Analisis tentang Kasus Ijazah Jokowi
Seorang analis komunikasi politik, Hendri Satrio, menyatakan bahwa Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), tidak akan menghentikan kasus tudingan ijazah palsu yang sedang berlangsung. Menurutnya, hal ini terjadi karena marwah atau harga diri Jokowi sebagai presiden telah terganggu.
Hendri Satrio, yang akrab disapa Hensat, menjelaskan bahwa Jokowi akan tetap mempertahankan harga dirinya hingga akhir. “Karena dia adalah presiden ketujuh, maka dia harus mempertahankan martabatnya sampai ujung,” katanya dalam wawancara dengan Catatan Demokrasi TVOne pada Kamis (19/2/2026).
Selain itu, Hensat menilai bahwa ada banyak pihak yang terlibat dalam kasus ini. Ia mengatakan bahwa selama ini muncul spekulasi bahwa ada orang besar yang mendukung pihak-pihak yang menuduh Jokowi memiliki ijazah palsu. Karena itu, Jokowi akan terus mengejar kasus ini hingga selesai.
Menurut Hensat, tidak ada satu pun rakyat Indonesia yang pernah memprediksi bahwa kasus ini akan berlarut-larut selama lebih dari 10 tahun. “Jadi jika Pak Jokowi diminta untuk menghentikan kasus ini sekarang, saya yakin dia akan menolak karena ini terkait dengan harga dirinya,” tambahnya.
Namun, Hensat juga menyatakan bahwa Jokowi akan menghentikan kasus ini jika Roy Suryo dan kawan-kawannya mengakui bahwa ijazah Jokowi asli. “Nah mungkin dia akan stop itu,” katanya.
UGM Telah Selesai Membela
Dalam wawancaranya, Hensat menyebutkan bahwa pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) sudah selesai membela Jokowi dan menyerahkan kasus ini kepada Jokowi sendiri. “Saya ngobrol dengan Prof. Uceng ya, sahabat saya tuh dia bilang memang sudah sering dibahas juga di antara guru besar UGM dan itu memang untuk UGM sudah selesai karena sudah diserahkan ke Pak Jokowi. Nanti ya terserah Pak Jokowi mau ditunjukkan atau tidak,” jelasnya.
Hensat berharap agar semua pihak jujur dalam kasus ini selama bulan Ramadan. “Biasanya kalau di bulan Ramadan tuh orang menjaga lisan gitu. Semoga saja terbuka semua di Ramadan ini,” katanya.
Ia juga melihat adanya fenomena baru di mana banyak selebriti muncul dan mencoba menutupi kasus-kasus lain. “Kalau saya sih menilainya ini saya sebagai warga negara ya. Begitu Pak Jokowi selesai jadi presiden ya sudah dia sudah jadi rakyat. UGM-nya sudah bilang itu asli. Tapi kan ini terus dikejar terus,” tambahnya.
Penjelasan tentang Dokumen Ijazah
Terkait klaim dokter Tifa bahwa ada enam specimen ijazah yang berbeda, Hensat menyatakan bahwa sesuai dengan KIP, dokumen tersebut sudah menjadi dokumen publik. Ia kembali meyakini bahwa kasus ini akan selesai jika Roy Suryo Cs mengakui bahwa ijazah Jokowi asli.
“Kalau saya menilainya kalau ini harus selesai maka Pak Jokowi akan iya ini selesai bila dari RRT bilang, ‘Pak Jokowi, kasus ini kita stop ya. Saya mengakui kalau ijazah ini ee asli gitu.’ Tapi kalau kemudian masih ngotot palsu, saya yakin Pak Jokowi pasti enggak akan mengiyakan untuk selesai karena ada marwah martabat dia yang terganggu sebagai presiden,” tukasnya.
Siapa Hendri Satrio?
Hendri Satrio lahir pada 23 Mei 1978. Pria yang akrab disapa Hensa ini dikenal sebagai analis komunikasi politik dan founder dari Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia KedaiKOPI.
Hensa mengenyam pendidikan sarjana di Universitas Padjadjaran dalam bidang Hubungan Masyarakat sejak 1995 hingga lulus di tahun 1999. Selama masa kuliah, ia bersama rekan aktivis mahasiswa lainnya mendirikan Lembaga Penerbitan Pers Mahasiswa (LPPM) dengan nama “dJatinangor”. Ia juga berperan sebagai chief editor media mahasiswa tersebut.
Pada tahun 2000, Hensa kembali menuntut ilmu di bidang manajemen komunikasi sampai tahun 2002 di Universitas Indonesia dan mendapatkan gelar masternya. Hingga di tahun 2017, pria yang sudah melanglang buana sebagai narasumber di program-program berita televisi ini memutuskan untuk kembali ke kampus guna mengambil gelar doktoralnya.
Tepat di tahun 2020, Hensa menyelesaikan doktoral di bidang riset dan manajemen dari Universitas Bina Nusantara, dan hasil disertasinya ia tuliskan ke dalam buku yang berjudul “MOMENTUM, Karir, Politik, dan Aktivitas Media Sosial”.
Hal menarik yang berhasil ditemukan oleh Hensa dari hasil disertasinya yang juga dituangkan ke dalam bukunya tersebut adalah, aktivitas media sosial bagi seorang politikus tidak berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas politikus tersebut.
Sebelum aktif sebagai analis komunikasi politik dan konsultan politik KedaiKOPI, Hensa pernah berkarir sebagai Communication Officer di The Johns Hopkins University. Kemudian ia meneruskan karirnya bersama Sampoerna Foundation sebagai Strategic Alliance Manager, serta di Carrefour Indonesia sebagai Senior Communication Manager.
Karirnya terus melejit hingga di tahun 2009 ia menjabat sebagai Communication and Marketing Head di Bank BTPN Syariah. Hingga pada tahun 2010 hingga 2012, Hensa meneruskan karyanya sebagai Public Relations Director di Ogilvy Indonesia.
Di tengah kesibukannya, Alumni SMAN 37 Jakarta ini pun masih aktif sebagai dosen di Universitas Paramadina Jakarta. Pada November 2024, Hensa terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum IKA FIKOM UNPAD untuk periode 4 tahun. Kepemimpinannya di IKA FIKOM UNPAD diharapkan membawa perubahan dan manfaat nyata bagi alumni dan almamater.
Sebagai analis komunikasi politik yang kerap melontarkan analisanya terhadap situasi politik terkini, Hendri Satrio berulang kali diundang untuk menjadi narasumber di berbagai program televisi seperti pada program Q&A dan Kontroversi di Metro TV, Lanturan di Kompas TV, dan program Apa Kabar Indonesia di TV One. Bahkan dirinya mendapatkan program khusus di kanal YouTube tvOneNews, dengan nama program SATGAS KELITIK.
Selain itu, Hendri Satrio acap kali muncul di beberapa kanal YouTube kenamaan tanah air seperti di kanal R66 Newlitics, Bambang Widjojanto, dan kanal YouTube lainnya. Hensa juga memiliki dua kanal YouTube pribadi miliknya, yakni Hendri Satrio Official dan Jangkrik Bos Ala Hensa.
