Sejarah dan Keunikan Gua Selomangleng di Kota Kediri
Gua Selomangleng yang terletak di lereng Gunung Klotok, Kota Kediri, memiliki sejarah panjang yang terkait dengan legenda dan nilai budaya. Gua ini dikenal sebagai tempat pertapaan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan. Dengan tiga ruangan yang penuh dengan relief Buddha, kepala naga, hingga relief tengkorak, gua kuno ini tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga masih digunakan untuk ritual dan tirakat.
Lokasi dan Asal Usul Nama Gua Selomangleng
Gua Selomangleng berada di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Lokasinya berada di lereng bukit dengan akses jalan yang mudah dijangkau dari pusat kota. Nama “Selomangleng” berasal dari bahasa Jawa, yakni “selo” yang berarti batu dan “mangleng” yang berarti miring. Hal ini merujuk pada posisi batu besar pembentuk gua yang tampak miring di lereng bukit. Gua ini berada sekitar 40 meter di atas permukaan tanah terendah di kawasan tersebut.
Diduga Berasal dari Masa Kerajaan Kahuripan
Menurut sumber sejarah, Gua Selomangleng diduga merupakan peninggalan masa Kerajaan Kahuripan pada era pemerintahan Raja Airlangga. Kerajaan ini kemudian terbagi menjadi Kerajaan Panjalu atau Kediri dan Kerajaan Jenggala. Dalam kisah sejarah, Raja Airlangga memiliki putri bernama Sanggramawijaya Tunggadewi yang memilih meninggalkan kehidupan istana dan menjalani pertapaan di Gua Selomangleng. Setelah menjadi pertapa, ia dikenal dengan nama Dewi Kilisuci.
Kisah Legenda Dewi Kilisuci
Selain kisah sejarah kerajaan, Gua Selomangleng juga lekat dengan legenda yang berkembang di masyarakat Kediri. Dewi Kilisuci dikenal sebagai putri cantik yang banyak dipinang para ksatria. Salah satu kisah terkenal adalah legenda Lembu Suro dan Mahesa Sura dari Goa Kisondo, Jawa Tengah, yang ingin mempersunting sang putri. Namun, pinangan tersebut berakhir tragis setelah keduanya disebut tewas akibat tipu daya sang putri dan tertimbun di kawasan Gunung Kelud.
Arsitektur Gua dan Relief Kuno

Secara fisik, Gua Selomangleng memiliki bentuk yang cukup unik karena dipahat langsung dari batu andesit hitam berukuran besar. Menurut sejumlah sumber sejarah, gua ini diduga merupakan tempat ibadah sekaligus pertapaan pada masa kuno. Dugaan tersebut diperkuat dengan adanya dua relief Buddha di dalam gua yang menunjukkan pengaruh ajaran Buddha pada masa lampau. Bangunan gua memiliki tiga ruangan dengan berbagai relief yang menghiasi dinding bagian luar maupun dalam.
Pernah Digunakan sebagai Pemakaman Terbuka
Relief-relief yang terdapat di Gua Selomangleng juga menarik perhatian para arkeolog dan pemerhati sejarah. Arkeolog Dwi Cahyono menafsirkan bahwa Gua Selomangleng merupakan gua buatan manusia yang dahulu digunakan sebagai tempat pertapaan. Beberapa relief di dinding gua menunjukkan kemungkinan bahwa kawasan sekitar Gua Selomangleng pernah digunakan sebagai lokasi pemakaman terbuka pada masa lampau.
Masih Digunakan untuk Ritual dan Tirakat
Selain menjadi destinasi wisata sejarah, Gua Selomangleng hingga kini juga masih digunakan untuk kegiatan spiritual seperti ritual, meditasi, dan tirakat. Suasana mistis terasa kuat karena lokasi gua berada di tengah pepohonan rindang dengan akar-akar besar yang membelit, serta batu andesit besar di sekitar kawasan. Di bagian depan kawasan gua terdapat patung Dwarapala yang dipercaya masyarakat sebagai penjaga tempat suci.
Destinasi Wisata Sejarah di Kediri
Kini, kawasan Gua Selomangleng berkembang menjadi salah satu objek wisata sejarah dan budaya di Kota Kediri. Pengunjung dapat mengunjungi Museum Airlangga yang menyimpan berbagai koleksi benda purbakala, arca, dan peninggalan kerajaan-kerajaan kuno. Di kawasan wisata juga terdapat pura yang hingga kini masih digunakan umat Hindu sebagai tempat ibadah.
Ancaman terhadap Kelestarian Situs
Meski menjadi salah satu situs bersejarah penting di Kediri, keberadaan Gua Selomangleng dinilai masih memerlukan perhatian lebih dalam hal pelestarian. Keberadaan fasilitas hiburan modern di sekitar kawasan juga dianggap berpotensi mengurangi nilai historis dan keaslian situs apabila tidak dikelola dengan baik. Pelestarian Gua Selomangleng dinilai penting agar situs sejarah tersebut tetap terjaga dan dapat menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi mendatang.





