan gereja dengan harga Rp3 juta. Angka ini sangat besar pada masa itu dan dibayar secara angsuran.
Gereja ini didirikan oleh para imam misionaris Serikat Yesus (Jesuit) asal Austria dan Jerman yang pernah bertugas di daratan China namun harus mengungsi ke Indonesia akibat pergolakan politik.
Detail Arsitektur yang Unik
Dalam ruang utama gereja, terasa nuansa akulturasi yang kuat. Dari dalam, kita melihat pilar-pilar tinggi bergaya Eropa Barat. Sementara itu, tiang-tiang kayu besar berwarna merah menyala khas Tionghoa juga terlihat.
Beberapa detail bangunan sangat unik. Salah satunya adalah ukiran kayu di sekitar altar atau mimbar. Mimbar dan area tabernakel dihiasi ukiran kayu bergaya Tiongkok kuno dengan motif burung hong (phoenix), bunga krisan, dan naga yang melambangkan keagungan dan kekuatan.
Di area panti imam, terdapat patung Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria yang dilengkapi tulisan aksara Hanzi di atasnya. Di atas patung Yesus tertulis “耶穌基督” (Yēsū jīdū – Yesus Kristus), sementara di atas patung Bunda Maria tertulis “聖母馬利亞” (Shèngmǔmǎlìyǎ – Perawan Maria).
Selain itu, ada kantung kolekte yang didesain menyerupai bentuk koin kuno Tiongkok dengan sulaman doa dalam bahasa Mandarin.
Status Benda Cagar Budaya
Berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993, kompleks gereja ini resmi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya. Segala bentuk renovasi diperketat demi menjaga keaslian struktur agar jejak sejarah tidak hilang.
Nama “Santa Maria de Fatima” dipilih untuk menghormati peristiwa penampakan Bunda Maria kepada tiga anak gembala di kota Fatima, Portugal, pada tahun 1917. Tanggal peresmian paroki ini pun disesuaikan, yaitu pada 13 Oktober 1955.
Aktivitas Keagamaan di Gereja
Di halaman depan, terdapat replika Bukit Maria de Fatima. Gereja ini secara rutin menyelenggarakan misa khusus menggunakan bahasa Mandarin pada hari Minggu sore, sesuai dengan demografi umat di kawasan Pecinan Glodok. Selain itu, ada jadwal misa rutin dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, ada detail lain yang unik, yaitu menara lonceng. Pada masa awal berdirinya, menara lonceng gereja ini dilengkapi oleh lonceng tembaga besar yang didatangkan langsung dari Austria oleh Pastor Staudinger, SJ. Lonceng asli tersebut kini telah disumbangkan ke daerah misi di Pasaman, Sumatra Barat, dan digantikan dengan lonceng yang baru.
Kesimpulan
Gereja Santa Maria de Fatima bukan hanya sekadar bangunan tua untuk beribadah. Gereja ini juga menjadi monumen hidup yang membuktikan bahwa iman dan tradisi lokal tidak harus saling bertentangan, tetapi bisa berjalan beriringan membentuk dinamika harmoni visual yang indah di kota metropolitan Jakarta.





