Pertumbuhan kinerja emiten konstruksi di tahun 2025 menunjukkan perbedaan yang signifikan antara perusahaan swasta dan BUMN karya. Kinerja emiten konstruksi swasta tercatat lebih unggul, sementara sebagian besar emiten BUMN karya masih mengalami kerugian. Hal ini menjadi indikasi bahwa strategi dan fokus proyek yang diambil memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
Kinerja Emiten Konstruksi Swasta di Tahun 2025
PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan pada tahun 2025. Pendapatan perusahaan naik menjadi Rp 3,90 triliun, meningkat 26,35% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat drastis, yaitu menjadi Rp 414,39 miliar, atau naik 56,09% secara tahunan dari Rp 265,42 miliar pada 2024.
Sementara itu, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) juga menunjukkan pertumbuhan positif. Pendapatannya mencapai Rp 3,61 triliun pada tahun 2025, tumbuh 7,1% YoY dibandingkan Rp 3,37 triliun pada 2024. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 115,1% YoY menjadi Rp 175,52 miliar, dari Rp 81,60 miliar pada 2024.
Kinerja Emiten BUMN Karya di Tahun 2025
Di sisi lain, kinerja emiten BUMN karya masih dalam kondisi merah. Beberapa perusahaan seperti PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) membukukan peningkatan rugi bersih di tahun 2025.
WSKT membukukan rugi bersih sebesar Rp 3,92 triliun di tahun 2025, naik 51,71% secara tahunan dari rugi bersih Rp 2,58 triliun di 2024. Sementara itu, PTPP mengalami kenaikan rugi bersih hingga Rp 6,07 triliun, naik 298,99% dari rugi Rp 1,52 triliun pada tahun sebelumnya. ADHI mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 5,4 triliun, jauh lebih tinggi dari rugi Rp 86,75 miliar pada 2024. WIKA juga mengalami peningkatan rugi bersih sebesar 328,30% YoY menjadi Rp 9,7 triliun.
Alasan Kinerja Swasta Lebih Unggul
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Alexander Axell menyatakan bahwa kinerja emiten konstruksi swasta lebih unggul karena fokus pada proyek high-quality seperti data center dan kawasan industri. Proyek-proyek ini memiliki margin yang lebih tinggi serta pembayaran yang lebih cepat, sehingga memberikan keuntungan lebih besar bagi perusahaan.
Target Kontrak di Tahun 2026
Untuk tahun 2026, para emiten konstruksi masih memiliki target yang ambisius. TOTL menargetkan perolehan kontrak baru sebesar Rp 5 triliun, dengan kontrak yang telah dicapai sejauh ini mencapai sekitar Rp 2,60 triliun. Sementara itu, WIKA menargetkan nilai kontrak baru melebihi Rp 20 triliun di tahun ini.
Namun, Alexander mengingatkan bahwa isu utama bukanlah permintaan, melainkan eksekusi. Kemampuan dalam mengubah tender menjadi proyek nyata akan menjadi tantangan utama, terutama dalam situasi makro yang semakin ketat.
Dampak dari Perkembangan Ekonomi dan Geopolitik
Sentimen positif untuk emiten konstruksi datang dari boom data center dan investasi produsen electric vehicle (EV) seperti BYD di kawasan industri. Namun, tekanan juga berasal dari efisiensi anggaran infrastruktur yang dialihkan ke program makan bergizi gratis (MBG) dan Danantara.
Konflik geopolitik di Timur Tengah juga berdampak pada kinerja emiten konstruksi. Biaya konstruksi naik 3-8% sejak Februari 2026 akibat lonjakan harga baja, semen, dan aspal lantaran gangguan di Selat Hormuz. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) bahkan sudah mengajukan eskalasi kontrak.
Prospek untuk Tahun 2026
Alexander melihat bahwa TOTL tetap unggul di antara peers emiten konstruksi lainnya karena portofolio defensif terhadap risiko fiskal dan geopolitik. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa kinerja BUMN karya bisa membaik jika mereka lebih selektif dalam mengambil proyek dan menjaga margin yang lebih sehat.
Selain itu, ada rencana margin BUMN karya yang ditargetkan rampung akhir tahun ini. Hal ini bisa menjadi sentimen positif dari efisiensi biaya. Inflasi yang terkendali, potensi aliran dana asing masuk ke BUMN, serta keberlanjutan proyek strategis nasional (PSN) juga bisa meningkatkan kinerja serta likuiditas saham emiten konstruksi pelat merah.
Namun, Nafan tetap menyarankan untuk “wait and see” terhadap saham emiten konstruksi, baik swasta maupun BUMN karya, mengingat adanya tantangan dari dinamika konflik di kawasan Timur Tengah.





