Grace Natalie: Politisi PSI yang Tidak Dibantu Partai dalam Kasus Hukum

Grace Natalie, seorang politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), kini tengah menghadapi masalah hukum tanpa dukungan dari partainya. Ia dilaporkan atas dugaan provokasi dan ujaran kebencian terkait video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK). Laporan ini juga melibatkan eks politisi PSI, Ade Armando, serta pegiat media sosial, Permadi Arya atau Abu Janda.

Laporan ini dibuat oleh 40 organisasi masyarakat (ormas) Islam ke Bareskrim Polri pada Senin (4/5/2026). Menanggapi hal ini, Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menegaskan bahwa partainya tidak akan memberikan bantuan hukum secara kelembagaan karena kasus yang menimpa Grace adalah masalah pribadinya sendiri.

“Jadi secara kelembagaan kami pastikan kita tidak akan memberikan bantuan hukum secara kelembagaan kepartaian karena ini hal-hal yang harus dipertanggungjawabkan secara pribadi,” ujar Ali dalam konferensi pers di Kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi dari Grace Natalie terkait pelaporan dan sikap partainya. Di bagian lain, salah satu pelapor dari LBH Hidayatullah, Syaefullah Hamid, menjelaskan bahwa langkah hukum diambil demi menghindari ancaman pertikaian antar umat beragama.

“Kami menginginkan dari umat Islam terhadap dinamika ini bisa dikanalisasi dalam proses hukum, karena kita ingin menghindari jangan sampai ada respon negatif yang kemudian itu bisa berpotensi buruk terhadap kerukunan umat beragama di Indonesia,” jelasnya.

LBH Syarikat Islam, Gurun Arisastra, turut membeberkan beberapa barang bukti yang diserahkan. Contohnya, video penggalan ceramah JK versi Ade Armando yang diunggah di kanal YouTube Cokro TV pada 9 April 2026 lalu. Ada juga video penggalan Permadi Arya yang diunggah di akun media sosial miliknya pada 12 April 2026 serta video Grace Natalie pada 13 April 2026 yang juga diunggah di akun pribadinya.

Menurut Gurun, Ade Armando dkk diduga melakukan framing bahwa JK tengah membahas ajaran agama Kristen terkait syahid. Padahal, jika ditonton secara utuh selama 40 menit, JK justru sedang menjelaskan kekhawatiran psikologis masyarakat dan meluruskan kesesatan berpikir mengenai konsep syahid yang keliru.

“Sehingga bahwa Pak JK menyatakan bahwa cara berpikir syahid itu adalah keliru, itu salah, kalian semua masuk neraka, bukan masuk surga. Ini kan tidak disampaikan di publik, tidak utuh. Pernyataan ini terpotong,” ucap Gurun.

Perwakilan LBH PP Muhammadiyah, Gufron, menyebut tindakan Ade Armando dkk telah memancing kegaduhan. “Padahal kita tahu bahwa Indonesia ini sudah sangat rukun keberagamannya, sudah sangat rukun agamanya, tiba-tiba munculah ada suatu omongan-omongan yang memancing kegaduhan,” tutur Gufron.

Profil Grace Natalie

Grace Natalie Louisa lahir pada 4 Juli 1982. Ia dikenal sebagai mantan pembawa acara berita dan jurnalis. Dikutip dari Wikipedia, Grace Natalie mengenyam pendidikan menengah atas di SMAK 3 BPK Penabur, Jakarta. Setelah lulus ia mengambil jurusan akuntansi di Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kwik Kian Gie.

Semasa kuliah, ia kerap mengajar sebagai asisten dosen untuk sejumlah mata kuliah. Grace juga pernah aktif sebagai guru sekolah minggu di gereja. Perkenalannya dengan dunia jurnalistik dimulai ketika SCTV menyelenggarakan kompetisi SCTV Goes to Campus untuk mencari bibit-bibit muda berbakat.

Grace mengikuti kompetisi tersebut dan meraih kemenangan untuk wilayah Jakarta. Ketika ditandingkan lagi di tingkat nasional, ia menduduki peringkat lima besar. Sejak saat itu, pintu masuk ke dunia pertelevisian mulai terbuka baginya.

Karier Moncer

Setelah menyelesaikan kuliahnya, SCTV langsung merekrutnya. Di sana ia menjadi salah satu penyiar Liputan 6. Pada tahun-tahun pertamanya sebagai jurnalis ia banyak turun ke lapangan meliput berbagai peristiwa, mulai dari berita kriminal, politik, ekonomi, dan peristiwa-peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat.

Pada awalnya, ia mengaku sulit beradaptasi dengan dunia pertelevisian yang sangat dinamis dengan jam kerja yang tidak menentu. Namun itu semua tidak menyurutkan semangatnya, bahkan dari pengalaman-pengalaman inilah ia digembleng dan perlahan-lahan ia semakin jatuh cinta pada dunia jurnalistik.

Dalam waktu tiga tahun kariernya makin menanjak dan ia sempat berpindah-pindah stasiun TV. Dari SCTV ia pindah ke ANTV, dan tak lama kemudian dari ANTV ia pindah lagi ke TVOne mengikuti seniornya, Karni Ilyas. Ketika bekerja di TVOne ia mengikuti kursus kilat di Maastricht School of Management, Belanda dari bulan Januari hingga April 2009.

Grace pernah beberapa kali melakukan wawancara ekslusif dengan tokoh-tokoh internasional seperti misalnya Abhisit Vejjajiva (Perdana Menteri Thailand), Jose Ramos Horta (presiden Timor Leste), Steve Forbes (CEO Majalah Forbes), George Soros, dll.

Tak hanya bertugas di studio, Grace juga masih sering turun ke lapangan melakukan peliputan, termasuk peristiwa-peristiwa yang berisiko. Ia pernah ditugaskan meliput tragedi tsunami Aceh pada akhir 2004, meletusnya Gunung Talang di Sumatra Barat yang saat itu tengah berstatus “Awas”, dan konflik horizontal di Poso, Sulawesi Tengah.

Pada Agustus 2009 ia juga meliput penggerebekan teroris di Temanggung, Jawa Tengah di mana terjadi tembak menembak antara polisi dengan teroris. Menghadapi segala tantangan dalam pekerjaannya ia selalu berpedoman pada prinsip “Di mana pun aku berada, harus berkarya sebaik mungkin”.

Jadi Politisi

Di dunia maya, Grace adalah salah satu pembawa acara berita terfavorit. Popularitasnya ini ditunjukkan lewat gelar Anchor of the Year 2008 dan Runner Up Jewel of the Station 2009 versi blog News Anchor Admirer. Baru-baru ini ia juga terpilih sebagai salah satu dari 100 wanita terseksi 2009 versi FHM Indonesia.

Setelah delapan tahun berkiprah di dunia jurnalistik, pada bulan Juni 2012, Grace Natalie resmi meninggalkan tvOne untuk menjadi CEO Saiful Mujani Research and Consulting. Hasil survei SMRC tentang Pilkada, Pilgub, dan Pilpres kerap digunakan sebagai acuan media massa, partai politik, dan pengambil kebijakan.

Lewat pengalamannya di SMRC tersebut, istri dari Kevin Osmond ini berkeinginan untuk terjun ke dunia politik praktis. Setelah Pemilu 2014 berakhir, Grace pun ikut mendirikan Partai Solidaritas Indonesia atau lebih akrab disingkat PSI pada 2015. Ia sekaligus memimpin PSI pada usia 33 tahun.

Wanita berdarah Melayu-Tionghoa-Belanda ini menjadi ketua umum partai politik termuda di Indonesia.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version