Sejarah dan Perkembangan Gang Tempe di Jakarta Selatan
Di sudut kawasan Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terdapat sebuah gang yang dikenal sebagai “Gang Tempe”. Di sini, aroma dari penggorengan tempe begitu harum dan menarik perhatian. Dapur penggorengan yang penuh dengan asap menggambarkan proses produksi keripik tempe yang dilakukan oleh para perajin setempat.
Gang ini unik karena sebagian besar warganya adalah perajin tempe dan memproduksi keripik tempe. Mayoritas warga berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah, yang membawa keahlian mereka dalam membuat produk olahan tempe. Lokasi tersebut berada di Jalan Aom, Kramat Pela Kebayoran Baru. Di pintu masuk gang terdapat plang berwarna biru dengan tulisan “Sentra Perajin Keripik Tempe Kramat Pela”.
Keripik tempe Mama Tina menjadi pionir di kawasan ini, lalu diikuti oleh keripik tempe Pak Joko, Timoti, dan lainnya. Bukan tanpa alasan—puluhan perajin tempe dan keripik tempe menggantungkan hidupnya di sana. Bagi pemilik Keripik Tempe Pak Joko, Joko Asori (57), gang ini bukan sekadar tempat bekerja, melainkan saksi perjalanan panjang kehidupan.
Joko Asori pertama kali menginjakkan kaki di kawasan itu pada tahun 1983, saat masih menjadi karyawan pembuat tempe. “Awalnya kami ikut bekerja dengan perajin lama, dari situ belajar, sampai akhirnya mandiri,” kata Joko Asori saat ditemui di rumahnya, Kamis (9/4/2026) siang.
Sejak saat itu, produksi tempe murni mulai berkembang, khususnya di RW 8. Dari hanya beberapa orang, jumlah perajin perlahan bertambah, seiring meningkatnya permintaan pasar. Namun, titik balik besar datang puluhan tahun kemudian.
Inovasi yang Mengubah Nasib
Pada tahun 2011, warga yang akrab disapa Hajjah Tina membawa ide baru sepulang dari rumah ponakannya di Jawa Tengah, dan mengenalkan olahan keripik tempe kepada warga. Awalnya, produk itu belum dikenal luas, tetapi seiring waktu, keripik tempe justru menjadi primadona.
“Dulu tempe murni yang jadi andalan, sekarang yang booming justru keripik tempe,” kata Joko. Inovasi sederhana itu menyebar cepat. Lingkungan yang mayoritas dihuni perajin tempe membuat proses adaptasi berjalan mulus. Warga saling belajar dan meniru teknik produksi, hingga kini setidaknya ada 37 perajin tempe dan keripik tempe di kawasan tersebut.
Meski berdekatan, mereka tidak saling berebut pelanggan. “Setiap perajin sudah punya pasarnya masing-masing, jadi tidak saling mengambil langganan,” ujarnya. Tak hanya memenuhi pasar lokal, sebagian produk dari Gang Tempe bahkan menembus pasar internasional. Beberapa perajin telah mengekspor keripik tempe hingga ke luar negeri.
“Sudah ada yang ekspor, bahkan sampai ke Asia dan Timur Tengah,” kata Joko. Keberhasilan itu tidak lepas dari kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perbankan dan koperasi. Joko Asori menjabat sebagai Ketua Kelompok Pengrajin Tempe Kramat Pela yang tergabung dalam Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Jakarta Selatan.
Menurutnya, keberadaan koperasi membantu para perajin dalam hal pembinaan hingga legalitas usaha.
Menjaga Kualitas
Di balik kesuksesan itu, para perajin kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Harga bahan baku seperti kedelai, minyak, dan plastik terus meningkat, sementara harga jual produk relatif stagnan. “Kedelai mahal, minyak mahal, tapi harga jual masih sama. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah,” kata Joko.
Meski demikian, para perajin tetap menjaga kualitas produksi. Salah satunya dengan memastikan kebersihan bahan baku dan proses produksi yang higienis. Berbeda dengan stigma lama, kini proses pembuatan tempe dilakukan dengan standar yang lebih baik, yakni menggunakan air bersih dari sumur bor, peralatan stainless steel, serta bahan bakar kompor, bukan kayu.
“Sekarang sudah higienis semua, tidak seperti dulu yang katanya kotor, kami jaga kualitas,” tegasnya. Menariknya, limbah produksi tempe tidak menjadi masalah lingkungan. Kulit kedelai justru dimanfaatkan sebagai pakan ternak oleh peternak sapi dan kambing.
“Bahkan mereka yang datang sendiri untuk mengambil, jadi tidak terbuang,” kata Joko.
Regenerasi dan Realita
Di tengah geliat industri rumahan ini, muncul tantangan lain, yaitu regenerasi. Tidak semua anak muda tertarik melanjutkan usaha tempe yang identik dengan kerja keras dan proses panjang. Pembuatan tempe memang tidak sederhana. Dari perebusan kedelai hingga fermentasi, seluruh proses bisa memakan waktu berhari-hari.
“Anak muda sekarang banyak yang kurang sabar, padahal ini usaha yang bisa menjanjikan,” ujar Joko Asori. Meski begitu, masih ada segelintir generasi muda yang memilih kembali ke usaha ini, bahkan setelah mencoba pekerjaan lain di sektor formal.
Harapan Joko sederhana, agar usaha tempe tetap bertahan dan mendapat perhatian pemerintah, seperti subsidi kedelai yang pernah diberikan pada akhir 1990-an. “Dulu ada subsidi, sekarang kami benar-benar mandiri,” katanya.





